Kamis, 28 Jan 2021
baliexpress
Home > Bisnis
icon featured
Bisnis

Kelompok Tenun di Tampaksiring Dilatih Membuat Pewarna Alami

30 November 2020, 02: 30: 59 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Kelompok Tenun di Tampaksiring Dilatih Membuat Pewarna Alami

ALAMI : Proses pewarnaan benang tenun dengan bahan alami, di Banjar Pesalakan, Desa Pejeng Kangin, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Minggu (29/11). (istimewa)

Share this      

GIANYAR, BALI EXPRESS – Kelompok Tenun Sari Bhakti di Banjar Pesalakan, Desa Pejeng Kangin, Kecamatan Tampaksiring, kini tak perlu lagi beli bahan pewarna, sekaligus bisa mengurangi biaya produksi.

Pasalnya, mereka telah mengetahui cara mewarnai benang bahan tenun menggunakan bahan alami dari beberapa tumbuh-tumbuhan yang gampang dicari di desa.

Kelihan Dusun Pesalakan, Desa Pejeng Kangin I Made Astawa menjelaskan, kelompok tenun sebelumnya memang sudah biasa menggunakan  pewarna alami. Hanya saja tidak semua warna, melainkan warna-warna yang lumrah.

“Sebenarnya sudah menggunakan sebelumnya, tapi tidak diaplikasikan secara utuh. Maka saat ini ada pelatihan membuat pewarna alami, sehingga teori dan praktiknya bisa dilakukan langsung. Bahkan, semua warna bisa dibuat dengan alami menggunakan beberapa tumbuh-tumbuhan,” jelasnya, Minggu (29/11).

Kelompok yang ikut pelatihan membuat warna alami dari tumbuhan itu mulai menggunakan daun manggis, daun coklat, sawo, daun pisang, daun singapur, dan jantung pisang. Dipilihnya tumbuhan itu supaya gampang dicari di desa setempat, dan memang dapat dimanfaatkan warnanya untuk mewarnai benang yang dipergunakan.

“Yang ikut pelatihan sebanyak 25 orang. Ini pewarna alami dan proses mencarinya memang gampang.  Setelah diberi pengetahuan warna dasar, maka mereka mencari berbagai tumbuhan yang ditunjuk. Kemudian bahannya dipotong kecil-kecil, kita cari airnya untuk diresbus dan disaring. Airnya dicelup benang supaya basah untuk diberikan pewarna,” paparnya.

Astawa menambahkan, proses pewarnaan benang tenun itu bisa menghabiskan waktu sekitar satu hari. Sebab, warna yang pekat akan susah luntur dan tahan lama. 

“Kalau belum kering dan belum cocok warnanya, lagi dicelup. Supaya warnanya benar-benar sesuai yang kita inginkan, makin lama direbus makin pekat dan itu yang bagus,” tandasnya.

Sementara Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Gianyar, Luh Gede Eka Suary  berharap, kegiatan membuat warna dapat dilanjutkan, meski pelatihan telah selesai. Sebab, selain warna yang digunakan tidak mudah luntur, juga bahan baku sangat gampang didapatkan.

“Ini pertama kali, dan mereka (peserta) sangat senang dan baru tahu cara membuat warna yang benar dari bahan alami. Padahal bahan -bahan sudah ada di sekitar mereka , hanya teroinya saja belum didapatkan,” paparnya.

Eka Suary menambahkan, kelompok tenun tersebut biasanya membuat selendang, hingga kamben, dan sejenisnya. “Biasanya ada kain yang menggunakan pewarna alami itu cepat luntur ketika sering kena matahari dan dicuci. Sedangkan dengan bahan alami ini awet, karena proses penyelupan tidak hanya sekali saja agar hasilnya bisa pekat,” tandasnya. Dalam pelatihan ini, semua yang terlibat wajib patuhi protokol kesehatan diantaranya wajib memakai masker, juga jaga jarak.

(bx/ade/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news