Selasa, 26 Jan 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Uniknya Umah Paon di Penglipuran; Tak Sekadar Tempat Memasak

12 Januari 2021, 18: 23: 13 WIB | editor : I Putu Suyatra

Uniknya Umah Paon di Penglipuran; Tak Sekadar Tempat Memasak

BAGIAN DALAM: Suasana bagian dalam umah paon di Desa ADat Penglipuran, Bangli, Bali. (I MADE MERTAWAN/BALI EXPRESS)

Share this      

Pengunjung Desa Wisata Penglipuran, Kelurahan Kubu, Bangli akan disuguhkan dengan berbagai keunikan di sana. Salah satunya bangunan dapur yang dindingnya terbuat dari bedeg (anyaman bambu). Ternyata bangunan tersebut tidak sekadar sebagai tempat memasak. Apa fungsi lainnya?

 

I MADE MERTAWAN, Bangli

 

UMAH paon, demikian warga Penglipuran menyebut bangunan dapur tersebut. Umah paon wajib dimiliki warga setempat. Sehingga ada di setiap pekarangan rumah warga. Semuanya berada di sisi utara menghadap ke selatan. Dindingnya terbuat dari bedeg dengan atap dari genteng bambu.

Klian Desa Adat Penglipuran I Wayan Budiarta mengungkapkan, bambu dipilih sebagai bahan bangunan dapur karena bagian dari pelestarian warisan leluhur. Terlebih desa setempat merupakan desa wisata, jadi sekaligus menjadi daya tarik wisatawan. Selain itu, bambu tergolong mudah dicari karena terdapat hutan bambu yang dirawat dengan baik di sana. Hitung-hitungannya tidak akan kekurangan bahan baku.  “Apa yang sekarang ada di Penglipuran ini merupakan warisan. Dari warisan itu masyarakat berkomitmen melakukan konservasi. Baik fisik maupun nonfisik,” jelas Budiarta ditemui Sabtu (9/1). 

Upaya pelestarian itu mendapat dukungan dana dari pihak desa. Bagi masyarakat yang membangun atau rehab umah paon mendapat suntikan dana Rp 5 juta dari desa. Selain umah paon, ada dua bangunan lagi yang menjadi prioritas pelestarian dan mendapat sokongan subsidi dari desa. Yakni angkul-angkul dan bale sekenem.

Kembali soal bangunan umah paon. Budiarta menegaskan bahwa meskipun ukuran bangunan satu dengan yang lainnya tidak sama. Namun komposisi di tengahnya sama.  Terdapat tukub, lenggatan, penapi, tempat tidur dan tidak ketinggalah adalah tungku. Semua mempunyai fungsi masing-masing.  “Dulu itu, orang minimal punya dapur. Dapur atau umah paon ini multifungsi, bisa tidur di sana, masak dan lainnya,” terang klian desa adat yang belum sebulan menjabat.

Ia lalu mencontohkan tukub. Zaman dulu tukub ini berfungsi sebagai tempat menyimpan hasil bumi.  Salah satunya jagung. Tukub juga tempat ngelinggihang nini. Sampai sekarang hal itu masih dilakukan oleh masyarakat setempat yang hasil panennya berupa jagung. Untuk lenggatan, itu berfungsi sebagai tempat menyimpan barang-barang rumah tangga supaya tidak berserakan. Sedangkan penapi untuk menyimpan kayu bakar dan lainnya. “Kalau tempat tidur biasanya dua. Satu menghadap ke utara. Satunya lagi ke timur,” beber Budiarta, seraya menyebutkan bahwa warga masih tetap memasak di dapur itu, meskipun sudah mempunyai dapur lain dengan jenis bangunan berbeda. “Minimal untuk memasak nasi. Kalau tidak dipergunakan memasak, bangunan dapur tidak akan tahan lama,” sambung pria berusia 41 tahun itu.

Klian yang juga guru Bahasa Inggris di SMK N 4 Bangli itu juga menegaskan, bangunan dapur juga difungsikan untuk kegiatan adat. Ia mencontohkan prosesi upacara menjadi Kubayan (jabatan tertinggi sistem pemerintah Ulu Apad) di desa setempat.  Salah satu rangkaian upacaranya  adalah mayasa. Mayasa dilaksanakan di umah paon warga yang naik menjadi Kubayan. Terdapat dua orang Kubayan di  Penglipuran. Yaitu Kubayan Mucuk dan Kubayan Nyoman. “Selama meyasa di umah paon, makan dan minumnya dibawakan. Hanya boleh keluar mandi ke sungai di pagi hari,” sebutnya.

Selain tempat meyasa prosesi upacara Kubayan, salah satu rangkaian upacara pernikahan juga ada digelar di dapur tersebut.  Demikian pula masoda yang ditujukan kepada anggota keluarga yang telah meninggal, tetapi belum diaben dilakukan di tempat tidur dapur tersebut.  Termasuk ngaturang kukus dan nasi yang didapat setelah sangkepan desa saban purnama dan tilem yang ditujukan kepada leluhur juga tempatnya di dapur, yakni di lenggatan. “Karena bukan sebatas tempat memasak, jadi umah paon ini wajib ada,” tandas Budiarta. 

(bx/wan/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news