Minggu, 07 Mar 2021
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Ngada Berjuang untuk Kembali ke Zona Hijau

20 Januari 2021, 19: 57: 30 WIB | editor : Chairul Amri Simabur

Ngada Berjuang untuk Kembali ke Zona Hijau

Bupati Ngada, Paulus Soliwoa (ISTIMEWA)

Share this      

JAKARTA, BALI EXPRESS – Sampai dengan Desember 2020, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) mampu bertahan sebagai zona hijau dalam penyebaran Covid-19. Bahkan kabupaten yang ada di Pulau Flores ini sempat menjadi daerah percontohan yang aman Covid-19 pada momentum Pilkada Serentak 2020.

Namun sejak momen libur panjang, rekor tersebut tumbang seketika. Dan saat ini, sekitar 30-an orang warga di kabupaten tersebut terkonfirmasi positif Covid-19. Sehingga kini, Ngada masuk ke dalam daerah dengan zonasi kuning.

Perubahan situasi yang terjadi di Ngada tersebut menjadi topik bahasan dalam talkshow yang disiarkan pada Rabu (20/1) dari Media Center Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta.

Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19, Sony Harry B Harmadi, menyebutkan perubahan situasi yang terjadi di Ngada menjadi alarm bagi siapapun saja di Indonesia. Bahwa, tidak ada satu daerahpun bisa dikatakan aman seratus persen dari risiko penyebaran Covid-19.

“Mesti diingat bahwa pandemi ini berawal dari satu orang hingga sekarang menginfeksi 96,9 juta di seluruh dunia. Berawal dari satu menjadi 96,9 juta itu karena penularan dari orang ke orang, bukan dari binatang ke orang, atau di luar itu,” ujar Sony yang menjadi pembicara dalam talkshow tersebut.

Dan ini, sambung dia, harus menjadi perhatian semua pihak di seluruh daerah di Indonesia. Tidak terkecuali daerah-daerah yang masuk zona hijau. “Bahwa potensi risiko selama pandemi masih tetap ada,” tukasnya.

Karena itu, upaya pencegahan jauh lebih mudah dan murah dibandingkan harus mengalami atau terkonfirmasi positif. Perubahan situasi di Ngada tersebut juga menjadi pelajaran, bahwa penerapan protokol kesehatan (prokes) harus menjadi pengetahuan yang diaplikasikan masyarakat melalui perubahan perilaku di seluruh Indonesia.

Di kesempatan yang sama, Bupati Ngada, Paulus Soliwoa, yang turut menjadi pembicara dalam talkshow itu tidak memungkiri perubahan situasi perkembangan Covid-19 di wilayahnya. Sejak awal pandemi sampai dengan Desember 2020, Ngada bertahan sebagai daerah yang masuk zona hijau.

“Memang untuk Ngada, karena hijau awalnya, belum ada masyarakat yang satupun tertular, menyebabkan protokol kesehatan (prokes) terabaikan. Yang paling sulit kegiatan sosial kemasyarakatan. Karena di sini, pada saat-saat tertentu ada upacara,” sebutnya.

Kini, pihaknya tengah berkonsentrasi untuk memantau perlintasan orang oleh pelaku perjalanan. Pihaknya telah menetapkan sepuluh pintu masuk menuju Ngada.

Di sepuluh pintu masuk itu, pihaknya mendirikan pos pantau yang melibatkan semua unsur seperti TNI, Polri, Kejaksaan, sampai dengan Pengadilan Negeri. “Melakukan pengawasan kepada siapa saja yang datang ke Ngada,” ujarnya.

Kedua, sambungnya, pendataan terhadap pelaku perjalanan, khususnya tujuan mereka, dimaksimalkan. Bahkan pihaknya berupaya melakukan pendekatan kepada keluarga calon pelaku perjalanan.

“Agar yang bersangkutan dirapid. Ini upaya kami untuk mencegah terjadinya transmisi lokal. Ini sampai dengan Desember 2020,” bebernya.

Di saat yang sama, pihaknya berharap agar Pemerintah Pusat membantu daerahnya dalam hal edukasi maupun yang berkaitan dengan sistem aplikasi mengenai perubahan perilaku.

Bahkan, pihaknya sampai membuat sosialisasi dan edukasi mengenai risiko penyebaran dan dampak Covid-19 dengan menggunakan dua bahasa daerah sekaligus.

“Kami infokan dari awal-awal, di Ngada ini ada dua bahasa daerah. Ada dua etnis. Kami sudah terjemahkan ke bahasa daerah masing-masing. Ini juga yang membuat Ngada sampai Desember 2020 bertahan di zona hijau,” imbuh Paulus.

Kendati demikian, dalam penerapan prokes, khususnya mencegah terjadinya kerumunan, pihaknya masih perlu bekerja ekstra. Sebab di Ngada ada berbagai ritual adat yang harus dihadiri suku dan sebagainya.

“Dan pesertanya tidak mungkin dalam jumlah sedikit. Kami sudah mencoba menerapkan upaya paksa secara massif dan maksimal,” tukasnya.

Mengenai fasilitas kesehatan, pihaknya tengah berfokus pada pengawasan pelaku perjalanan. Khususnya mereka yang hendak menetap dalam jangka waktu tertentu di Ngada.

“Sejak Januari 2021, kami menerapkan Rapid Test Antigen. Ternyata yang positif ini sekitar 30-an orang. Penyebab utamanya pelaku perjalanan. Baik yang dari luar atau menetap di luar Ngada. Atau warga kami yang mengunjungi daerah-daerah di luar Ngada,” jelasnya.

Saat ini, pihaknya juga sudah menyediakan tempa karantina terpusat dengan memanfaatkan fasilitas hotel. Kapasitasnya mencapai 20 tempat tidur. Begitu juga ruang isolasi di rumah sakit dengan kapasitas tempat tidur yang sama.

“Kami juga berencana melakukan Rapid Test Antigen sebanyak seribu untuk di rumah sakit dan Puskesmas. Sehingga untuk pasien rawat inap, sebelum diambil tindakan, sudah bisa dideteksi. Apakah karena sakit bawan atau Covid-19,” pungkasnya.

(bx/hai/hai/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news