Sabtu, 24 Jul 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Sosok Mayuni, Perempuan Penekun Seni Nyurat Lontar Prasi

06 Februari 2021, 16: 54: 28 WIB | editor : I Putu Suyatra

Sosok Mayuni, Perempuan Penekun Seni Nyurat Lontar Prasi

PRASI: Deretan lontra prasi karya I Gusti Agung Rai Mayuni yang dipamerkan di Art Centre Denpasar, serta yang masih dipajang di galeri miliknya. (I GUSTI AGUNG RAI MAYUNI for BALI EXPRESS)

Share this      

Tradisi menyurat lontar prasi diperkirakan ada bersamaan dengan tradisi nyurat atau menulis di daun ental. Istilah prasi digunakan untuk teknik menggambar diatas daun lontar, gambar yang dihasilkan memiliki nilai positif dan magis, sehingga menjadi daya tarik yang luar biasa. Salah satu penekun seni nyurat lontar prasi yakni I Gusti Agung Rai Mayuni, S.Pd. Perempuan kelahiran Desa Sukahat, Karangasem, pada 23 Februari 1992 ini menekuni seni menulis lontar sejak kelas 4 sekolah dasar.  

 

DARAH seni mengalir dari sang ayah I Gusti Agung Ngurah, S.Pd. yang juga penggiat seni nyurat lontar. Perempuan yang akrab disapa Mayuni ini mengungkapkan, kala itu ketertarikan terhadap lontar prasi mulai ada ketika melihat sang ayah yang mampu menopang perekonomian keluarga dengan menyurat lontar prasi. Dengan latihan dan kerja keras, Mayuni akhirnya mampu menghasilkan sebuah karya lontar prasi dengan judul Ramayana, yang dijual Rp 25 ribu per cakep. “Namanya anak kecil pasti senang sekali bisa menghasilkan uang sendiri walaupun tidak seberapa,” jelasnya.

Baca juga: UU Cipta Kerja Menguntungkan Buruh

Mayuni yang juga Penyuluh Bahasa Bali di Desa Lokasari, Karangasem, menyebutkan, menyurat lontar prasi memiliki tantangan yang cukup berat. Jika biasanya menggambar atau melukis dilakukan diatas kertas atau kanvas dengan menggunakan pensil, maka dalam lontar prasi melukis dilakukan diatas daun lontar dengan menggunakan alat pangerupak/pangutik. “Dibutuhkan kesabaran dan ketelitian ekstra. karena melukis dengan pangutik tidak semudah melukis dengan pangerupak,” ucap perempuan 29 tahun ini.

Membuat cerita bergambar diatas daun lontar juga bukan perkara yang mudah. Pengolahan daun lontar dengan benar dapat memengaruhi hasil gambar. Hal inilah yang menyebabkan dalam proses produksi lontar prasi, Mayuni lebih memilih menggunakan daun lontar hasil olahan sendiri. Secara umum, pengolahan daun lontar untuk dapat dijadikan media tulis dilakukan dengan membersihkan daun lontar, kemudian merebus dan menjemur. Akan tetapi dengan teknik rahasia yang dimiliki, menjadikan lontar produksinya lebih mudah untuk dilukis. “Ada teknik khusus dengan penambahan rempah-rempah yang membuat lontar ini mudah dilukis,” jelasnya.

Lontar prasi biasanya merupakan gubahan dari karya sastra yang berbentuk kekawin, kidung, parwa dan cerita tantri yang diwujudkan dalam satu cakepan. Dalam satu cakep lontar prasi dapat tersusun dari puluhan atau ratusan tepesan, sesuai dengan panjang dan pendeknya bangunan cerita yang dikisahkan. Jenis lontar prasi ini dapat dinikmati dengan adegan demi adegan gambar yang bercerita. Akan tetapi saat ini lontar prasi telah banyak dimodifikasi, tidak hanya menulis cerita bergambar, tetapi lebih fokus pada watak-watak pewayangan yang digambar secara penuh dalam satu cakepan. “Sekarang sudah dimodifikasi lebih fokus ke watak-watak pewayangan, sehingga dalam satu cakep itu hanya ada satu gambar penuh bisa dibilang menyerupai lukisan,” jelansya.

Selain dimodifikasi isinya, lontar prasi juga dimodifikasi fungsinya. Saat ini menulis lontar prasi tidak saja digunakan untuk kepentingan alih bahasa, tetapi nyurat prasi di daun lontar juga digunakan untuk membuat berbagai keperluan surat menyurat, seperti kartu undangan, sertifikat maupun piagam. Dengan berbagai permintaan konsumen tersebut, semakin menambah peluang ekonomi bagi penekun seni lontar ini. “Tergantung permintaan konsumen, terakhir kami buat sertifikat dari salah satu perusahaan,” tutupnya. (win)

(bx/wid/yes/JPR)

 TOP