Selasa, 02 Mar 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Lontar Dharma Pemacul; Acuan Petani Bali dalam Bercocok Tanam

18 Februari 2021, 21: 56: 42 WIB | editor : I Putu Suyatra

Lontar Dharma Pemacul; Acuan Petani Bali dalam Bercocok Tanam

PERTANIAN: Aktivitas pertanian warga di Bali. Bagi masyarakat Hindu Bali, dalam setiap aktivitas pertanian, mulai dari pemilihan benih, hingga upacara persawahan diatur dalam sejumlah lontar. (DIAN SURYANTINI/BALI EXPRESS)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Kehidupan masyarakat Bali dari jaman dulu hingga saat ini masih berkutat di bidang pertanian, walaupun ada pula yang bergantung pada bidang lainnya. Di tengah gempuran jaman modern ini, pertanian di Bali masih tetap eksis. Masyarakat Bali di pedesaan yang masih bergantung pada bidang pertanian, kerap melakukan serangkaian upakara yang ditujukan agar mendapatkan hasil panen yang baik.

Kepercayaan akan hal itu bukanlah sebuah takhayul. Kepercayaan akan persembahan yang ditujukan di persawahan tertera dalam Lontar Dharma Pemacul yang memang mengatur tentang persawahan. Akan tetapi dalam lontar ini lebih banyak membahas tentang upakara yang menjadi persembahan.

Dulu manusia sangat menyadari hidupnya diberkati oleh alam, sehingga segala sesuatu yang akan diperbuatnya selalu memohon izin kepada alam. Begitu pula setelah mereka berhasil menyelesaikannya, mereka juga melaporkannya kepada alam sebagaimana yang dikatakan cakrawayu dalam tumbuhnya wewaran (sebuah mitologi) yang pada awal mulannya wariga lebih banyak digunakan sebagai padewasan Dharma Pemacul ini. Sebagai kelengkapan dalam upacara keagamaan untuk subak di Bali, disebutkan beberapa tentang penggunaan tetandingan banten dan mantra, mulai dari mengawali bertani, sarana yang digunakan jika diserang hama wereng, sampai memanen. Seperti halnya disebutkan, saat ngendangin (mengawali bertani), sarananya adalah aneka buah, daun sirih, daun sulasih, kembang payas, minyak wangi, bubuk wangi, dan dihaturkan kesanggah sawah. Mantranya Ong Bhatari Sri, Sri Wastu Ya Namah Swaha.

Ketetapan lain saat menanam padi sebaiknya disebutkan disesuikan dengan sasih. Apabila memanen padi disawah harus diperhatikan ketetapan Sapta Wara, Sri dan Guru dengan hari baik (ala ayuning dewasa) paroh terang atau paroh gelap, jumlah helaian padinya 108.

Adapun uraian isi Lontar Dharma Pemacul itu menyebutkan perihal bhatara-bhatara yang berstana di beberapa tempat, seperti Besakih, Batur, Uluwatu dan beberapa tempat lainnya. Terakhir Sang Baka Bhumi berstana di Ulun Swi sebagai sumber kehidupan disawah. Itulah sebabnya setiap upacara pada Sasih Kapat masyarakat Bali di Besakih kerap menggunakan kerbau hitam sebagai pemapag yang disertai dengan satu buah babi guling, satu buah guling bangkit, lima buah banten suci, satu ekor perencah babi diolah lengkap, renteng dan tetayen.

Menurut bhisama yang juga tertera dalam Lontar Dharma Pemacul ini, apabila upacara pengaci di Ulun Swi dihentikan, baik ke hadapan bhatari di Masceti, Rambut Sedana maupun ke hadapan Bhatara Sri, maka hasil panen akan berkurang. Sebab sari patinya telah kembali kepada bhatara di Gunung Agung dan Batur. Keadaan menjadi panas dan kering, banyak penyakit dan manusia dirundung kesengsaraan.

Salah satu upacara yang diatur dalam lontar itu adalah upacara ngerasakin. Upacara ini didahului dengan membuat sanggah tutuan di sawah. Banten yang ditempatkan pada sanggah tutuan berupa, peek adanan lakah a besik, daksina dadua, jrimpen yang dihaturkan di bawah berupa sesayut pengambean, peras penyeneng, lis dan bija kuning, grasak bebek sepasang. “Kalau di lontar ini membahas tetang pecaruan-pecaruan yang ada di perwasahan. Seperti ngerasakin contohnya. Diatur pula caranya seperti apa,” ujar Putu Suarsana, staff pembaca lontar UPTD Gedong Kirtya.

Lontar Dharma Pemacul ini juga berkaitan dengan beberapa lontar pertanian. Salah satunya adalah Lontar Aji Pari. Selain itu, juga terkait dengan Lontar Pesesawahan, dan Lontar Sri Purana Tatwa. Inilah yang membahas tentang pertanian yang ada di Bali. Lontar-lontar inilah yang digunakan dasar para petani bercocok tanam, memilih benih yang bagus, upacara di persawahan, seperti nangluk merana. Diberikan pecaruan, agar hasil panen melimpah dan terhindar dari hama demi kesejahteraan petani atau pemilik sawah, dari segala tanaman yang di tanam di sawah. “Nah isi dari ketiga lontar yang terkait dengan Dharma Pemacul juga tidak jauh beda. Secara umum juga membahas mengenai upakara. Secara garis besar, lontar-lontar itulah sebagai acuan petani bali dalam bercocok tanam,” tambahnya.

Aji Pari berarti ilmu padi. Lontar ini ditulis dengan bahasa Jawa kuno dan merupakan salah satu lontar yang memuat ajaran tentang pertanian tradisional. Aji Pari berada dalam kategori yang sama dengan lontar-lontar pertanian, seperti Usada Taru Pramana, Aji Janantaka, Usada Carik, dan sebagainya.

Aji Pari secara umum berisikan mantra-mantra tentang keagungan padi, mulai dari ketika ditanam hingga pascapanen. Lontar ini sangat terkait dengan organisasi Subak, yang diperkirakan telah ada sejak abad kesembilan. Dalam organisasi Subak, terdapat banyak upacara khusus untuk padi, mulai dari sebelum menanam hingga setelah panen. Dengan kata lain, padi diperlakukan seperti manusia yang mengalami fase-fase perkembangan.

Lontar Aji Pari mengibaratkan padi sebagai pohon suci yang merupakan wujud Dewi Sri (Dewi Kemakmuran) sebagai pohon. Karena itu, dalam setiap fase perkembangan padi, ia diberi nama-nama yang berbeda. Lontar Aji Pari mengungkap masyarakat Bali dan Jawa tradisional sangat menghormati tanaman padi sebagai sumber makanan yang paling utama dalam masyarakat agraris.

Berdasarkan apa yang termuat dalam Lontar Aji Pari, dapat diduga bahwa bibit padi yang ada di Bali berasal dari Jawa, tepatnya pada zaman Airlangga atau sebelumnya. Barangkali pada waktu itu ada spesies padi asli Bali, namun secara alegori lontar ini menyatakan, Bhatara Sri datang dari Kamulan (Jawa Timur). Ini mengindikasikan, terdapat pengembangbiakan spesies padi yang lebih baik di Jawa Timur pada waktu itu, yang kemudian dikembangkan juga di Bali.

(bx/dhi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news