Kamis, 04 Mar 2021
baliexpress
Home > Features
icon featured
Features

Kisah Bisnis Sex Toys; Perempuan Lebih Suka ‘Dijelajah’ (3-Habis)

19 Februari 2021, 20: 33: 47 WIB | editor : I Putu Suyatra

Kisah Bisnis Sex Toys; Perempuan Lebih Suka ‘Dijelajah’ (3-Habis)

PEMUAS: Sex Doll yang menjadi boneka pengganti untuk kepuasan laki – laki. Untuk jenis ini termasuk harganya tembus jutaan. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

Banyak pedagang sex toys yang berjualan sembunyi-sembunyi. Sukanya dihubungi melalui chat. Banyak perempuan pengen main tapi niatnya disembunyikan. Sukanya diserang duluan.

 

NI KADEK RIKA RIYANTI, Denpasar

MENURUT pengakuan Bapak X, masyarakat di sekitar tempatnya mengais rejeki tahu apa yang ia jual. Bahkan, ini terbukti saat pertama kali Tim Bali Express (Jawa Pos Group) mencari lokasi dan sempat salah toko. Dengan hapal, salah satu warga sekitar menunjuk tokonya saat tim memperlihatkan gambar etalase toko. Ia pun berasumsi, mungkin saja salah satu masyarakat sekitar pernah menjadi pembelinya.

Disinggung terkait apakah Bapak X pernah dicari petugas dan semacamnya, hingga saat ini dia mengaku tidak pernah. Masyarakat di sini pun tidak ada protes terkait barang dagangannya. “Seperti kemarin malam, karena PPKM semua toko tutup pukul 21.00. Toko di sebelah masih siap-siap tutup, jadi ada petugas yang nanya ke sana,” kata dia. “Terus mampir juga ke sini. Nanya saya jualan apa, ya saya tunjuk jualan itu. Mereka hanya mengiyakan lalu pergi. Tapi selama saya ngontrak di sini, nggak pernah diminta surat izin jualan atau sebagainya,” sambungnya.

“Menurut saya, kebanyakan mungkin orang berpikir, adanya toko seperti ini di Bali, bagus juga untuk menunjang ekonomi. Karena kalau bawa barang beginian dari luar negeri ke sini, itu bisa ditangkap beacukai,” katanya.

Dia mengklaim, di Denpasar, hanya dirinya satu-satunya yang membuka toko khusus menjual sex toys. Sedangkan yang lainnya rata-rata berjualan melalui online. “Yang lain rata-rata jual online di rumah, sembunyi-sembunyi. Tidak ada koneksi antar penjual, tidak ada grup-grup di whatsapp tidak ada,” tambahnya.

Keluh-kesahnya berjualan sex toys hanya seputar pembeli. Banyak sekali pengalaman ditipu pembeli yang dialaminya. Mulai dari customer fiktif hingga batal pesan di tengah jalan. “Pernah ada yang minta cash on delivery (COD) di Ubud. Belum ketemu di tengah jalan saya sudah diblokir,” katanya.

Sebelumnya, sempat viral seorang binaragawan asal Kazakhstan yang menikahi sex doll. Mereka dikabarkan bertunangan pada Desember 2019. Dimintai tanggapannya, Bapak X mengaku tidak tahu-menahu terkait berita tersebut. “Wah, saya nggak dengar berita itu, sama sekali nggak dengar. Walaupun saya jualan seperti ini, saya tidak terlalu mengikuti karena fokus kan tidak di situ,” kata dia.  Tapi menurut saya pribadi itu tidak baik ya, menyalahi aturan Tuhan kalau sampai menikahi sex doll. Saya sendiri tidak menganjurkan walau saya menjualnya,” sambungnya.

Di sisi lain, dari lima orang yang secara acak diwawancarai terkait sex toys, keseluruhan mengaku mengetahui alat bantu seksual tersebut. Hanya saja, tiga orang enggan diwawancarai lebih lanjut dan dua orang hanya menjawab sekadarnya. Salah satunya, Haris, laki-laki asli Denpasar itu mengaku hanya mengenal dildo dan sex doll. “Laki-laki normal pasti tahu apa itu sex toys. Tapi yang saya tahu hanya dildo dan sex doll, sisanya pernah dengar tapi tidak benar-benar paham,” ungkapnya.

Tim Bali Express pun iseng berselancar di media sosial dan mencari postingan terkait sex toys di Bali. Pada komentar yang ditinggalkan, ada yang mengatakan sex toys tidak berfaedah, ada yang marah karena tidak disertai alamat penjual, bahkan ada akun bodong yang berkomentar bahwa pihaknya menerima layanan plus-plus.

