Selasa, 02 Mar 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Bukan Keturunan Cina, Tiga Dadia Ini Punya Tradisi Rayakan Imlek

19 Februari 2021, 23: 22: 03 WIB | editor : I Putu Suyatra

Bukan Keturunan Cina, Tiga Dadia Ini Punya Tradisi Rayakan Imlek

PERSEMBAHAN: Tradisi Perayaan Imlek rutin dilakukan tiga dadia di Desa Kayuputih, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali. (ISTIMEWA)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Sebuah kepercayaan unik ternyata ada di Desa Kayuputih, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, tepatnya dilakukan tiga dadia di desa tersebut. Kepercayaan tersebut berupa perayaan Imlek atau yang mereka sebut dengan Galungan Cina. Bahkan mereka lengkap memiliki Konco dan palinggih Hyang Dewa Konco, meskipun mereka sendiri tidak ada yang memiliki ikatan darah atau leluhur berdarah Tionghoa. Lantas seperti apa kisahnya?

Seluruh keluarga biasanya bakal bersuka cita, berkumpul bersama berbagi kebahagiaan ketika perayaan Imlek tiba. Namun tahukah jika perayaan Imlek ternyata tidak saja dilakukan warga Tionghoa. Buktinya di Buleleng yang banyak menyimpan kisah-kisah unik juga memiliki salah satu desa yang merayakan Imlek atau yang mereka sebut dengan Galungan Cina. Desa itu tak lain Desa Kayuputih.

Perayaan Galungan Cina di desa tersebut memang tidak dilaksanakan oleh semua warganya, melainkan hanya dirayakan warga dari tiga dadia. Dadia yang dimaksud masing-masing dari dadia Pasek, dadia Arya dan dadia Pande.

Bukan Keturunan Cina, Tiga Dadia Ini Punya Tradisi Rayakan Imlek

KONCO: Suasana di areal Konco yang berada di Desa Kayuputih, Kecamatan Banjar, Buleleng. (DIAN SURYANTINI/BALI EXPRESS)

Jro Mangku Ni Kayan Parmi, 69, pemangku di Konco tersebut kepada Bali Express (Jawa Pos Group) mengatakan, kepercayaan dan keberadaan Konco di tempatnya tak lepas dari sejarah leluhur mereka. Diceritakan, jika pada jaman dulu di Desa Kayuputih terdapat seorang pedagag Cina. Pedagang tersebut seorang laki-laki. Sehari-hari pedagang ini berjualan keliling dari desa ke desa. Termasuk ke Desa Kayuputih. Sesuai asalnya, pedagang itu juga menggunakan pakaian khas Cina yang disebut Samfoo, baju lengan panjang dengan kancing bermotif khas Tiongkok, dipadupadankan dengan celana panjang yang longgar. Tak lupa pula topi bundar sebagai penutup kepala. Mirib seperti tokoh-tokoh dalam film kungfu mandarin.

Perjalanan pedagang tersebut tak serta merta berjalan lurus. Karena seiring berjalannya waktu, warga di desa mengetahui pedagang Cina itu ternyata menjual madat atau barang terlarang sejenis narkoba. Tidak ingin desanya tercemar dan membahayakan orang banyak karena pengaruh barang terlarang, pedagang tersebut dikejar dan hendak dibunuh. Pedagang itu pun lalu dikejar puluhan warga, hingga ia terus berlari dan masuk ke persawahan, melintasi Munduk Seming, bahkan sampai melintasi wilayah Gesing, Waru, lalu Bolangan di Desa Kayuputih. Saat berlari memasuki persawahan tersebut, pedagang ini akhirnya bertemu dengan seorang kakek yang tengah menggarap sawah. Kakek itu tak lain adalah kakek dari Jro Parmi, yang kini merupakan pemangku Konco.

