Kamis, 28 Jan 2021
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Sempadan Pantai Pejarakan Dikeruk, Pengembang Berdalih untuk Penataan

01 Desember 2020, 20: 15: 20 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Sempadan Pantai Pejarakan Dikeruk, Pengembang Berdalih untuk Penataan

SEMPADAN : Pengerukan yang dilakukan pengembang di sempadan Pantai Dusun Marga, Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak.  (Putu Mardika/Bali Express)

Share this      

GEROKGAK, BALI EXPRESS-Sejumlah warga di Dusun Marga, Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Buleleng resah. Mereka mengeluhkan pengerukan lahan yang dilakukan oknum pengembang  menggunakan alat berat di kawasan sempadan pantai yang ditanami pohon bakau. Ironisnya, pengerukan tersebut dikakukan tanpa kordinasi dengan pemerintah desa setempat.

Seperti diceritakan Ketut Nasa. Pria yang tergabung dalam Kelompok Penanam Mangrove di Desa Pejarakan, mengaku, miris melihat kondisi. Nasa pun sudah turun mengecek ke lokasi pengerukan tersebut.

"Kami sudah cek dan bertemu orangnya. Kami maunya hentikan dulu. Tapi dari pengakuannya katanya (pengerukan) sudah ada izin. Tujuannya untuk apa, kami juga belum tahu," kata Nasa saat dikonfirmasi Selasa (1/12) siang.

Sementara itu, Kelian Banjar Adat Marga Garuda, Desa Pejarakan Kadek Yasa, mengungkapkan pihaknya menerima laporan dari warga yang mencari ikan melihat beberapa alat berat sedang mengeruk pasir putih. Berbekal laporan warga itu, pihaknya langsung mendatangi lokasi untuk melihat kejadian sebenarnya.

"Kami merasa miris melihat pantai dibeginikan. Pohon bakau dikeruk dan sempadan pantai dibendung, malah tidak ada konfirmasi dari pihak pengelola. Ya, setidaknya ada pemberitahuan dari pengembang kepada desa, supaya tidak ada tanda tanya negatif," ujar Yasa.

Dikatakan Yasa, aksi pengerukan yang dilakukan pihak pengembang sangat tidak wajar, apalagi tanpa konfirmasi. Yasa pun membandingkan dengan kasus tahun 2004 lalu, masyarakat yang mengambil sekarung pasir menjadi permasalahan besar.

"Kalau tujuan ini untuk mengembangkan atau membangkitkan ekonomi desa, ya kami disini setuju, tapi harus ada konfirmasi ke desa," jelas Yasa.

Diduga jika lahan yang dikeruk pihak perusahaan merupakan HGU 8/7 Desa Pejarakan. Sebagai Klian Banjar Adat, Yasa ingin tahu kejelasan pengerukan lahan itu untuk apa. "Kami hanya ingin kejelasan agar tidak ada pro dan kontra antara masyarakat dengan pengelola," ucap Yasa.

Menyikapi keluhan warga, Perbekel Desa Pejarakan, Made Astawa, yang memfasilitasi warga Dusun Marga Garuda melakukan pertemuan dengan pihak pengelola lahan yang diduga tanah HGU 7/8 di kantor desa, Selasa (1/12). Pertemuan tersebut dihadiri Klian Desa Adat Pejarakan, Putu Suastika, anggota masyarakat, dan Kapolsek Gerokgak.

Dari hasil pertemuan, terungkap jika pengembang berdalih pengerukan dilakukan hanya untuk menata kawasannya menggunakan kerukan pasir putih. Terkait sempadan pantai yang dibendung, menurut Perbekel Astawa, adalah beton penahan yang dipasang agar tidak terjadi abrasi sesuai dengan sertifikat HGU yang dimiliki.

"Belum ada konfirmasi ke desa dinas dan adat maupun kepala lingkungan, maka kami ingin tahu lebih jelas masa kontrak dimiliki pihak pengelola. Ternyata sudah berakhir September atau Oktober, tapi yang bersangkutan bermaksud tetap mengelola usahanya," terang Perbekel Astawa.

Perbekel Astawa pun telah menyarankan pihak pengelola, untuk sementara tidak melanjutkan pengerukan pasir putih, sembari menunggu proses administrasi dan sampai ada surat dari permohonan hak, baik itu Kanwil, BPN Provinsi Bali maupun pemerintah.

"Karena kontraknya sudah habis, maka tunggu dulu hasil kajian BPN Provinsi, apakah diperpanjang atau tidak hak pengelolaannya. Ini kan krusial sekali karena pemindahan pasir walaupun masih satu lokasi untuk penataan, tanpa konfirmasi ke desa. Intinya disepakati berhenti sementara pekerjaanya," pungkas Perbekel Astawa.

(bx/dik/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news