Selasa, 02 Mar 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Jro Bendesa Adat Adu Pidarta Mabasa Bali, 2 Kabupaten Absen

18 Februari 2021, 08: 33: 18 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Jro Bendesa Adat Adu Pidarta Mabasa Bali, 2 Kabupaten Absen

LOMBA : Lomba pidato antar -Bendesa Adat di Gedung Ksiarnawa, Taman Budaya Denpasar, Rabu (17/2).  (istimewa)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Keseruan Wimbakara (lomba) Pidarta Basa Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali 2021 Tingkat Provinsi Bali berlangsung di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Denpasar, (17/2). Pasalnya, peserta yang tampil adalah para panglingsir desa pakraman, yaitu Jro Bendesa Adat yang diutus  mewakili kabupaten/kota se -Bali.

Kegiatan yang diformat menerapkan protokol kesehatan  ketat dan terbatas ini, diikuti 7 peserta mewakili daerahnya, yakni yakni Kabupaten Klungkung, Badung, Gianyar, Karangasem, Bangli, Buleleng dan Kota Denpasar. Sedangkan dua kabupaten, Tabanan dan Jembrana tahun ini tidak mengirimkan dutanya.

Jro Bendesa asal Mengwitani yang mewakili Kabupaten Badung I Putu Wendra sukses sebagai jayanti (pemenang ) meraih Juara I. Disusul Jro Bendesa wakil Kota Denpasar A.A Ketut Oka Adnyana menempati Juara II, dan wakil Karangasem Jro Bendesa Wayan Suarna meraih Juara III. 

Kelihaian para bendesa menggunakan bahasa Bali sejatinya telah teruji. Dimana seorang Jro Bendesa dalam keseharianya berhadapan dengan kegiatan adat dalam tata bahasa sor singgih, anggah ungguhing basa harus dikuasainya. 

Buktinya, ketika tampil di atas panggung, kemampuan para bendesa, baik tata basa, tetekes atau intonasi suara tak diragukan lagi. Dewan Juri pun mengaku berat  memberikan penilaian, karena rata-rata kemampuan basa Bali Jro Bendesa  cukup bagus. 

Tim Dewan Juri yang terdiri dari Dr. Drs. I Wayan Sugita, M.Si., dosen Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa, Denpasar, I Wayan Jatiyasa, S.Pd., M.Pd., dosen Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Agama Hindu Amlapura, dan Dr. Drs. Anak Agung Gde Putera Semadi, M.Si., dosen Universitas Dwijendra, mengakui kemampun para bendesa dalam menggunakan bahasa Bali yang baik dan benar semuanya bagus. 

Hanya saja, teknik penyampaian pidato yang perlu dipahami. Pidato adalah seni berbicara, ada perbedaan antara pidarta dan dharma wacana. Hal itu harus jelas dipahami, karena esensinya memang berbeda. 

"Kalau pidarta, bagaimana pembicara harus mampu memengaruhi, mengajak dan bahkan memprovokasi audien dari mereka tidak tahu menjadi tahu. Sedangkan dharma wacana tujuannya jelas, yaitu menyampaikan materi agama agar bisa tersampaikan ke pendengar," jelas Wayan Sugita yang juga tokoh drama gong ini.

Pemeran Patih Agung itu menekankan, agar para Jro Bendesa mampu melestarikan bahasa Bali di masing-masing Desa Pakraman. "Saya mengajak agar para tokoh adat, untuk terus melestarikan bahasa Bali, mengajak kaum milenial mendalami bahasa, aksara dan sastra, semoga nglimbak di masyarakat," sarannya. 

Hal senada disampaikan dewan juri lainya A.A Gde Putera Semadi, M.Si., yang sangat mengapresiasi kegiatan lomba pidato bahasa Bali ini.

"Dalam lomba Pidarta Basa Bali ini, saya melihat semua sudah memenuhi kriteria, baik tema, penampilan, tata busana, tata anggah ungguhing basa, dan pesannya, yang harus sesuai dengan tema yang ditetapkan, mulai pamabah ( pembuka), pangaksama ( penyambutan), daging (isi), pangarsa (penutup) sudah terpenuhi," tuturnya. 

Ida Bagus Wiswabajra, S.S., M.Si., selaku koodinator lomba menjelaskan, Wimbakara Pidarta Basa Bali yang diikuti 7 kabupaten/kota se-Bali mengangkat tema 'Wana Bhuwana: Utsaha Nglestariang Wana ring Jagat Bali'. 

Dijelaskannya, kriteria lomba pidato kali ini, para peserta lomba menyiapkan materi atau naskah pidato yang disusun oleh peserta  menggunakan Bahasa Bali Alus. Waktu penyajian pidato untuk masing-masing peserta 10 – 12 menit. " Lomba pidarta yang dinilai adalah penampilan, pengolahan tema, penguasaan materi, bahasa dan amanat," terang Wiswabajra.  

(bx/ade/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news