Kakek ini pun merasa bingung melihat keramaian. Diberitahulah oleh salah satu warga, jika mereka mereka mengejar orang Cina yang merupakan pedagang dan membawa madat untuk dijual. Kemudian warga itu meminjam senjata tajam mirib cangkul kepada si kakek. Pengejaran terus berlanjut hingga akirnya pedagang tersebut tertangkap, lalu dibunuh menggunakan senjata tajam yang dipinjam dari kakek ini. Selanjutnya mayat pedagang itu langsung dikubur di tanah sawah milik kakek tersebut. “Jadi seperti itu awal mula kisah hidup pedagang Cina yang berakhir tragis. Makamnya pun dibiarkan begitu saja di sawah tersebut,” cerita Jro Parmi.

Setelah sekian lama pasca tewasnya si pedagang itu, keluarga Jro Parmi pun mengalami sakit. Bahkan sakit itu tak kunjung sembuh meski telah berobat. Karena tak kunjung sembuh dan menahan sakit terus-menerus, maka keluarganya bertanya pada balian (paranormal, Red). Ternyata dari penerawangan sang paranormal tersebut, sakit yang dialami keluarga Jro Parmi merupakan imbas dari perbuatan leluhur mereka pada jaman dulu yang terlibat dalam pembunuhan pedagang Cina tersebut. “Keluarga saya sakit dulu. Setelah ditanyakan ternyata akibat dari tewasnya pedagang Cina tersebut. Padahal kata tetua dulu, kakek saya hanya dipinjami alat saja,” kata dia.

Tidak hanya keluarga Jro Parmi, banyak kejadian-kejadian aneh yang terjadi. Banyak orang yang sakit lalu akhirnya meninggal. “Banyak sekali. Ada yang tiba-tiba meninggal, ada yang telah sakit lama (ngreres) lalu meninggal. Banyak sekali, begitu seingat saya,” kata Jro Parmi.

Menurut bebaosan (penerawangan paranormal), keluarga tersebut diminta membuat Konco yang diperuntukkan sebagai tempat menyembah roh dari pedagang itu. Meski antara perasaan percaya dan tidak percaya, kenyataannya setelah dibuatkan Konco, keluarga mereka yang sakit berangsur-angsur sembuh hingga sehat seperti sediakala.

“Dari sana kami akhirnya membuat palinggih Hyang Dewa Konco untuk memuliakan rohnya. Singkatnya kami menyembahnya agar tidak kesakitan lagi. Dan sampai sekarang tidak lagi kesakitan. Itu menurut kepercayaan di keluarga kami,” ujarnya.

Selama melaksanakan kewajiban sebagai pemangku di Konco tersebut, Jro Parmi sekali pun tidak pernah mengalami hal aneh. Namun, hal-hal aneh itu terkadang dialami menantunya. Menurut pengakuan menantu perempuannya, ia pernah melihat penampakan orang Cina yang berjalan menuju Konco.

“Mantu saya pernah bertemu. Tapi tidak disapa. Kata mantu saya orang itu berjalan menuju Konco. Yang dia lihat, orang itu memakai kemeja panjang dan celana longgar warna putih juga dengan topinya. Mirib kayak di film-film itu. Mantu saya tidak berani menyapa, lalu ditinggal. Setelah menoleh ke belakang sudah tidak ada siapa-siapa,” tutur Jro Parmi.

Selain keluarga Jro Parmi, keluarga Ketut Langgeng yang merupakan mantan Perbekel Desa Kayuputih juga mengalami hal yang sama. Sehingga keluarganya pun turut menyungsung Hyang Dewa Konco. Dan setiap perayaan Imlek, keluarganya pun ikut merayakannya. “Kemungkinan leluhur kami dulu pernah berbuat salah kepada pedagang itu, sehingga di keluarga kami pun ikut nyungsung. Kami ikut merayakan, walau tidak ada keturunan Cina di keluarga kami. Alasannya ya itu tadi. Karena dahulu pernah terjadi peristiwa yang akhirnya mengakibatkan kami harus nyungsung juga,” ungkapnya.

