Kamis, 04 Mar 2021
baliexpress
Home > Features
icon featured
Features

Hotel Ini Dibangun Tahun 1925, Kamar 77 untuk Tokoh Hebat

20 Februari 2021, 10: 07: 02 WIB | editor : I Putu Suyatra

Hotel Ini Dibangun Tahun 1925, Kamar 77 untuk Tokoh Hebat

WARISAN BELANDA: Hotel Inna Bali Hertitage Hotel saat ini, masih dengan nuansa bangunan lama. (WIWIN MELIANA/BALI EXPRESS)

Share this      

Di Hotel ini, pernah menginap tokoh – tokoh hebat Ratu Elizabeth, Mahatma Gandhi, Jawaharlal Nehru, Soekarno, Soeharto saat masih menjadi Komandan Kostrad, Megawati Soekarnoputri, hingga Presiden RI saat ini, Joko Widodo.

 

Hotel Ini Dibangun Tahun 1925, Kamar 77 untuk Tokoh Hebat

KHUSUS: Kamar 77 langganan orang hebat. (WIWIN MELIANA/BALI EXPRESS)

WIWIN MELIANA, Denpasar  

PENJAJAHAN yang dilakukan oleh Belanda terhadap Negara Indonesia selama 350 tahun menyisakan cerita masa lalu yang hingga kini menjadi sebuah sejarah perjuangan sebelum kemerdekaan.

Tidak hanya sebatas kisah masa lalu, cerita ini juga diperkuat dengan benda-benda maupun bangunan peninggalan zaman Belanda. Salah satu bangunan bersejarah yang hingga kini keberadaanya tetap kokoh dan terawat di tengah Kota Denpasar adalah Inna Bali Heritage Hotel.

Hotel yang dibangun pertama kali pada pertengahan tahun 1925 menjadi saksi bisu peristiwa-peristiwa bersejarah ketika Belanda datang ke Bali.  Awal kedatangan Belanda ke Indonesia bertujuan untuk mencari kekayaan alam khususnya rempah-rempah dan monopoli perdagangan melalui kongsi  dagang Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC). Pada abad ke-17, VOC terlibat perdagangan budak dengan para raja di Bali.

Hubungan para raja Bali dengan Belanda semakin mendalam memasuki abad ke-19. Kontrak-kontrak dagang dan politik berjalan mulus. Kekalahan Bali dalam dua perang besar yaitu Puputan Badung (1906) dan Puputan Klungkung (1908) menyebabkan Bali harus tunduk menyeluruh pada kekuasaan kolonial Belanda. Belanda pun gencar mengembangkan insfrastruktur demi memuluskan misi dagangnya di Bali. Salah satunya membangun Bali Hotel oleh Royal Shipping Company. 

Bali Hotel secara resmi dibuka pada 22 Agustus 1928 sebagai tempat persinggahan untuk para awak kapal Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) sebuah perusahaan pelayaran Belanda untuk kepentingan ekonomi bidang pelayaran dan pariwisata.

Selain sebagai tempat persinggahan para ABK, hotel ini menjadi awal kebangkitan pariwisata yang sangat popular di Bali bagi wisatawan, kolonial kelas atas termasuk seniman dunia. Hotel ini memainkan peran penting dalam pertumbuhan pariwisata di Pulau Bali pada saat itu.

Pada awal pembangunan Bali Hotel hanya dilengkapi dengan fasilitas 20 kamar standar, ruang pertemuan, front office dan loby. Bali Hotel dinasionalisasi pada tahun 1956 dan diganti namanya menjadi Natour Hotel. Pada tahun 1999 Natour Hotel bergabung di PT Hotel Indonesia Natour dan diidentifikasi sebagai hotel warisan bintang 3 pertama di Bali dengan berganti nama menjadi Inna Bali. Ada lima hotel di Bali yang bergabung dengan PT Hotel Indonesia Natour sebagai perusahaan plat merah di antaranya Inna Putri Bali, Inna Bali Beach, Inna Sindhu Bali, Inna Bali, dan Grand Inna Kuta.

Mulanya hotel ini hanya dibangun di sebelah barat jalan Veteran No. 3 Banjar Lelangon Denpasar. Hanya saja pada perkembangannya penambahan kamar hotel terus dilakukan disebelah timur jalan Veteran atau tepat bersebrangan dengan Bali Hotel sebelumnya. Hingga kini Bali Hotel memiliki 70 kamar dengan jenis 2 Suite Room, 28 deluxe room dan 20 standart room. Selain itu, hotel ini juga dilengkapi dengan berbagai jenis ruang pertemuan, rapat, maupun wedding di antaranya Puri Agung meeting room dengan kapasitas 250 orang, Gayatri meeting room dengan kapasitas 100 orang, Saraswati meeting room dengan kapasitas 15 orang, Parwati meeting room dengan kapasitas 70 orang dan Laksmi meeting room dengan kapasitas 70 orang.

