Sabtu, 06 Mar 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese
Keajaiban Pura Taman Belatung, Banyupoh (1)

Palinggih Ganesha Utuh, Belokan Air Bah Tak Menerjang Pemukiman

18 Januari 2021, 18: 01: 19 WIB | editor : I Putu Suyatra

Palinggih Ganesha Utuh, Belokan Air Bah Tak Menerjang Pemukiman

AJAIB: Kondisi pelinggih Ganesha di depan Pura Taman Belatung, Dusun Melanting, Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak saat ini. Palinggih ini masih kokoh berdiri meskipun diterjang banjir bandang lima tahun lalu, tepatnya pada 23 Januari 2016 silam. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

Keajaiban yang terjadi di Pura Taman Belatung, Dusun Melanting, Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak pasca dihantam banjir Bandang pada Sabtu, 23 Januari 2016 silam banyak yang tahu. Satu-satunya pelinggih yang kokoh bertahan dari hantaman banjir bandang yaitu Pelinggih Ganesha.

PUTU MARDIKA, Gerogak

KONON dari pawisik yang diterima Pamangku Pura Taman Belatung, Ida Mangku Anom, jika Ida Sesuhunan yang berstana di Pelinggih Ganesha menghadang banjir agar tak menerjang pemukiman.  

Lima tahun sudah banjir bandang yang menghantam Pura Taman Belatung terjadi. Kini, kondisi pura sudah sangat tertata rapi. Pelinggih di areal pura sudah diperbaiki pada akhir tahun 2017 lalu oleh Pemkab Buleleng melalui dana APBD Perubahan sebesar Rp 170 juta. Pemedek pun kembali bisa nangkil untuk melukat dan bersembahyang.

Bali Express (Jawa Pos Group) pun sempat nangkil pada Rabu (13/1) lalu, bertepatan dengan rahina Tilem Kapitu sekaligus Buda Wage Klawu. Pura Taman Belatung ini posisinya 1,5 kilometer di sebelah selatan dari areal Pura Kerta Kawat. Jika dijangkau dari Kota Singaraja, hanya butuh waktu tempuh sekitar 1 jam. Semua kendaraan bisa mengakses pura ini. Lantaran jalan sudah cukup bagus dan lebar.

Sebelum bertemu Pura Taman Belatung, terlebih dahulu pemedek menemukan Pura Belatung, yang merupakan pesanakan Pura Pulaki. Dari Pura Belatung, pemedek bisa berjalan kaki tak lebih dari 100 meter.

Sesampai di sana pemedek akan melihat areal pura Taman Belatung yang sangat asri karena dikelilingi hutan, di bawah perbukitan. Kolam sumber mata air di sebelah timur areal pura ini turut memberikan vibrasi spiritual yang dalam.

Sebelum sembahyang di areal Utama Mandala Pura Taman Belatung, pemedek wajib melukat di pelinggih Taman. Setelah bersih, barulah melakukan pemujaan di Pelinggih Ganesha yang posisinya persis di depan pemedal Utama Mandala Pura.

Ya, pelinggih Ganesha inilah yang sempat viral di media sosial dan diulas  media massa kala banjir bandang menerjang Januari 2016 lalu. Terlihat jika posisi Pelinggih Ganesha masih sama sebelum dan sesudah dihantam banjir bandang.

Dikatakan Ida Mangku Anom, meskipun sejumlah pelinggih di Pura Taman Belatung telah direhab pasca diterjang banjir bandang, namun khusus Pelinggih Ganesha, cukup dicat saja, lantaran tak mengalami kerusakan.

“Posisinya (pelinggih Ganesha, Red) masih sama. Cuma di cat untuk dipercantik saja. Kalau pelinggih lain memang diperbaiki, karena hancur saat diterjang banjir bandang 2016 lalu,” akunya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Pria berusia 58 tahun yang telah ngayah di Pura Taman Belatung sejak 2003 itu menjelaskan, di areal pura ini terdapat 5 kelebutan (sumber mata air, Red) yang ditemukan pada tahun 1950 silam. Mata air inipun sangat disucikan dan dijadikan Tirta Panglukatan, Tirta Tamba, dan Tirta Wasupada.