Seperti penuturan Langgeng, keluarga yang menyungsung dan merayakan Imlek di Desa Kayuputih semuanya murni keturunan Bali. Tidak ada dari keturunan Cina, atau ikatan darah dari keluarga Cina. Cara sembahyangnya pun sama seperti warga Tionghoa. Menggunakan dupa tanpa sarana bunga. Hanya saja di Desa Kayuputih saat merayakan Imlek diiringi dengan Tri Sandya dan Panca Sembah, layaknya umat Hindu. Orang-orang yang datang untuk melakukan persembahyangan biasanya datang menggunakan pakaian nasional, dan ada pula yang menggunakan busana adat Bali.

“Semuanya Bali asli. Tidak ada yang berkulit putih, mata sipit atau yang lainnya seperti saudara kita yang warga Tionghoa. Saya contohnya, mana ada terlihat seperti orang Cina. Kalau dulu saat imlek saudara-saudara Tionghoa yang dari Singaraja pasti datang kesini. Tapi sekarang sudah tidak lagi,” ungkapnya.

Tidak diketahui secara pasti sejak kapan tradisi itu mulai dilakukan. Tidak ada sumber tertulis yang menyebutkan. Tradisi itu berkembang dari penuturan tetua mereka. Apabila menolak untuk menyungsung, maka keluarga itu pun bakal kesakitan. Dari cerita itulah awal masyarakat dari tiga dadia tersebut melaksanakan tradisi Imlek atau Galungan Cina.

Yang unik dari Konco tersebut yakni dibangun dengan bangunan gaya Bali. Pada bagian luar atau jaba terdapat bangunan mirip rumah dengan tiga ruang. Ruang sebelah kiri adalah tempat bersemayamnya Hyang Dewa Konco, roh dari pedagang Cina yang konon tewas terbunuh. Dalam ruangan itu tersimpan benda-benda milik pedagang tersebut. Diantaranya baju-baju tradisional orang Cina, serta salah satu peninggalannya seperti sempoa atau alat hitung orang Cina. Sementara ruang tengah dan kanan adalah tempat sungsungan masing-masing keluarga yang menyungsung Hyang Dewa Konco.

Kemudian di bagian dalam atau jeroan terdapat dua palinggih besar yang dibuat seperti palinggih umat Hindu. Dalam palinggih itu terdapat Patung Dewi Kwan Im, lengkap dengan persembahannya seperti orang Cina. Yang berstana di sana disebutkan Jro Parmi adalah Ida Bhatara Konco. Dan palinggih didepannya adalah patih atau pengayahnya. Lalu disamping palinggih utama terdapat sebuah tempat pembakaran uang kertas yang biasa dilakukan orang Cina saat akhir dari persembahyangan.

Terkait persembahan, sama persis seperti persembahan yang sajikan warga Tionghoa. Ada buah-buahan seperti jeruk, pisang, tebu yang merupakan buah pokok yang harus ada. Kemudian ada macam-macam kue, seperti kue keranjang dan kue lapis, yang juga merupakan kue wajib dalam setiap perayaan Imlek. Selanjutnya ada makanan seperti mie yang menyimbolkan umur panjang serta daging babi dan ayam yang disebut smashing dan oshing. Tidak lupa permen, teh dan arak.

Perayaan Imlek di Konco ini dilaksanakan sehari sebelum perayaan Tilem atau saat Purwani Tilem. Atau singkatnya dua hari sebelum perayaan Imlek nasional. Perayaan Imlek di desa ini pun tidak boleh diselesaikan dalan satu hari saja, melainkan persembahan yang disajikan harus dibiarkan semalam. Malam harinya bakal ada orang yang menginap atau makemit di Konco. Lalu keesokan harinya barulah persembahan bisa diambil atau dilungsur.

Biasanya pada perayaan Imlek yang dilakukan warga Tionghoa, 15 hari kalender Cina setelah perayaan Imlek akan dilakukan perayaan Cap Go Meh yang tak kalah meriah dari perayaan Imlek. Cap Go Meh adalah rangkaian akhir dari perayaan Imlek. Di Konco ini pun sama. Namun dilakukan 14 hari setelah perayaan Imlek. Perayaannya disebut Kuningan atau Nguningan. Perayaan ini merupakan hal terakhir pula dari rangkaian Imlek di Desa Kayuputih.

(bx/dhi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news