Kamis, 04 Mar 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Prajuru Adat Liligundi Rencanakan Paruman Soal Penolakan Krematorium

27 Januari 2021, 21: 44: 37 WIB | editor : I Putu Suyatra

Prajuru Adat Liligundi Rencanakan Paruman Soal Penolakan Krematorium

LOKASI: Lokasi dibangunnya krematorium di wewidangan Desa Adat Liligundi, Desa Bebandem, Karangasem. (AGUS EKA/BALI EXPRESS)

Share this      

AMLAPURA, BALI EXPRESS – Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Bebandem, Karangasem sudah mempertemukan dua pihak yang berkisruh soal pembangunan krematorium di Desa Adat Liligundi, Desa Bebandem, Kecamatan Bebandem. Namun mediasi yang dilakukan beberapa waktu lalu, tampaknya bakal berlanjut di internal desa adat.

Pada mediasi pertama, krama desa Liligundi masih konsisten menyampaikan penolakan. Meski demikian, MDA Bebandem mengimbau permasalahan itu diselesaikan dulu di internal. Rencananya, pembahasan lanjutan mengenai krematorium akan dilakukan oleh prajuru Desa Adat Liligundi dalam waktu dekat.

Dikonfirmasi terpisah, Bendesa Adat Liligundi I Ketut Alit Suardana mengakui, krama adat tetap menyampaikan keberatan. Dalam mediasi yang digelar di Kantor Camat Bebandem tersebut telah mengemuka alasan warga belum menyetujui adanya krematorium. Seperti desa adat yang dituding kurang sosialisasi ke warga sehingga belum ada kesepakatan. Alasan berikutnya, kata Alit, warga khawatir adanya krematorium akan berdampak terhadap kesucian desa setempat.

"Penjelasan leteh atau cuntaka (kotor) akibat adanya krematorium sudah ditekankan oleh PHDI. Namun perlu penegasan lagi tentang apakah mayat memasuki desa adat akan membuat leteh, atau mayat melintas di jalan desa adat, dan rumah sakit di satu desa yang ada orang meninggal di sana, apakah termasuk leteh atau cuntaka. Ini perlu penegasan," terang Alit Suardana, Rabu (27/1).

Pihaknya mengakui tudingan soal kurangnya nyobiahang atau sosialisasi karena mengingat Bali masih durundung situasi pandemi. Sehingga sosialisasi tidak memungkinkan karena menghindari kerumunan. Persoalan tersebut, belum menemui kata sepakat saat mediasi. Karena itu, sebenarnya prajuru desa bisa ajukan banding ke MDA tingkat kabupaten namun tidak dilakukan.

Desa Adat Liligundi memilih untuk menyelesaikan masalah itu di internal. Alit Suardana mengakui banyak hal yang perlu dibahas sehingga nanti memunculkan hasil yang baik bagi desa dan warga. "Mudah-mudahan. Dalam minggu ini ada rahina purnama, ada Saraswati, memang akan dilakukan paruman oleh prajuru Desa Adat Liligundi, usai Saraswati. Prinsip desa adat, terpenting mengutamakan damai dan keamanan," sebut Alit.

"Memang kemarin-kemarin sempat direncanakan ditindaklanjuti dalam bentuk sosialisasi. Tapi desa adat menghindari agar masalah ini (krematorium) tidak bias karena pandemi. Supaya tidak ada riak-riak. Akhirnya desa adat yang menyimpulkan dan memutuskan kepastian hukum adat, dikembalikan dan diputuskan ke desa karena ini produk hukum desa adat," terangnya.

Sekretaris MDA Kecamatan Abang I Wayan Eka Arjawa menegaskan, dalam mediasi itu, permasalahan dikembalikan ke desa adat. Pihaknya hanya memediasi dan tidak memutuskan. Pihaknya telah mengimbau agar pembangunan krematorium tidak dilanjutkan sementara sebelum ada pertemuan dan kesepakatan yang dihasilkan di internal. "Jadi desa adat Liligundi akan bahas lagi di internal," ujar Eka Arjawa membenarkan. 

Seperti diketahui, beberapa perwakilan krama sempat mendatangi Kantor Perbekel Bebandem untuk menyampaikan keberatan. Pada akhirnya, prajuru Desa Adat Liligundi dan perwakilan krama dipertemukan dalam mediasi, belum lama ini. Warga menyampaikan keberatannya karena pembangunan krematorium yang sudah dimulai sejak 14 Januari lalu belum mendapat persetujuan warga. Karena itu mereka meminta adanya sosialisasi terlebih dulu.

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news