Sabtu, 24 Jul 2021
baliexpress
Home > Bisnis
icon featured
Bisnis

Cabai Merah Besar Mahal, Petani di Bangli Malah Rugi

13 Desember 2020, 19: 31: 44 WIB | editor : Nyoman Suarna

Cabai Merah Besar Mahal, Petani di Bangli Malah Rugi

CABAI BUSUK : Petani cabai di Subak Gede Tanggahan Peken, Desa Sulahan, Bangli merugi meski harga cabai mahal. Pasalnya cabai busuk akibat curah hujan tinggi. (ISTIMEWA)

Share this      

BANGLI, BALI EXPRESS - Harga cabai merah besar di tingkat petani termasuk mahal, informasinya tembus Rp 45 ribu per kilogram (kg). Namun melesatnya harga tersebut tidak membuat semua petani cabai di Bangli tersenyum. Sebab,  ada petani yang mengaku rugi.

Seperti petani di Subak Gede Tanggahan Peken, Desa Sulahan, Kecamatan Susut. Sejumlah petani harus mencabut cabainya dan segera diganti dengan tanaman lain karena busuk sebelum berhasil dipanen. Ada juga yang dibiarkan karena perlu ongkos mencabut cabai, termasuk melepas mulsa plastik. “Saya biarkan saja dulu. Untuk melepas plastik ini perlu biaya bayar buruh,” ujar Klian Subak Gede Tanggahan Peken I Ketut Kaler, Minggu (13/12).

Kaler mengakui, terdapat sekitar 5.000 pohon cabai di lahan sekitar 20 are miliknya. Cabai tersebut tumbuh subur, buahnya lebat. Satu pohon sekitar 2 kg. Namun saat merah, mulai terserang penyakit busuk buah, sehingga sama sekali tidak menikmati mahalnya harga cabai. “Saat masih hijau dapat panen sedikit. Cepat-cepatan sebelum merah, lalu busuk,” terangnya.

Baca juga: Bupati Eka Imbau Masyarakat Tabanan Rayakan Tahun Baru Sederhana

CABAI BUSUK : Petani cabai di Subak Gede Tanggahan Peken, Desa Sulahan, Bangli merugi meski harga cabai mahal. Pasalnya cabai busuk akibat curah hujan tinggi. (I Made Mertawan)

Pria berusia 61 tahun itu menuturkan, cabai itu busuk akibat cuaca buruk yang terjadi sejak awal tanam sekitar tiga bulan lalu. Wilayah tersebut sering diguyur hujan siang dan malam. Akibatnya tanaman cabai terendam air. “Itu yang menyebabkan busuk. Jadinya, cabai mahal, petani tetap merugi,” tegas Kaler menunjukkan kondisi cabainya. Ia pun mengakui, biaya pembelian bibit maupun ongkos perawatan tidak balik modal, sehingga mengalami kerugian sekitar Rp 15 juta. “Jadi, jangan dikira baru harga cabai mahal, semua petani kaya,” ungkapnya.

Kaler pun memastikan, tidak hanya cabai di lahannya saja yang busuk. Namun sebagian besar petani di subak setempat, bahkan petani di Bangli secara umum. Sebab hasil komunikasinya dengan beberapa petani lainnya, cuaca buruk tidak hanya terjadi di wilayah Susut. Kondisi tersebut diperkirakan membuat harga cabai mahal. Biasanya di kisaran Rp 10-15 ribu per kg naik jadi Rp 45 ribu. “Bisa tanya-tanya petani cabai di sini (wilayah Subak Gede Tanggahan),” sarannya. Terdapat sekitar 2 hektar tanaman cabai di wilayah subak setempat. Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group), cabai di lahan beberapa petani lainnya juga busuk.

(bx/wan/man/JPR)

 TOP