Kamis, 28 Jan 2021
baliexpress
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Bangsa Tempe

Oleh Hakim D. Saputra*

05 Januari 2021, 22: 01: 53 WIB | editor : Hakim Dwi Saputra

Bangsa Tempe

Hakim Dwi Saputra (ISTIMEWA)

Share this      

“Ah dasar mental tempe!”, “Memang dasar bangsa tempe!”. Banyak umpatan-umpatan yang menggunakan kata ‘tempe.’ Frasa ‘bangsa tempe’ juga sudah jamak digunakan untuk menyebut bangsa kita sendiri yang sering diartikan sebagai bangsa yang malas, mudah menyerah, penakut, dan lain sebagainya.

Padahal, umpatan-umpatan tersebut salah kaprah. Tidak tepat menggunakan tempe untuk mengasosiasikan hal-hal buruk. Ketahuilah, tempe adalah salah satu penemuan paling cerdas bangsa Indonesia (semoga memang benar-benar kita yang menemukan pertama kali). Tempe, meski fisiknya kerap dicemooh dan dianggap sepele, tapi adalah salah satu sumber protein nabati terbesar, sekaligus murah.

Jika kita dibilang bangsa tempe, ya harus bangga dong. Jangan malah inferior. Coba saja, lebih bagus mana terdengar, kita dibilang bangsa tempe, dibanding disebut dengan “bangsa daging sapi,” “bangsa ayam”, atau malah (maaf) “bangsa kambing.” Semuanya adalah sama-sama sumber protein.

Sekali lagi, jangan merasa rendah diri disebut bangsa tempe. Tempe dan tahu adalah sumber protein paling cerdas dibanding sumber protein yang sudah disebutkan tadi: sapi, ayam.

Untuk mendapatkan sumber protein dari daging sapi, hewan sapi tinggal dipotong, diambil dagingnya, siap diolah menjadi masakan. Demikian pula dengan ayam, sama. Atau hewan-hewan lain. Simpel. Kalau tempe? Tidak sesederhana itu, kawan.

Tidak semua orang bisa membuat tempe. Hanya orang-orang yang memilki keahlian tertentu. Siapapun bisa mempelajarinya memang. Zaman sekarang, caranya tinggal googling. Mungkin cukup mudah kalau tekun belajar. Namun, tetap saja butuh proses panjang untuk sekadar menyajikan tempe goreng hangat di atas meja.

Mulai dari pemilihan bahan baku kedelai yang tidak sembarangan. Kemudian dicuci dan direbus, kedelai yang sudah direbus direndam selama semalam hingga menghasilkan kondisi asam, keesokan harinya, kulit arinya dikupas. Berikutnya, keping kedelai dicuci sekali lagi. Lanjut, keping kedelai dimasukkan ke dalam dandang lalu ditanak.

Setelah matang, didinginkan dan dikeringkan. Lantas ditambahkan ragi. Kemudian, kedelai dibungkus. Peram bungkusan kedelai. Sesudah diperam semalaman, dilakukan penusukan dengan lidi. Tujuannya agar udara
segar dapat masuk ke dalam bahan tempe. Peram lagi semalaman, keesokan harinya tempe pun akhirnya siap olah jadi masakan.

Benar-benar proses yang cukup panjang dan melelahkan bukan? Jadi, jangan sekali-kali meremehkan tempe.

Bahkan, sudah banyak warga asing yang sengaja datang khusus ke Indonesia untuk membuat tempe. Setidaknya, sejauh ini tempe cukup dikenal di beberapa negara. Mungkin di antara kita juga ada yang pernah mendengar kisah seseorang yang sukses menjadi pengusaha tempe di Jepang. Hidup makmur di sana dan menikah dengan perempuan Matahari Terbit.

Tempe adalah sumber protein yang murah meriah. Keberadaan tempe mampu menekan pengeluaran jutaan KK di Indonesia. Dua papan tempe ukuran besar yang biasanya seharga Rp 3 ribu plus dua bungkus sayur sup seharga masing-masing Rp 2 ribu, jadi total Rp 10 ribu mungkin cukup untuk makan satu keluarga kecil dalam satu hari. Benar-benar kekayaan luar biasa yang dimiliki Indonesia bukan? Sudah sehat, murah lagi.

Maka dari itu, tempe kekayaan yang benar-benar harus dijaga. Sayang, tempe masih dipandang sebelah mata. Tidak diperlakukan istimewa. Keberadaan produk asli Indonesia ini seperti menjadi "remah-remah" di dalam sistem ekonomi yang liar. Ya, gara-gara ketergantungan tinggi terhadap kedelai impor, belakangan produsen tempe menjerit. Betapa tidak, kedelai impor harganya melambung tinggi. Produsen berada dalam posisi dilematis. Menaikkan harga tempe, tidak laku. Harganya tetap, ya rugi. Pilihannya, memperkecil ukuran tempe, meski diprotes konsumen.

Seharusnya, sejak dulu, produk lokal kita ini ya juga harus menggunakan bahan baku lokal. Sayang, produksi kedelai lokal dalam negeri masih jauh panggang dari api.

Lantas, bagaimana jika kedelai impor harganya tak kunjung turun, sementara produksi kedelai lokal masih segitu-segitu saja? Jangan-jangan masyarakat miskin tak lagi bisa menikmati sumber protein nan murah meriah. Atau malah jangan-jangan ini awal dari naik kelasnya sepotong tempe. Menjadi makanan mahal. Yang hanya bisa dinikmati kaum berduit. Dan karena ini pula kita nantinya tak lagi malu disebut bangsa tempe. Kemungkinan yang tak menyenangkan, sebenarnya. (*)

 *) Jurnalis Bali Express (Jawa Pos Group)

(bx/aim/aim/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news