Selain dijadikan tempat melukat, mata air di pura ini juga dimanfaatkan untuk mengairi areal pertanian yang dikelola Subak Desa Banyupoh. Karena berfungsi sebagai pengairan, pura inipun akhirnya diempon oleh Krama Subak Banyupoh.

Kendati telah lama ditemukan, namun sejumlah pelinggih baru dibangun secara permanen pada tahun 2012 lalu. Seperti pelinggih Padmasana, Palinggih Parareman, Palinggih Gedong Ida Batari Dewa Ayu Taman, Palinggih Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh dan Palinggih Dewi Kwam In yang berada di areal utama mandala. Sedangkan di Madya Mandala Pura Taman Belatung terdapat Palinggih Ganesha yang posisinya persis di depan pemedal antara utama mandala dengan madya mandala.

Saat banjir bandang menerjang wilayah, Sabtu sore sekira pukul 18.30 Wita, Mangku Anom mengaku sedang ngayah yang tidak jauh dari pura. Ia pun tiba-tiba mendengar suara gemuruh dari bagian atas perbukitan. Setelah dilihat, rupanya air bah menerjang dari atas bukit.

Sontak saja, air bah yang menghantam perbukitan membuat tanah menjadi longsor. Hingga menghanyutkan material bebatuan dan pepohonan. Semua yang dilewati disapu oleh banjir bandang.

Setelah banjir reda, Mangku Anom pun melihat areal pura Taman Belatung langsung porak poranda. Keajaiban pun terjadi. Pelinggih Ganesha justru masih berdiri kokoh. Sama sekali tidak mengalami kerusakan. Banjir seolah memilih menghidar untuk menghantam pelinggih Ganesha.

“Inilah keajaiban. Ida Sesuhunan memang melindungi masyarakat Banyupoh dari terjangan banjir bandang. Ini semua kehendak beliau. Jadi seolah banjir dihadang dan dibelokkan agar tidak menghantam pemukiman. Bayangkan kalau dibiarkan banjir menghadang pemukiman, pasti akan lebih parah,”kenangnya.

Peristiwa ajaib ini pun menjadi viral di media sosial. Tak sedikit masyarakat yang berbondong-bondong untuk melihat secara langsung keajaiban tentang kekokohan pelinggih Ganesha tersebut. Banyak pula yang heran, lantaran tidak masuk di akal.

Mangku Anom pun tak menampik jika dirinya ikut kagum atas keajaiban itu. Tak cukup disana, sangku yang posisinya berada di Pelinggih Ganesha juga juga tidak hanyut disapu banjir bandang. Menariknya, di sangku itu masih terdapat tirta yang sangat bening dan kontras dengan pemandangan di sekitarnya yang dipenuhi lumpur akibat banjir bandang.

Pasca banjir bandang dan kisah keajaiban Ganesha, membuat Pura Taman Belatung diakui Mangku Anom kian dikenal. Pemedek pun kembali berdatangan untuk nangkil. Mereka bukan saja datang dari pelosok Bali. Ada pula pemedek yang nangkil dari Pulau Jawa.

“Ida Sesuhunan sangat bares (pemurah, Red) yang nangkil memang rata-rata memohon jabatan, kesehatan, rejeki hingga keturunan. Ada dari luar Bali pemedeknya. Katanya dapat pawisik nangkil ke Pura Taman Belatung,” imbuhnya.

Diakui Mangku Anom, mata air di pura yang pujawalinya setiap Angar Kasih Julungwangi ini tidak pernah kering. Sekalipun musim kemarau panjang. Pemedek selalu ramai pada hari-hari tertentu, setiap Purnama-Tilem, Kajeng Kliwon dan hari raya lainnya.

“Jadi dudonannya, mereka nangkil ke Pura Taman Belatung, setelah itu melukat dulu, baru sembahyang di Pelinggih Ganesha, setelah itu masuk ke areal Utama Mandala untuk bersembahyang. Barulah bisa bersembahyang di Pura Belatung yang merupakan pesanakan Pura Pulaki,” pungkasnya (bersambung).

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news