Minggu, 07 Mar 2021
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Marak Kenakalan Remaja, KPPAD Sebut Orang Tua Tidak Peka

27 Januari 2021, 16: 37: 55 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Marak Kenalan Remaja, KPPAD Sebut Orang Tua Tidak Peka

Komisioner Penyelenggara Perlindungan Anak Daerah Bali, Made Ariasa.  (istimewa)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS – Belakangan ini marak kenakalan dari kalangan remaja membuat runyam. Mulai dari kasus pembunuhan yang dilakukan oleh anak di bawah umur, perkelahian, hingga aksi balapan liar. 

Ulah remaja ini disebut dampak dari kurangnya kepekaan dari para orang tua dan masyarakat di sekitar untuk mengarahkan dan membimbing  generasi muda.

Komisioner Komisi Penyelenggara Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Bali Made Ariasa menjelaskan,  permasalahan tersebut semestinya diatensi dengan serius oleh pemerintah. Dengan diberikan sebuah ruang atau tempat guna mengasah kepribadian mereka yang  rata-rata tengah mencari jati diri. 

“Permasalahan anak ini posisinya butuh pendidikan karakter dan perhatian orang tua. Dampak dari pembelajaran jarak jauh (PJJ) di tengah pandemi ini juga tidak bisa dipungkiri salah satu penyebabnya,” jelas Ariasa, Rabu (27/1).

Diungkapkannya, yang terpenting saat ini adalah memberikan perhatian kepada anak dari para orang tua, maupun lingkungan sekitarnya. Supaya tindakan yang merugikan diri mereka dan orang lain dapat diantisipasi. Sebab, saat ini tidak dipungkiri para orang tua lebih fokus memperhatikan pekerjaan dan urusan perut semata, mereka seolah-olah lupa akan keberadaaan anak –anaknya.

“Perlu adanya perhatian orang tua sebagai pendampingan dan pengawasan. Seperti sekarang kan tidak tahu entah belajar atau  bagaimana, para orang tua seakan tidak mau tahu.  Sebab mereka belajar secara PJJ, sedangkan orang tua sibuk mencari sesuap makan, begitu juga masyarakat sekitar tidak mau tahu,” imbuhnya.

Ariasa mengakui kenakalan remaja belakangan ini marak juga diakibatkan dari metode pembelajaran yang lebih mengedepankan teori saja.  Namun, untuk pendalaman dengan karakter para peserta didik memang kurang. Dalam konteks ini adalah pendidikan karakter yang benar dan tepat. 

 “Perhatian orang tua dan pengawasan dari masyarakat ikut berkontribusi lebih tepatnya. Selama ini belum ada kepakaan, kepedulian masyarakat rendah dengan generasi muda,” ujarnya.

Ditambahkannya, selaku komisioner ia telah berusaha melakukan perhatian kepada para generasi muda yang ada. Dengan membuat ruang seperti dibuatnya sebuah yayasan yang mewadahi kegiatan pendidikan karakter anak. “Tapi masih kurang efektif, sebab ruang ini baru akan dimanfaatkan ketika para orang tua merasa anaknya mengalami masalah,” tandas Ariasa. 

(bx/ade/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news