Sabtu, 06 Mar 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Merasa Digantung, Bendesa dan Warga Desa Adat Mas Datangi MDA Bali

19 Januari 2021, 20: 41: 20 WIB | editor : I Putu Suyatra

Merasa Digantung, Bendesa dan Warga Desa Adat Mas Datangi MDA Bali

WARGA : Warga Desa Adat Mas, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar saat mendatangi Kantor MDA Bali, Selasa (19/1). (I PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Puluhan warga Desa Adat Mas, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali, mendatangi Kantor Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali, Selasa (19/1). Kedatangan bendesa terpilih, Wayan Gede Arsania bersama panitia pemilihan bendesa beserta delapan kelihan banjar itu guna mencari kejelasan terkait Surat Keputusan (SK) hasil pemilihan bendesa yang dilakukan dengan musyawarah mufakat.

Ketua Panitia Pemilihan Bendesa Adat Mas, I Wayan Suwija menjelaskan di desa setempat sejak tahun 2019 telah mempersiapkan pemilihan bendesa adat. Hanya saja terkendala pandemi pada tahun 2020 sehingga pemilihan diundur dan bendesa sebelumnya diperpajang hingga Juli 2020. Sebab masa jabatan bendesa sebelumnya berakhir pada April 2020. “Karena pandemi, jadi diundur pemilihannya dan bendesa sebelumnya diperpanjang masa jabatan hingga Juli 2020,” jelasnya.

Disampaikan semenjak diberlakukannya new normal, barulah pihaknya mulai bekerja kembali untuk proses pemilihan bendesa. Sesuai arahan MDA Bali dan perda 4 tahun 2019 MDA Bali pihaknya melanjutkan proses lanjutan. “Saat itu bendesa mengeluarkan surat keputusan bahwa panitia pemilihan menunjuk dari unsur kelihan dan prajuru desa adat dengan anggota sebanyak 35 orang,” sambungnya.

Merasa Digantung, Bendesa dan Warga Desa Adat Mas Datangi MDA Bali

Ketua Panitia Pemilihan Bendesa Adat Mas, I Wayan Suwija (I PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Lantaran merujuk pada surat keputusan yang dibuat oleh bendesa sebelumnya, maka pihaknya di panitia melakukan pemilihan tersebut. Berdasarkan musyawarah dan mufakat sesuai surat edaran tanggal 2 Oktober 2020 sudah diputuskan Wayan Gede Arsania sebagai bendesa terpilih. Kemudian semua panitia menandatangani berita acara. “Di sinilah muncul masalah dari mantan bendesa yang lama yang juga sebagai pertahana pemilihan bedesa adat dari enam calon yang ada,” ucapnya.

Permasalahan itu pun disebut ada pemilihan dua kali, Suwija selaku ketua panitia pemilihan pun sempat mengundang pihak terkait. Mulai dari MDA Bali, MDA Kabupaten Gianyar, Kecamatan Ubud, Perbekel Desa Mas serta lembaga desa untuk membahas permasalahan itu. Hanya saja MDA Bali tidak hadir waktu itu. Sebab dalam awig-awig desa setempat telah jelas disebutkan jika ada wicara harus dijelaskan dalam paruman krama.

“Selanjutnya pada 14 November 2020 dilakukan parum, dalam paruman ini diputuskan oleh desa adat dan proses pemilihan pada 2 Oktober 2020 itu tidak ada masalah dan sah. Kemudian tetap mengakui bendesa terpilih sebagai Bendesa Adat Mas. Masyarakat dan forum sudah selesai makanya kami melakukan majaya-jaya pada 16 Desember 2020,” imbuhnya.

Disinggung kedatangannya ke kantor MDA Bali, Suwija mengaku lantaran MDA Bali belum mengeluarkan surat keputusan terkait bendesa terpilih tersebut. Padahal MDA kabupaten dan kecamatan telah mengeluarkan rekomendasi. “Berarti ini sudah selesai masalahnya, mengapa MDA Bali justru belum mengeluarkan surat keputusan?. Kami juga sempat mengundang MDA Bali pada 28 Desember 2020 justru tidak hadir, dua kali diundang kedua kalinya tidak hadir,” tandasya.

Oleh sebab itu pihaknya pun tidak mau digantung, sebab ketika dari pemilihan itu pihaknya jika ada salah atau keliru mereka ingin ada arahan dari MDA. “Kita bingung, kita mengundang justru tidak datang. Kalau ada yang keliru mohon petunjuk, mana yang salah mana yang akan diperbaiki. Justru MDA Bali tidak melakukan hal itu. Kami tidak ingin MDA Bali menerima informasi sepihak sebagai lembaga adat, seharusnya kami jangan digantung. Makanya kami datang ke sini bersama bendesa terpilih, bersama panitia pemilihan serta delapan kelihan banjar yang ada dan beberapa krama,” sambungnya lagi.

Kedatangan mereka pun ke MDA Bali kembali tanpa ada hasil, sebab dari MDA Bali belum bisa menerima kedatangan mereka. Sehingga Suwija hanya mendapatkan jawaban akan dicarikan hari lain untuk membahas permasalahan yang ada di Desa Mas tersebut. “Katanya ada rapat lain, nanti akan dijadwalkan kembali tapi entah kapan waktunya kami juga belum diinformasikan,” ujarnya.

Sementara dikonfirmasi Petajuh MDA Bali, Made Wena menjelaskan pihaknya belum sempat bertemu dengan warga  Desa Adat Mas. Sebab tengah berbenturan dengan kegiatan yang ada. “ Belum sempat ketemu, karena jam dua tadi saya ada rapat koordinasi yang juga dilaksanakan di MDA Bali. Saat ini rapat sedang jalan juga, agenda kami di MDA Bali sangat padat, hari ini memang sudah janji dengan 8 desa adat, besok ada agenda yang sudah janji 4 desa adat, dan Kamis sudah janji dengan 6 desa adat,” tegasnya.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news