Minggu, 07 Mar 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Lontar Rahasya Senggama Ungkap Cara Meraih Kepuasan Seks

25 Januari 2021, 21: 08: 31 WIB | editor : I Putu Suyatra

Lontar Rahasya Senggama Ungkap Cara Meraih Kepuasan Seks

Putu Suarsana, Pembaca Lontar di UPTD Gedong Kirtya Singaraja (ISTIMEWA)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Pengetahuan seks bukanlah hal yang tabu. Banyak sumber yang membagikan informasi terkait hal tersebut. Mulai dari cara melakukan hingga posisi yang tepat. Hal-hal yang berkaitan tentang seks biasanya dimuat dalam buku Kama Sutra. Lontar Rahasya Senggama ini terkait dengan Lontar Rukmini Tatwa.

Pengetahuan tentang seks juga telah ditulis sejak zaman dulu melalui lontar oleh para leluhur. Lontar yang memuat terkait seks salah satunya adalah Rahasya Senggama. Bila dalam Kama Sutra dijelaskan mengenai adegan seks dengan berbagai gaya, namun dalam Rahasya Senggama rupanya lebih memfokuskan kepada kepuasan pasangan dalam melakukan hubungan suami istri.

Lontar ini juga berkaitan dengan Rukmini Tattwa tentang cara merawat kewanitaan dan kejantanan. Pada lontar tersebut banyak dibahas obat dan mantra yang digunakan.

Kemudian barulah menginjak pada pembahasan yang lebih spesifik soal rahasia hubungan. Namun penulis lontar tidak menulis dalam bahasa yang lugas dan transparan, tetapi memakai perumpamaan. Disebutkan, Resi Sambhina beryoga memuja Dewa Mahadewa yang berstana di Narimandala.

Di dalam Narimandala terdapat sparsa (keinginan), ibarat kuku singa yang bersembunyi di dalam sarang. Kuku itu akan keluar dan menjadi sangat tajam bila digunakan untuk menerkam. Orang yang mengetahui rahasia kuku itu, akan dapat menghilangkan kegelisahan seorang wanita yang dilanda nafsu birahi.

Rupanya kuku dimaksud adalah bagian intim pria, sebab dalam pemaparan berikutnya disebutkan bagian intim laki-laki itu bisa kembang kempis dan terselubung seperti kuku singa. Jika sampai Dewa Mahadewa melepaskan panah asmaranya akan membuat seorang wanita mabuk kepayang kemudian nafsu birahinya memuncak.

Seorang wanita yang terkena panah asmara tidak dapat menguasai dirinya sendiri. Ia selalu ingin memenuhi hawa nafsunya dan tidak banyak bertingkah. Bila wanita sudah resah gelisah karena nafsunya memuncak, ia tidak dapat berpikir panjang lebar untuk menimbang baik dan buruk apa yang diperbuatnya. Ia juga tak dapat menjaga dirinya bahkan ingin menjatuhkan dirinya ke pangkuan lawan jenisnya.

Dalam Lontar Rahasya Senggama ini disebutkan ada tiga cara mencapai kenikmatan. Yaitu Angguliprawesa, Purusaprawesa, dan Jihwaprawesa. Anggulirawesa merupakan hubungan seks dengan menggunakan jari tangan. Dengan tangannya, sang suami mencari titik-titik rangsang sang istri yang mampu membuat istri terangsang.

Yang kedua adalah Purusaprawesa. Cara ini merupakan hubungan seksual menggunakan alat kelamin seperti yang dilakukan pada umumnya. Sementara yang ketiga adalah Jihwaprawesa. Yakni melakukan hubungan seksual dengan lidah.

Selain itu lontar ini juga mengulas titik-titik sensitive istri dan bagaimana mengusahakan agar istri mencapai klimaks, serta ramuan-ramuan yang diperlukan untuk mempertahankan vitalitas. “Mungkin setiap pasangan akan memiliki cara yang berbeda dalam menikmati hubungan seksual, namun dari ketiga hal yang dijelaskan dalam lontar tersebut, mungkin bisa menjadi pedoman untuk berkomunikasi dengan pasangan, agar nantinya pasangan akan merasakan gairah seksual yang sama,” ungkap Putu Suarsana, Pembaca Lontar di UPTD Gedong Kirtya Singaraja.

Lontar Rahasya Senggama ini juga berkaitan dengan lontar Semara Tantra. Dalam lontar ini juga menjelaskan tentang seks atau hubungan suami istri. Sama halnya seperti Rahasya Senggama, lontar ini juga menitikberatkan ada kepuasan pasangan dalam melakukan hubungan untuk mencapai Sad Rasa. Sad rasa yang dimaksud adalah, manis, asam, asin, pahit, pedas dan sepat.

Penyatuan keenam unsur sad rasa ini dengan unsur Citta, Buddhi, Manah, Ahangkara, Dasendria, Panca Tan Matra dan unsur dari Panca Maha Bhuta itu sendiri akan membentuk dua benih kehidupan purusa pradana atau sukla dan swanita yang akhirnya penyatuan sukla dan swanita itu maka timbullah penciptaan mahluk hidup yang telah memiliki atman sebagai bagian terkecil dari brahman atau parama atman.

“Adanya penyatuan unsur- unsur tersebut dengan keberadaan atman yang menjiwai setiap mahluk hidup maka terciptalah manusia yang memiliki jiwa, pikiran, perasaan dan organ tubuh yang sempurna daripada mahluk lainya,” ujarnya.

Hubungan senggama bagi seorang yang telah menjalankan kehidupan Grahasta Asrama, lanjutnya, tidaklah sekadar sebagai pelampiasan nafsu. Persenggamaan merupakan sebuah ritual intim yang hanya dikehendaki oleh pasangan suami istri yang dilandaskan atas dasar kebijaksanaan dharma. Dengan kata lain, dalam memenuhi kebutuhan akan kama (nafsu) haruslah dilandasi dengan Dharma, sehingga tercapainya Moksa dalam hal ini adalah kajagadhitaan.

Adapun larangan bersenggama pada hari-hari tertentu, secara logika dapat dijelaskan sebagai upaya agar konsentrasi tidak terpecah. Terlebih, pada Purnama, Tilem, dan hari hari suci, umat Hindu akan tersedot perhatian dan tenaganya untuk kegiatan persembahyangan ataupun kegiatan suci lainnya.

(bx/dhi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news