Selasa, 02 Mar 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Pura Taman di Desa Bila Tempat Memohon Kawisesan

19 Februari 2021, 10: 42: 56 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Pura Taman di Desa Bila Tempat Memohon Kawisesan

PINGIT: Suasana areal Pura Taman di Desa Bila, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, yang dikenal pingit dan tempat favorit memohon kesaktian. (Dian Suryantini/Bali Express)

Share this      

BULELENG, BALI EXPRESS-Desa Bila di wilayah Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng merupakan salah satu desa tua yang ada di Gumi Panji Sakti bagian timur. Desa ini pun menyimpan beberapa fakta unik dan sakral. Salah satunya adalah Pura Taman.

Pura Taman terletak di pinggir sungai, tepatnya di seberang Tukad Daya dari lokasi pembangunan Bendungan Tamblang. Pura yang juga dikenal dengan nama Pura Pingit ini, bahkan menjadi lokasi favorit untuk memohon kewisesan atau kesaktian.

Tertarik nangkil atau sembahyang?  Tak sulit menuju kawasan yang disakralkan ini, meski cukup menantang. Akses untuk menuju pura, bisa dilalui dengan sepeda motor. Namun, perjalanan harus dilanjutkan kembali dengan berjalan kaki menyusuri hutan. Kini sudah ada tangga yang dibuat untuk menuju pura. Pamedek (umat yang datang) harus berjalan lagi sepanjang satu kilometer.

Sebelum sampai ke lokasi pura, biasanya akan diawali dengan persembahyangan pada sebuah batu paras yang besar. Konon tempat itulah tempat pertapaan para raja yang ingin memohon anugerah.

Akan tetapi ketika piodalan yang dilaksanakan pada Tilem Kalima, yang melakukan persembahyangan di tempat itu hanya pemangku dan para sutra. Pamedek jarang yang melakukan persembahyangan di tempat itu, karena tempatnya sempit. Persembahyangan pun dilakukan di bagian bawah. 

“Sebenarnya dahulu kata para tetua, disinilah jeroannya. Disini tempat bertapanya. Tapi karena tidak memungkinkan menampung banyak orang, jadi ngayat (doa) dari bawah atau jabaan,” ungkap Ketut Artawa, mantan perbekel Desa Bila periode 2003, kemarin.

Setelah melakukan persembahyangan di jeroan, dilanjutkan ke lokasi Pura Taman. Disana terdapat satu palinggih yang berbentuk bebaturan. Tidak ada bangunan palinggih atau bangunan lainnya. Hanya sebuah tebing dengan batu pilah yang telah menyatu. Kemudian tempat itu pun dikelilingi pagar gedeg. 

Dari celah bebaturan itu merembes air bening yang berasal dari sumber mata air. Airnya tidak pernah surut dalam kondisi apapun. Selain itu, pada bebaturan sepanjang tepian sungai juga terdapat rembesan air yang cukup deras. Itu berjumlah 11 macam tirta.

“Ada tirta yang keluar dari bebaturan itu, mungkin dibaliknya ada sumber air. Disana juga ada 11 macam tirta yang keluar dari bebaturan. Tirta-tirta itu bisa untuk penyembuhan. 11 tirta itu dari arah timur. Itulah yang dicari orang ketika ingin belajar kawisesan," urainya. 

Dikatakan Ketut Artawa, macam-macam tirta ada. "Untuk penyembuhan ada, untuk berperang ada, untuk upacara panca yadnya juga ada, untuk kekuatan pun ada. Semuanya lain-lain fungsingnya. Masih belum ada namanya tirta-tirta itu,” ujarnya lagi.

Keberadaan Pura Taman ini konon berawal dari cerita adanya pasraman. Pasraman tersebut sering didatangi oleh para raja yang ingin meningkatkan kemampuannya dari segala lini. 

Pasraman ini sering digunakan sebagai tempat memohon wahyu. Pasraman itu berdiri saat pemerintahan Raja Dharmawangsa.

Suatu hari Raja Buleleng, Raja Djelantik Gingsir datang ke pasraman untuk bersemadi, memohon taksu, juga anugerah agar dapat menghadapi serangan Belanda kala itu. 

