Senin, 25 Jan 2021
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Efek Samping Ringan - Sedang, Vaksin Disuntik pada Lengan Kiri Atas

12 Januari 2021, 20: 58: 15 WIB | editor : I Putu Suyatra

Efek Samping Ringan - Sedang, Vaksin Disuntik pada Lengan Kiri Atas

DISTRIBUSI VAKSIN: Proses pendistribusian vaksin dari tempat penyimpanan di Dinkes Bali ke tiga wilayah yakni Kota Denpasar, Kabupatan Badung, dan Gianyar pada Selasa (12/1). (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS – Vaksinasi Covid-19 di Provinsi Bali untuk tahap pertama dipastikan akan digelar pada Kamis (14/1) atau sehari setelah pelaksanaannya dilakukan di tingkat nasional.

Dalam keterangan persnya pada Senin (11/1), Kepala BPOM Penny Kusumastuti Lukito, saat menyampaikan izin penggunaan darurat atau EUA menyebutkan efikasi atau tingkat efektivitas vaksin Sinovac telah memenuhi persyaratan minimal yang ditetapkan WHO yakni paling sedikit 50 persen.

Dia menyebutkan, hasil analisa dari hasil uji klinis fase ketiga di Bandung dengan jumlah subyek sebanyak 1.600 orang menunjukkan tingkat efikasi 65,3 persen. Sementara berdasarkan laporan di Turki, tingkat efikasinya 91,25 persen dan Brazil 78 persen.

“Hasil tersebut sudah sesuai persyaratan WHO di mana minimal efikasi adalah minimal 50 persen. Efikasi 65,3 persen menunjukan harapan bahwa vaksin ini mampu menurunkan kejadian (positif) Covid-19 hingga 65,3 persen,” jelas Penny saat menyampaikan ringkasan data hasil uji dan evaluasi terhadap vaksin Sinovac tersebut.

Tentunya, sambung dia, penurunan angka kejadian infeksi dengan vaksin tersebut akan sangat berarti dalam upaya keluar dari krisis pandemi Covid-19. “Disamping upaya-upaya dengan preventif lain seperti penegakan 3M dan menjaga imunitas,” imbuhnya.

Sedangkan untuk evaluasi terhadap khasiat vaksin, pihaknya menggunakan data hasil pemantauan dan analisa dari uji klinis yang dilaksanakan di Indonesia dengan mempertimbangkan uji serupa di Brazil dan Turki.

 “Vaksin telah menunjukan kemampuan pembentukan antibodi di dalam tubuh dan juga kemampuan antibodi dalam membunuh atau menetralkan virus, imunogenesitas,” sambungnya.

Hal itu dilihat juga dari uji klinis fase satu dan kedua yang dilaksanakan di Tiongkok dengan periode pemantauan sampai dengan enam bulan.

Kemudian pada uji klinis fase ketiga di Bandung, data imunogenesitas menunjukan hasil yang baik pada 14 hari setelah penyuntikan dengan hasil zero positif atau kemampuan vaksin membentuk antibodi sebesar 99,74 persen.

 “Dan pada tiga bulan setelah penyuntikan hasil zero positif sebesar 99,23 persen. Hal tersebut menunjukkan sampai dengan tiga bulan jumlah subyek yang memiliki antibodi masih tinggi. Sebesar 99,23 persen,” imbuh Penny.

Sementara untuk kejadian efek samping yang ditimbulkan, menurutnya bersifat ringan hingga sedang. Adapun efek samping itu antara lain efek samping lokal berupa nyeri, iritasi, dan pembengkakan. Serta efek samping sistemik berupa nyeri otot, fatigue, dan demam.

Sedangkan frekuensi efek samping dengan derajat berat, sakit kepala, gangguan di kulit, atau diare yang dilaporkan hanya sekitar 0,1 sampai 1 persen. “Efek samping tersebut merupakan efek samping tidak berbahaya dan dapat pulih kembali,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala Diskes Bali dr Ketut Suarjaya menyebutkan, sebagai gambaran awal vaksin akan disuntikan pada lengan kiri atas atau injeksi intramuskular. Vaksin akan disuntik atau diinjeksi ke otot tubuh. “Intramuskular namanya. Kesepakatan begitu,” kata Suarjaya.

(bx/hai/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news