Sebagai bangunan warisan Kolonial Belanda tentu hotel ini memiliki ciri gaya khas bangunan Belanda. Ini dapat dilihat dari tiang-tiang penyangga bangunan besar yang merupakan bangunan khas Belanda. Hingga kini kesan mewah dan antik masih bisa dirasakan oleh para pengunjung. Hingga pada tahun 2019 berdasarkan keputusan Wali Kota Denpasar nomor 188.45/1092/HK/2019 Hotel Inna Bali Heritage diputuskan sebagai situs cagar budaya peringkat Kota Denpasar.

General Manager Inna Bali Heritage Hotel Ketut Ari Sulistiari ditemui Wartawan Bali Express (Jawa Pos Group) mengatakan Inna Bali Heritage Hotel merupakan hotel berbintang pertama di Bali, dan kini perkembangannya pra-kemerdekaan lebih banyak dimanfaatkan sebagai tempat pertemuan untuk acara pemerintahan, institusi, corporate dan wedding party. Sebagai warisan cagar budaya tentu pihak management hotel memiliki kewajiban untuk memelihara dan menjaga bangunan bersejarah itu.

Dari keterangan Aris Sulistiari dikatakan bahwa Inna Bali Heritage telah dilakukan beberapa kali renovasi. Pemindahan lobi  dan front office dengan dibuatkan bangunan baru tanpa menghilangkan ciri khas bangunan lama. Pembangunan lobi dan front office yang baru sengaja dimatchingkan dengan bangunan lama. “Pilar-pilar yang tinggi modelnya sama dengan bangunan asli, bahkan ubinnya sengaja kami pesan agar terlihat seperti bangunan lama tetapi tidak meninggalkan kesan mewahnya,” ungkapnya.

Sebagai bangunan lama, tentu kerusakan terjadi sehingga perlu dilakukan perbaikan, namun perbaikan  yang dilakukan tidak akan pernah menghilangkan bangunan asli. Bahkan terdapat dua tempat yang dipertahankan bentuknya dari zaman Belanda yaitu lobi lama yang sekarang menjadi Warung Shinta Restauran dan front office lama yang saat ini menjadi pintu masuk ke Puri Agung meeting room. “Dua bangunan ini sama persis ketika  baru dibangun Belanda tidak ada yang berubah ini terlihat dari tiang-tiang penyangga bangunan besar yang menjadi ciri khas bangunan Belanda,” ungkapnya.

Tidak saja bersejarah karena dibangun zaman Belanda, Inna Bali Heritage Hotel juga sebagai hotel kelas internasional pertama di Bali. Inna Bali Heritage Hotel pernah menjadi tempat persinggahan para negarawan dunia awal abad ke-20. Di barisan kamar deluxe di timur Jalan Veteran ini pernah menginap Ratu Elizabeth, Mahatma Gandhi, Jawaharlal Nehru, Soekarno, Soeharto saat masih menjadi Komandan Kostrad, Megawati Soekarnoputri, hingga Presiden RI saat ini, Joko Widodo.

Pada 23 Juli 1952, Soekarno pernah menjamu Presiden Filipina, Elpidio Quirino. Uniknya, tokoh-tokoh dunia tersebut selalu menginap di kamar nomor 77. Semangat Bung Karno menyala di kamar ini. Bapak Proklamator RI itu selalu beristirahat di kamar sama setiap berkunjung ke Bali, tepatnya sebelum berpidato di alun-alun Kota Denpasar, atau sebelum melanjutkan perjalanan ke Istana Tampaksiring di Gianyar.

Hingga saat ini kamar nomor 77 dan kamar nomor 50 yang merupakan jenis suite room selalu ditempati oleh orang-orang penting maupun pejabat-pejabat negara ketika menginap di Inna Bali Heritage Hotel. Kedua kamar ini merupakan kamar istimewa yang dimiliki hotel dengan berbagai fasilitas untuk memanjakan tamu. “Ya kamar ini menjadi dua kamar yang paling sering ditempati oleh pejabat-pejabat penting karena memang kami cuma punya dua dan hanya orang-orang tertentu saja yang menyewa kamar ini,” ungkap Sulis.

Hotel yang terletak di jantung Kota Denpasar ini berdekatan dengan pusat pemerintahan, bisnis, belanja, dan hiburan. Jaraknya 20 menit dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, dan sekitar 10 menit dari Pantai Sanur. Letaknya yang cukup strategis sehingga memudahkan pengunjung untuk menjajal sederet obyek wisata sejarah di Denpasar, mulai dari Monumen Puputan Badung, Museum Bali, Kompleks Pertokoan Gajah Mada, Pasar Seni Kumbasari, Pasar Badung, Museum Bali, dan Pura Jagadnatha. (*)

(bx/art/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news