Kamis, 28 Jan 2021
baliexpress
Home > Features
icon featured
Features

Selain Virusnya, Waspadai Juga Pandemic Fatigue dari Covid-19

11 Januari 2021, 19: 07: 19 WIB | editor : I Putu Suyatra

Selain Virusnya, Waspadai Juga Pandemic Fatigue dari Covid-19

dr. Dewi Soemarko, MKK, Sp.Ok (TANGKAPAN LAYAR)

Share this      

JAKARTA, BALI EXPRESS - Pandemi Covid-19 telah berlangsung selama sepuluh bulan lamanya. Selama itu, Pemerintah mengimbau masyarakat untuk secara disiplin menerapkan protokol kesehatan (prokes). Memakai masker, mencuci tangan dengan sabun di air mengalir, serta menjaga jarak fisik yang aman atau menghindari kerumunan orang.

Dalam kurun waktu sepuluh bulan, penerapan prokes rupanya tidak serta merta bisa menjadi sebuah kebiasaan baru. Meskipun bahaya atau risiko terpapar Covid-19 bisa menimpa siapa saja.

Bahkan angka kepatuhan untuk menerapkan prokes cenderung menurun dibandingkan awal-awal terjadinya pandemi. Saat alat pelindung diri (APD) masih sulit untuk ditemukan dan mahal dari sisi harga.

Selain Virusnya, Waspadai Juga Pandemic Fatigue dari Covid-19

dr. Natalia Widiasih Raharjanti, Sp.KJ(K), MPdKed (TANGKAPAN LAYAR)

Penurunan tingkat kepatuhan secara nasional ini terlihat dari data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 sejak minggu ketiga September hingga minggu keempat Desember 2020. Persentase kepatuhan memakai masker menurun 28 persen, kepatuhan menjaga jarak dan menghindari kerumunan menurun 20,6 persen.

Penurutnan tingkat kepatuhan ini tidak lepas dari demotivasi atau pandemic fatigue. Ini menjadi topik pembicaraan dalam talk show yang disiarkan dari Media Center Graha BNPB pada Senin (11/1).

Gelar wicara itu menghadirkan tiga orang pembicara. Yakni Ketua Prodi Magister Kedokteran Kerja/Pengajar Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas

Dr. dr. Dewi Soemarko, MKK, Sp.Ok. Kepala Divisi Psikiatri Forensik/Ketua Prodi. Spesialis Kedokteran Jiwa, FKUI – RSCM, dr. Natalia Widiasih Raharjanti, Sp.KJ(K), MPdKed. Dan Kepala Sub Bidang Sosialisasi Perubahan Perilaku Satgas Covid-19 Dr. Ir. Dwi Listyawardani, M.Sc., Dip.Com.

“Bahasa kerennya demotivasi dari orang-orang. Itu sepertinya kami lihat sudah mengarah ke sana. Padahal di sisi lain, tidak lupa bahwa untuk melakukan prokes bukan untuk melindungi diri sendiri saja. Tapi juga untuk orang lain,” jelas dr. Dewi Soemarko yang juga dari Perhimpunan Dokter Okupasi Indonesia (PERDOKI) ini.

Menurut dia, siapa saja bisa mengalami kondisi tersebut. Namun akan sangat berisiko bila itu terjadi pada sekelompok orang dalam jumlah yang besar. “Tentu akan merugikan banyak orang tentu. Dalam hal ini negara. Sehingga memang harus bersama-sama menguranginya. Yang penting adalah menyadari diri sendiri, saling menyemangati, dan saling mengingatkan,” jelasnya.

Senada dengan itu, dr. Natalia memberikan penjelasan yang sama. Menurutnya, pandemic fatigue merupakan respon normal dan natural yang bisa terjadi pada siapapun. “Apalagi pandemi sudah berlangsung selama sepuluh bulan,” tukasnya.

Kondisi ini, sambung dia, juga dipengaruhi bagaimana persepsi orang dalam menyikapi situasi bencana yang sedang dihadapi. Terlebih situasi bencana itu terjadi secara berkepanjangan dan belum bisa dipastikan kapan akan berakhir.

“Awalnya termotivasi. (APD) mahal-mahal dibeli. Kok sekarang berbalik? Apakah ini dipengaruhi kapasitas mental sebagai manusia saat mulai lelah karena ini normal kan?” sebutnya.

Respon ini, kata dia, tidak lepas dari berbagai persoalan yang sedang dihadapi masyarakat. Seperti kehilangan pekerjaan, hilangnya kesempatan untuk keluar rumah, melakukan hampir sebagian besar aktivitas di rumah.

“Anak sekolah pun mulai burnout. Biasanya anak-anak senang pulang (sekolah) karena bisa main, tetapi ternyata harus belajar. Lalu apa yang dipelajari secara tidak langsung itu juga melelahkan secara mental,” jelasnya.

Dia menjelaskan, perbedaan respon terhadap situasi pandemi biasanya tergantung pada kondisi individu. Apakah sedang berada pada posisi cemas atau mulai berada pada fase belajar. Karena selama pandemi, semua orang akhirnya belajar mengenali Covid-19.

“Yang namanya orang belajar, motivasinya bisa naik, bisa turun. Dipengaruhi oleh kepribadian, pengetahuan, dan cara individu itu melihat masalah. Kalau tipenya negatif terus tentu itu akan membuat mudah lelah. Burnout. Karena pandemic fatigue ini merupakan rangkaian menuju arah burnout. Semua bergantung cara melihat permasalahan,” jelasnya.

Di situasi ini, sambung dia, bias kognitif mudah terjadi. Pemikiran-pemikiran bahwa risiko sama dan situasi pandemi yang tidak pernah berubah rentan memunculkannya. Apalagi saat ini sudah ada vaksin.

“Padahal sebenarnya tidak demikian. Semua orang punya peran. Tanpa disadari, memakai masker selama sepuluh bulan, itu berkontribusi untuk menahan tingkat pertumbuhan kasus. Yang harus hati-hati adalah waktu individu secara mental membaca informasi dengan salah. Karena masih dalam fase belajar, motivasinya naik turun. Susahnya lagi kalau sudah merasa pintar. Berpikir sudah sepuluh bulan (pandemi) dan merasa tidak kena. Fase belajar ini tidak berlanjut ke fase bertumbuh,” pungkasnya.

(bx/hai/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news