Kamis, 21 Jan 2021
baliexpress
Home > Bisnis
icon featured
Bisnis

Pelaku Usaha Tempe Tahu Lebih Tertarik Gunakan Kedelai Import

10 Januari 2021, 19: 39: 50 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pelaku Usaha Tempe Tahu Lebih Tertarik Gunakan Kedelai Import

ILUSTRASI (ISTIMEWA)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Secara nasional, harga kedelai import saat ini cukup tinggi, namun demikian pelaku usah tempe tahu di Denpasar tetap bertahan menggunakan kedelai import sebagai bahan bakunya.

Terkait harga kacang kedelai yang masih relatif tinggi ini,  Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali I Wayan Sunarta, Minggu (10/1) kemarin, mengatakan memang akan mempenngaruhi pelaku usaha olahan kedelai. "Saat ini harga kacang kacang kedelai di pasaran relatif tinggi, namun demikian kedelai import yang diminati pelaku usaha, meskioun harganya juga tinggi," jelasnya.

Dilanjutkan Sunarta, diminatinya kedelai import oleh para pelaku usaha di Bali karena kedelai import ini diakuinya memiliki penampilan yang menarik karena ukuran biji yang seragam dan warna yang tidak terlalu gelap. Namun demikian, Sunarta mengatakan dari sisi rasa dan nilai gizi, kedelai import ini masih kalah jauh jika dibandingkan dengan kedelai import.

Saat ini secara Nasional Indonesia masih melakukan import pangan kedelai. Hal ini disebabkan karena kedelai merupakan tanaman subtropis yang membuat tingkat produktivitasnya tinggi. Kedelai yang diimport merupakan kedelai yang dikembangkan dengan sistem Genetically Modified Organism (GMO) yang secara tampilan lebih menarik dari kedelai lokal. 

Hal ini pun membuat pasar kedelai import lebih unggul, dan membuat harga kedelai lokal pun murah berkisar dari Rp6.000 hingga Rp7.000 per kilogram dan saat ini naik jadi Rp11.000 per kilogram, sementara kedelai import saat ini sudah mencapai Rp12.500 per kilogram.  

Murahnya harga kedelai membuat petani lebih memilih memproduksi produk lainnya yang lebih menghasilkan, meski untuk memproduksi kedelai dengan kualitas unggul bisa dilakukan. “Petani berproduksi tergantung pasar, kalau pasarnya baik maka akan ditanaman kalau tidak maka petani akan memilih komoditas lain,” lanjutnya.

Untuk produksi kedelai di Bali, Sunarta mengataka, di Bali produksi kedelai per tahunnya mencapai 1.858 ton dari berbagai 9 Kabupaten di Bali. Dengan sentra penghasil kedelai tertinggi di beberapa Kabuoaten, seperti Jembrana, Tabanan, Badung, Klungkung, dan Gianyar.

(bx/gek/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news