Minggu, 18 Apr 2021
baliexpress
Home > Bisnis
icon featured
Bisnis

Tren Budidaya Porang, Pemkab Badung Belum Punya Program Khusus

19 Januari 2021, 20: 52: 32 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tren Budidaya Porang, Pemkab Badung Belum Punya Program Khusus

PORANG: Budidaya tanaman porang yang jadi tren di Bali akhir-akhir ini. (ISTIMEWA)

Share this      

MANGUPURA, BALI EXPRESS - Budidaya porang kini menjadi tren di kalangan petani. Bahkan masyarakat umum ikut membudidayakan tanaman serupa iles-iles ini. Di Bali, budidaya porang pun mulai menggeliat. Termasuk di Kabupaten Badung. Namun demikian, di Badung, pemerintah setempat belum terjun untuk memfasilitasi langsung para petani.

Tren budidaya porang bahkan menjadi salah satu topik perbincangan di media sosial. Ada yang mengaku sudah membudidayakan. Bahkan ada yang tak segan membabat lahan, demi beralih dari tanaman lain ke porang. Namun banyak pula yang bertanya, lantaran belum tahu porang. Termasuk ada kekhawatiran harganya anjlok, lantaran tren ini hampir diikuti semua daerah di Bali. Terkait ini, Kadis Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung, I Wayan Wijana mengakui pihaknya belum memiliki program khusus pengembangan porang. "Karena ini komoditas yang baru dikembangkan, kami memang belum memiliki program khusus untuk pengembangan porang," ungkapnya, Selasa (19/1) kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Namun demikian, lanjut Wijana, menurut pantauan pihaknya, sudah ada beberapa petani di Badung yang membudidayakan porang secara mandiri.

Baca juga: Merasa Digantung, Bendesa dan Warga Desa Adat Mas Datangi MDA Bali

Jika ini berhasil dan pasar terbuka, menurutnya petani akan kian antusias untuk mengembangkan. "Sudah ada beberapa petani yang mencoba untuk membudidayakan di wilayah Kecamatan Petang, khususnya di Desa Pelaga, Belok Sidan, dan Petang. Serta ada juga di Desa Bongkasa, Abiansemal. Total kurang lebih 5,5 hektare," bebernya.

Disinggung mengenai koordinasi dengan Dinas Pertanian Provinsi Bali, Wijana menyebut belum ada yang khusus membahas pengembangan porang. "Koordinasi secara khusus terkait pengembangan porang memang belum, namun karena tren pengembangan porang cukup potensial di Badung. Kami akan berkoordinasi dengan instansi terkait utk merancang program pengembangan porang di Badung," jelasnya.

Disinggung mengenai kekhawatiran anjloknya harga saat petani berbondong-bondong menanam dan panen porang, Wijana tak menampik. Sebab naik dan turunnya harga komoditi tak bisa dihindari. Ini tergantung jumlah permintaan dan ketersediaan komoditi tersebut. "Salah satu permasalahan kami hadapi disektor pertanian adalah fluktuasi harga. Kita memang tidak bisa menentukan standar harga, sangat tergantung dari permintaan dan penawaran serta kualitas produk pertanian. Jika permintaan meningkat penawaran sedikit, harga akan naik begitu sebaliknya," tandasnya.

Untuk diketahui, umbi porang berdasarkan kabar yang beredar, bisa diolah untuk dijadikan bahan pangan dan komestik. Bahkan porang diklaim memiliki manfaat kesehatan, seperti menurunkan kadar gula darah dan kolesterol.

Harga umbi porang saat ini rata-rata mencapai Rp 10 ribu per kilogram. Dengan jarak tanam yang pendek dan perawatan yang cukup mudah, banyak yang tergoda membudidayakannya. Tak hanya di kebun, tapi ada yang menanam di pekarangan rumah. Tanaman sejenis suweg ini umumnya bisa dipanen dalam waktu 2-3 tahun.

(bx/adi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news