Berangkat dari topik tersebut, tim Bali Express mencoba menghubungi dan menanyakan penjelasan dari Ketua Asosiasi Seksologi Indonesia Cabang Bali, dr. Made Oka Negara terkait sex toys terutama fenomena sex doll.

Menurut penuturannya, sex doll merupakan boneka yang secara seksual bernilai dan dikemas dengan erotis, cantik, dan bernuansa perempuan. Sex doll ini kebanyakan diproduksi berjenis kelamin perempuan karena lebih ramai digandrungi laki-laki. Hingga saat ini, sex doll yang paling canggih adalah Roxxxy.

Oka Negara mengatakan, sex doll menjadi pilihan alternatif karena dinilai pasif. Yang mana bisa diperlakukan sesuai kehendak si empunya, dalam hal ini laki-laki. “Misalkan si laki-laki sedang ingin melakukan hubungan seksual, tinggal ambil sex doll. Saat berhubungan seksual mau diapakan saja, dicium, dipeluk itu bisa dan bebas. Artinya karena sex doll ini nurut sesuai keinginan laki-laki,” ujarnya. “Tidak seperti pasangan umumnya, mesti menunggu mood, belum lagi kalau ada tamu bulanan tapi si laki-laki ingin. Selain itu si laki-laki harus berespon, misalnya si perempuan maunya diapakan, dicium, atau payudaranya dirangsang lama-lama. Itu pada sex doll tidak terjadi karena mereka tidak menuntut. Itu kelebihannya,” sambung dia.

Secara emosional, sex doll bisa mengikuti kemauan pihak laki-laki walaupun tidak secara alamiah. Padahal, menurut Oka Negara, hubungan yang sehat adalah hubungan yang berjalan alamiah. “Ada sharing, give and take, itu yang tidak didapatkan dengan sex doll,” katanya.

Dia merangkum, seseorang menggunakan sex doll karena tiga alasan. Pertama, karena suka bervariasi dan ingin tahu. Selain itu juga karena tidak memiliki pasangan. Dua, bervariasi dan punya pasangan. Yang mana, pasangannya mengetahui dan sex doll hanya digunakan seperlunya. “Yang ketiga ini karena tidak memiliki kepercayaan diri atau menolak untuk membina relasi. Ada juga yang sangat ingin mendominasi dalam hubungan seksual,” paparnya.

Namun, apakah nantinya keberadaan sex toys, dalam hal ini sex doll menjadi hal biasa di Bali? Oka Negara menjelaskan, sex toys dan sex doll sudah diketahui semua negara. Pada gradasi yang berbeda. Di luar negeri, umumnya mereka mengenal dan mengetahui bagaimana memanfaatkan sex doll dan dimana bisa mendapatkannya. “Di Bali berpikirnya itu jauh di luar negeri. Kemudian karena masih mempermasalahkan aspek legalnya. Jadi belum biasa bagi orang Bali asli. Tapi misalnya sudah dipromosikan sedemikian rupa, izinnya sudah legal, banyak yang testimoni, kalau sudah terbuka seperti itu bisa diadaptasi. Karena hal seperti ini mudah sekali diadaptasi,” jelasnya.

Selanjutnya muncul pertanyaan, mengapa pembeli sex toys mayoritas perempuan? Oka Negara memaparkan, secara bentuk dan kebutuhan, sex toys lebih diminati perempuan. Lantaran laki-laki membutuhkan sensasi yang lebih hebat dari sekadar pengganti kelamin perempuan. “Karena laki-laki lebih senang bereksplorasi dengan tubuh perempuan. Dari bibirnya, payudaranya, tubuhnya, jadi kalau dia beli sex toys itu vaginator hanya mendapat seonggok benda saja. Ya lebih mendingan masturbasi sendiri tanpa alat bantu,” katanya.

Sementara perempuan, diakuinya, sangat suka dirangsang di bagian tubuh tertentu. Perempuan juga senang tubuhnya dieksplorasi. Karenanya, dengan sex toys,dia bisa dengan leluasa merangsang peka rangsangannya. “Hal ini juga menyangkut ekspresi. Di luar negeri sudah biasa berekspresi baik laki-laki maupun perempuan. Dalam berhubungan seksual si perempuan sudah terbiasa ingin bervariasi dengan tambahan sex toys,” kata dia. “ Itu mengapa kebanyakan pembeli orang bule.Tapi di Indonesia, ekspresi seksual perempuan dengan lebih dulu meminta, kadang dicap bandel, jadi mereka menyembunyikan keinginannya. Tidak minta duluan,” tutupnya.  (habis)

(bx/art/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news