Kamis, 28 Jan 2021
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Cegah Kerumunan, Peluncuran Buku Dilakukan Secara Daring

04 Desember 2020, 06: 00: 59 WIB | editor : Nyoman Suarna

Cegah Kerumunan, Peluncuran Buku Dilakukan Secara Daring

PELUNCURAN : Peluncuran buku berjudul “Menjaga Kisah 100 Motif Endek dan Ukiran Buleleng” dilakukan secara daring. (DIAN SURYANTINI FOR BALI EXPRESS)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Salah satu upaya pelestarian terhadap kain tenun khas Buleleng serta ukiran gaya Buleleng adalah dengan jalan mendokumentasikan. Kabupaten Buleleng memiliki kerajinan tenun endek yang memiliki ciri khas berbeda dari daerah lain. Motif-motif dari kain endek asli Buleleng ini terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya yang ada di Kabupaten Buleleng. Selain kerajinan tenun endek, Buleleng juga memiliki seni ukir yang sangat khas. Dalam rangka menjaga kelestarian dari tenun endek dan ukiran Buleleng, para pegawai Pemkab Buleleng wajib memakai kain tenun endek motif singa setiap Selasa dan Kamis. Selain itu juga menggelar festival endek Buleleng, termasuk pelibatan para pengrajin pada pameran baik yang diselenggarakan oleh Pemkab Buleleng maupun pada event skala Provinsi dan event nasional.

Menjaga kelestarian ukiran Buleleng, Dinas Kebudayaan juga melaksanakan berbagai upaya mulai dari seminar, workshop dan pelatihan bagi sejumlah pengukir muda agar ingat dan melestarikan ukiran khas Buleleng. Sampai kebijakan dalam setiap pembangunan gedung kantor baru agar finishingnya dihiasi dengan ukiran khas buleleng, termasuk pembangunan pagar dan gapuranya agar mempergunakan ukiran khas Buleleng.

Motif-motif endek dan ukiran gaya Buleleng berhasil didokumentasikan dalam sebuah buku berjudul “Menjaga Kisah 100 Motif Endek dan Ukiran Buleleng”.

Peluncuran dan bedah buku setebal 150 halaman ini dilakukan secara daring (virtual) untuk menghindari kerumunan di lokasi peluncuran. 

Usai acara bedah buku, Ketua Dekranasda Buleleng Ir. I Gusti Ayu Aries Sujati mengatakan, gagasan untuk pendokumentasian tenun endek dan ukiran Buleleng melalui buku ini muncul, dikarenakan kepeduliannya terhadap karya-karya yang diciptakan oleh seniman Buleleng. Menurutnya, banyak karya-karya seniman Buleleng yang sudah hilang.  “Banyak sekali karya-karya seniman Buleleng. Kita tidak ingin lagi kehilangan jejak. Dari itulah timbul upaya untuk mendokumentasikan dengan buku yang bagus,” ucapnya.

Sementara itu, Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana, ST, ketika dimintai keterangan terkait peluncuran dan bedah buku “Menjaga Kisah Seratus Motif Tenun dan Ukiran Buleleng” mengatakan, ini merupakan momentum awal upaya dalam pendokumentasian kekayaan khasanah kesenian Buleleng, khususnya di bidang tenun dan ukiran Buleleng. “Kalau kita ingin melakukan upaya untuk membentuk generasi yang bisa melanjutkan tradisi, kita harus menciptakan pasarnya terlebih dahulu agar eksistensi tenun dan ukiran Buleleng terus terjaga,” jelasnya.

(bx/dhi/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news