Sabtu, 06 Mar 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese
Keajaiban Pura Belatung, Banyupoh (2)

Konsep Siwa-Budha, Memohon Jabatan dan Keturunan Kerap Terkabul

19 Januari 2021, 18: 31: 29 WIB | editor : I Putu Suyatra

Konsep Siwa-Budha, Memohon Jabatan dan Keturunan Kerap Terkabul

Jika Pura Taman Belatung adalah tempat melakukan penglukatan, maka Pura Belatung adalah tempat pemujaan Siwa-Buddha.

I PUTU MARDIKA, Buleleng

SEBAGAI Pesanakan Pura Pulaki, Pura Belatung merupakan salah satu pura dang kahyangan yang pujawalinya bertepatan dengan Purnama Sasih Kapat. Di Pura ini, pemedek bisa menemukan pelinggih yang menyerupai sebuah candi berarsitektur Jawa.

 

Pura Belatung posisinya terletak di Dusun Melanting, Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak. Jaraknya sekitar 1,5 kilometer di sebelah selatan Pura Kerta Kawat. Pemedek yang nangkil pun bisa menggunakan beragam kendaraan, baik sepeda motor, mobil pribadi hingga bus untuk menjangkau pura ini.

Pura ini hanya berjarak sekitar 100 meter dengan Pura Taman Belatungan. Dari areal parkir, pemedek meski berjalan kaki menaiki anak tagga untuk menjangkau pura. Suasana pura yang tenang dan dikelilingi pepohonan yang rindang turut menambah vibrasi spiritual di tempat suci ini.

Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group) saat nangkil di Pura Belatungan, terdapat lima pelinggih di areal pura yang diempon oleh 33 desa adat dan 32 Subak yang tersebar di Kecamatan Seririt dan Kecamatan Gerokgak ini. Seperti pelinggih Padmasana, hingga pelinggih Siwa Buddha yang bentuknya menyerupai sebuah candi berarsitektur Jawa.

Menurut Jero Mangku Ida Bagus Putra Budaya, nama Belatung berasal dari kata ‘belah’ dan ‘tunggal’.”Belatung itu adalah ngaran belah tunggal. Dulu di Buleleng pahamnya kemungkinan ada dua. patokannya Tukad (Sungai) Saba. Dari Timur Tukad Saba itu paham Ludra-Bairawa (Siwa), dan dari Tukad Saba ke barat itu pahamnya Buddha,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Ia menambahkan, Dalam Dwijendra Tattwa dikisahkan bahwa Pada Masa Kerajaan Majapahit di Jawa Timur, tersebutlah seorang Bhagawan yang bernama Dang Hyang Nirartha atau Dang Hyang Dwi Jendra.

Beliau dihormati atas pengabdian yang sangat tinggi terhadap raja dan rakyat melalui ajaran-ajaran spiritual, peningkatan kemakmuran dan menanggulangi masalah-masalah kehidupan. “Beliau dikenal dalam menyebarkan ajaran Agama Hindu dengan nama Dharma Yatra” ujarnya.

Hal itu juga dituangkan ke dalam babad yang telah dibukukan. Selanjutnya kedua sekte Ludra Bairawa dan Buddha itu akhirnya disatukan oleh Ida pedanda Sakti Wawu Rawuh atau Dang Hyang Dwijendra ketika melakukan perjalanan spiritual ke Bali.

 “Pada saat ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh ke Bali, maka disatukanlah dengan mempralina wilayah Pulaki termasuk di Pura Melanting. Dan disatukanlah kedua sekte itu menjadi Siwa Buda. Makanya disebut Pura Belatung,” ungkapnya.

Untuk itulah di Pura Belatung ini sebut Mangku Budaya terdapat pelinggih khusus untuk pemujaan terhadap Dang Hyang Dwijendra berbentuk Candi. Di pura ini, yang dipuja adalah Ratu Batara Lingsir, Ratu Batara Niang Lingsir atau Dang Hyang Dwijendra. Puajwali di pura ini dilakukan bersamaan dengan Purnamaning Kapat. “Nyejer dengan Pura Pulaki, Melanting, Kerta Kawat, Pebeaan dan Pemuteran,” imbuhnya.

Ia berkisah, Pura ini awalnya ditemukan oleh Ida Bagus Putu Arga dari Jembrana bersama masyarakat Banyupoh pada tahun 1957 silam. Penemuan itu diawali dengan ditemukannya Candi berbetuk Lingga.

Lambat laun, pura ini kian berkembang dilakukan pembangunan sejumlah pelinggih hingga seperti saat ini. Pemedek yang nangkil diakui Mangku Budaya berasal dari pelosok Bali. Sebagian dari mereka bahkan ada dari pejabat.

“Beliau sangat pemurah. Pemedek yang nangkil ke sini permohonannya beragam dan kerap dikabulkan. Ada yang memohon jabatan, kedudukan, sentana (keturunan). Sehingga selalu ramai setiap Purnama Tilem,” ungkap pria yang telah ngayah sejak tahun 1990-an ini.

Pemedek yang nangkil dipersilahkan membawa sarana semampunya. Namun, sebelum bersembahyang di Pura Belatung, disarankan agar melakukan penglukatan di Pura Taman Belatung terlebih dahulu, setelah itu barulah bersembahyang di Pura Belatung.

“Memang dudonannya seperti itu. Lakukan penyucian di Pura Taman Belatung, setelah itu melakukan pemujaan di Pura Belatung,” pungkasnya. (habis)  

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news