Kamis, 28 Jan 2021
baliexpress
Home > Bisnis
icon featured
Bisnis

Masa Pandemi, Hasil Kebun PD Swatantra Justru Naik

07 Januari 2021, 20: 05: 46 WIB | editor : I Putu Suyatra

Masa Pandemi, Hasil Kebun PD Swatantra Justru Naik

Dirut PD Swatantra, Gede Boby Suryanto. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Pandemi Covid-19 rupanya tak begitu berdampak terhadap sektor perkebunan yang dikelola Perusahaan Daerah (PD) Swatantra. Perusahaan plat merah tersebut justru meraup peningkatan omset hingga 128 persen pada tahun 2020 ini yang berasal dari pendapatan panen kebun kopi robusta dan cengkeh.

Direktur Utama (Dirut) PD Swatantra, Gede Bobi Suryanto saat dikonfirmasi pada Kamis (7/1) mengklaim, meningkatnya pendapatan pada tahun 2020 dari sektor perkebunan ini tidak lepas dari pengawasan yang ketat dari pihak PD Swatantra terhadap pihak penggarap lahan.

"Ini karena musimnya dan kontrol pada kebun yang ada. Kalau kontrol (pengawasan, red) tidak bagus, ya hasilnya tidak maksimal. Kontrol kami lakukan tidak saja saat panen, tapi pada saat pemeliharaan juga," ujar Boby.

Selama ini, PD Swatantara memiliki dua lokasi lahan. Pertama lahan di Desa Tajun seluas 47,210 hektare, di tahun 2020 telah menghasilkan pendapatan Rp 98 juta lebih. Dimana, pundi-pundi rupiah tersebut berasal dari produksi kopi robusta 2.203 Kg dengan pendapatan Rp 44 juta lebih dan untuk cengkeh menghasilkan 992 Kg dengan pendapatan Rp54 juta lebih.

Kedua yakni lahan asset Pemkab Buleleng seluas 40,230 hektare, pada tahun 2020 menghasilkan pendapatan sebesar Rp338 juta lebih, dari produksi kopi robusta 11.585 Kg dengan pendapatan Rp 231 juta lebih dan untuk cengkeh menghasilkan 1.942 Kg dengan pendapatan Rp106 juta lebih.

Sehingga total pendapatan kedua lahan tersebut di tahun 2020 yakni Rp 437 juta lebih. Jika dibandingkan tahun 2019, pendapatan dari kedua lahan itu hanya Rp 191 juta lebih, dari lahan di desa Tajun produksi kopi robusta 2.353 Kg pendapatan Rp46 juta lebih serta produksi cengkeh 134 Kg pendapatan Rp9 juta lebih.

Kemudian lahan asset Pemkab Buleleng di tahun 2019 produksi kopi robusta 4.338 Kg dengan pendapatan sekitar Rp84 juta lebih serta produksi cengkeh 802,50 Kg dengan pendapatan sebesar Rp51 juta lebih.

"Pendapatan itu sudah dipotong biaya operasional, hanya pajak belum. Memang ada kenaikan 128 persen. Tapi sistem kami adalah bagi hasil dengan penggarap lahan dengan perhitungan. Jadi lahan tidak digarap oleh Swatantra, kami hanya mengontrol," ungkap Boby Suryanto.

Dikatakan Boby, besaran pendapatan yang diterima tergantung setoran dari penggarap lahan setelah dihitung sistem bagi hasil yakni 1:2. Dimana, penggarap mendapatkan satu bagian, sedangkan PD Swatantra dua bagian. "Setoran menentukan dari masing-masing penggarap. Ya, karena ini setoran ke daerah, maka kami kontrol," ujar Boby Suryanto.

Kedepan pengawasan terhadap pengelolaan lahan PD Swatantara oleh penggarap akan diperketat, sehingga pendapatan yang diterima lebih maksimal. "Kami akan terus pantau, tidak saja saat panen. Kami cek ke lapangan setiap saat, mulai pemeliharaan sampai masa petik," pungkas Boby Suryanto.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news