Kamis, 28 Jan 2021
baliexpress
Home > Features
icon featured
Features

100 Persen Handmade, Gelas Kuksa Merambah Amerika dan Jepang

09 Januari 2021, 10: 54: 12 WIB | editor : I Putu Suyatra

100 Persen Handmade, Gelas Kuksa Merambah Amerika dan Jepang

KUKSA: Hasil kerajinan tangan Zakaria 'Ayik' Palgunadi yakni gelas kayu Kuksa yang biasanya menjadi ciri khas bangsa Skandinavia. Produknya ini, selain diminati lokal Bali, juga merambah ke Amerika hingga Jepang. (ISTIMEWA)

Share this      

Berawal dari kecintaannya dengan outdoor, tercetuslah ide agar menghasilkan cuan. Zakaria Palgunadi,31, penggiat outdoor (pecinta alam) yang juga seorang fotografer ini memiliki usaha mandiri berupa kerajinan gelas kayu  Kuksa (gelas bangsa Skandinavia) dengan dimodifikasi ukiran Bali. Bagaimana awalnya?

DEWA KRISNA PRADIPTA, Denpasar

BALI EXPRESS (Jawa Pos Group) berkesempatan berbincang-bincang dengan Ayik -sapaan akrabnya- usai dirinya menerima penghargaan dari Badan Kreatif (BKraf) Kota Denpasar serangkaian Denfest ke-13, Jumat (8/1) di Gedung Dharma Negara Alaya (DNA) Lumintang, Denpasar. Ayik meraih juara video profil UMKM untuk kategori kerajinan tangan. 

"Saya suka travelling, terutama outdoor. Dari hobi itu, iseng buat gelas dari kayu utuh meniru gelas yang sering dipakai orang-orang Skandinavia. Selain gelas, alat-alat makan juga. Istilahnya bushcraft," ucap Ayik.

Lanjutnya, berawal dari hobi nya itulah, terbersit di benaknya kenapa keterampilannya itu dijadikan bisnis saja. Ditambah lagi, hasil karyanya itu menarik minat pembeli ketika ia unggah di media sosial pribadinya. 

"Ya gak nyangka. Awalnya cuma iseng. Dari sana mulai serius menekuninya. Itu di tahun 2017," imbuh pria yang tinggal di Bedugul, Tabanan ini.

Soal bahan, Ayik tak terlalu pusing mencarinya. Limbah dari kayu jati ia pergunakan. Bahan yang ia peroleh dengan mencari di pabrik pengolahan kayu jati di dekat rumahnya. Kayu yang ia incar berukuran balok 2 meter dengan rata-rata harga Rp 400 ribu.

"Kayu 2 meter itu bisa dijadikan 10 gelas dengan ukuran 150ml sampai 300ml," terangnya. 

Lantas, kenapa kayu jati? Lebih lanjut dikatakan, kayu jati ini jenis kayu yang kuat dan paling dikenal oleh masyarakat Indonesia pada umumnya. Selain kuat, serat dari kayu jati memiliki ciri khas tersendiri. 

"Tapi tidak pure semuanya limbah. Dipilih juga yang benar-benar bagus dipakai. Seperti tanpa kambiun atau unteng dalam istilah Bali nya," ujar Ayik. 

Yang menarik adalah, semua proses pengerjaan dari balok menjadi sebuah gelas, semuanya tanpa campur tangan mesin alias handmade. Semuanya total dikerjakan menggunakan tangan. "Di awal-awal, saya sendiri total mengerjakan. Sekarang dibantu salah seorang karyawan, dia seorang disabilitas tapi jago soal mengukir, terutama ukiran Bali. Sekarang saya mengerjakan finishingnya saja," tegasnya. 

Dan yang lebih menarik lagi, untuk mempercantik karyanya, ia sama sekali tidak menggunakan bahan kimia. Terlebih nantinya, produknya ini dipergunakan untuk wadah minuman. Untuk menutup serat kayu, ia menggunakan balsem kayu yang dibuat menggunakan lilin sarang lebah serta linseed oil atau minyak biji rami. "Murni tanpa bahan kimia, jadi aman ketika digunakan untuk tempat minuman," paparnya. 

Namun, membuat satu gelas ini diakuinya membutuhkan waktu lama. Bahkan sampai berminggu-minggu. Mengingat proses dari balok utuh menjadi benar-benar jadi itu membutuhkan waktu yang tidak singkat. 

Pertama, saat gelas sudah jadi, gelas direbus di dalam air garam. Tujuannya untuk menutup pori dan mengeluarkan sisa-sisa cairan kayu. Kemudian, lanjut ke proses yang bernama resting dimana dalam proses ini, gelas tidak boleh terkena sinar matahari langsung. "Dibiarkan kering sendiri sampai 2 mingguan. Setelah kering, gelas langsung diamplas dengan 6 tingkatan yakni amplas kasar hingga paling halus," bebernya. 

Hanya saja, ada satu kelemahannya yakni warna kayu yang cepat memudar. Namun, hal itu bisa diakali dengan memoles dengan VCO atau olive oil. 

"Karena menggunakan kayu, rasa minuman juga berbeda. Itu pengakuan konsumen," cetusnya. 

Puncak ia menekuni bisnisnya ini saat tahun 2018 awal. Manajemen juga lebih ia tata agar menjadi bisnis yang menguntungkan. Meski hanya sekadar gelas kayu, namun pangsa pasar brand miliknya ini tak bisa dianggap remeh. Amerika dan Jepang adalah dua negara luar yang sudah ia sentuh. Bahkan, di Negeri Matahari Terbit, ia rutin mengirim produknya selama 3 bulan dengan jumlah bisa mencapai 100 pcs.

"Jadi disana (Jepang) ada reseller yang menjual jenis-jenis kerajinan seperti milik saya ini. Nah, produk saya ini satu-satunya dari Indonesia dan memiliki ciri khas ukiran Bali juga. Secara tidak langsung, saya mengenalkan budaya Bali dan juga Indonesia lewat produk saya," bebernya panjang lebar.

Untuk peminat, diakui Ayik kebanyakan pecinta outdoor, penyuka kopi dan lainnya. Soal omset, ia tak terlalu membukanya, yang jelas ini menguntungkan. Harganya kisaran Rp 150 – Rp 450 ribu, tergantung jenis dan ukurannya. Mengingat ia menerapkan sistem pre-order (pesan terlebih dahulu) bukan ready stock.

"Dulu sebelum manajemen lebih tertata, saya sempat istirahat dari kegiatan baik itu traveling maupun fotografi, karena anak baru lahir. Karena gak ada kerjaan di rumah, ya coba buat Kuksa dengan menggunakan limbah kayu jati tersebut. Dan juga, berkat dukungan keluarga, jadi bisa makin semangat dan lebih serius," tandasnya.

(bx/dip/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news