Berbagai macam godaan menghampiri Raja Djelantik saat semadi. Ada tikus yang bisa main seruling, namun pertapaannya tidak terganggu. Begitu pula saat diganggu sosok yang tinggi besar. Pertapaannya berjalan mulus. 

Akan tetapi untuk yang ketiga kalinya ia mengalami kegagalan, karena terdapat ular naga yang besar melintasi sungai. Sehingga air sungai pun bergelombang (ngelencok). Anehnya air sungai itu biasanya akan datang dari arah selatan, namun air sungai tersebut datang dari arah utara. Atas peristiwa itu, Raja Djelantik langsung terbangun dan berlari. Maka ia gagal mendapat anugerah saat itu. 

“Dahulu tempat itu adalah pasraman. Para raja yang ingin meningkatkan kapradnyanannya selalu masuk ke sana dan bertapa disana. Mereka memohon wahyu di sana. Karena beliau kembali, dan tidak mendapat anugerah, maka ketika melawan Belanda agak kewalahan. Jadi (cerita) itu yang saya terima dari para tetua,” katanya.

Menurut Artawa, di Pura Taman berstana dua sosok, laki-laki dan perempuan. Akan tetapi memiliki satu nama. Masyarakat dan para tetua dahulu menyebut hanya Ratu Ngurah Pingit. “Ada dua yang berstana disana. Ada lanang dan istri. Yang sering muncul yang istri, tapi penguasanya adalah yang lanang. Beliau disebut Ratu Ngurah Pingit. Piodalannya pada saat Tilem Kalima,” lanjutnya.

Di Pura Taman atau Pura Pingit itu juga tersimpan beberapa lempeng prasasti yang diyakini ada sejak tahun Saka 945 atau pada tahun 1023 Masehi. Dalam prasasti itu salah satunya tersirat tentang perpajakan.

“Karena yang malinggih di sana itu sangat melindungi masyarakat Bila, dan kami masyarakat Bila sesungguhnya adalah masyarakat yang ditunjuk oleh Raja Dharmawangsa saat itu sesuai dengan Prasasti Bila I untuk menjaga pasraman tersebut,” kata Artawa.

Dalam prasasti itu juga disebutkan, para abdi raja tidak boleh meminta apapun dari masyarakat Desa Bila, apabila mereka belum melakukan suatu pekerjaan disana. Itu dicantumkan disana. Prasasti itu disebut Prasasti Bila I dan Prasasti Bila II atau prasasti Sawan I dan Sawan II. 

Kenapa disebut Sawan? Sebab konon ada warga dari Sawan, membawa prasasti itu ke rumahnya. Saat disimpan di sana, keluarga tersebut mengalami sakit.

“Karena sakit dan tertimpa musibah. Maka dikembalikan lagi ke Bila. Itu angka tahunnya kalau tidak salah sekitar 1900-an saat dikembalikan. Biar tidak salah, prasasti itu tidak dicuri. Tapi dibawa ke tempatnya di Sawan,” jelasnya.

Saat ini prasasti tersebut telah dipindahkan ke Pura Bale Agung di Desa Bila. Pemindahan prasasti itu dilakukan karena ada proyek pembangunan Bendungan Tamblang dan terdapat aktivitas kendaraan.

“Karena ada proses pembangunan bendungan, maka prasasti itu dipindahkan ke Pura Bale Agung. Takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, makanya kami bersama prajuru desa setuju untuk memindahkan,” terangnya.

Dikatakan Artawa, aura magis di wilayah tersebut sangat kuat. Dan benar saja, saat Bali Express (Jawa Pos Group) mengunjungi pura tersebut beberapa waktu lalu, memang terasa sangat asing. Sekilas bulu kuduk merinding karena lokasi tempat pertapaannya berada di tengah hutan dan dipenuhi semak serta ranting-ranting pohon yang menjuntai ke bawah. Konon kekuasaan Ratu Ngurah Pingit sampai ke Lampung dan ke Jawa Barat di Gunung Salak. 

(bx/dhi/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news