Kamis, 04 Mar 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Maha Gita Dwijendra Ingatkan Jaga Hutan Secara Sekala-Niskala

21 Februari 2021, 17: 32: 41 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Maha Gita Dwijendra Ingatkan Jaga Hutan Secara Sekala-Niskala

PENTAS : Pementasan sanggar Seni Maha Gita Dwijendra secara virtual.  (istimewa)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Sanggar Seni Maha Gita Dwijendra  turut meriahkan sasolahan (pentas) Seni Sastra, serangkaian  Bulan Bahasa Bali 2021dengan  mengangkat judul 'Abhisekaning Ratu'. 

Garapan seni berbentuk fragmentari itu telah ditayangkan secara virtual Sabtu (20/2). Sesolahan sastra ini bersumber pada sastra, sehingga pesan yang disampaikan begitu kental, yakni  menjaga kelestarian hutan secara sekala dan niskala. 

Sebab, selain menjadi sumber oksigen, hutan secara niskala dijaga oleh pasukan Bhatari Melanting, sehingga tetap terjaga. Sasolahan Seni Sastra mengangkat jisah Bhatari Melanting di hutan sisi Barat Pulau Bali, yang ada dalam Babad Brahmana Catur dan Dwijendra Tattwa. 

Adapun kisahnya, yakni Dang Hyang Nirartha bersama keluarganya memutuskan untuk menuju Pulau Bali setelah kerajaan Majapahit runtuh. Hanya bersaranakan daun Labu, ia menyeberang Segara Rupek, lalu tiba di hutan sisi barat Pulau Bali. 

Seekor kera menunjukkan jalan kepada Dang Hyang Nirartha untuk memasuki hutan. Di tengah hutan, lalu bertemu seekor naga yang tengah membuka lebar mulutnya. Dang Hyang Nirartha memasuki mulut naga itu, lalu mendapatkan teratai berwarna warni.

Ketika keluar dari mulut naga, wajah Dang Hyang Nirartha berkilau, berwarna hitam dan emas. Melihat hal itu, putra dan putrinya terkejut, lalu lari tunggang langgang. Dang Hyang Nirartha lantas mencari putrinya yang lari ke berbagai sudut hutan, yang akhirnya menemukan putrinya itu. 

Putri Dang Hyang Nirartha kemudian menyatakan diri tidak bisa melanjutkan perjalanan dan tinggal di hutan itu. Ia kemudian meminta anugerah kepada ayahnya agar bisa bertubuh halus dan abadi. Permintaan itu dikabulkan Dang Hyang Nirarta, dan putrinya dipuja sebagai Batari Melanting hingga saat ini.

Fragmentari ini melibatkan  38 orang seniman tari, tabuh dan seorang dalang. Semua kisah itu dibeberkan secara gamlang melalui gerak tari yang ritmis dan indah. 

Di samping mengutamakan ekspresi dari setiap penari, pola lantai juga diolah sangat manis, sehingga membuat garapan itu menjadi lebih indah. Penataan kostum menawan, sehingga memperkuat karakter dari setiap tokoh dalam fragmentari itu. 

Aksi Sanggar Seni Maha Gita Dwijendra ini, menyajikan dinamika yang kuat, sehingga klimaks dari cerita yang diangkat menimbulkan  rasa tegang, namun akhirnya  kembali syahdu. 

“Kami ingin menggambarkan perjalanan Dang Hyang Nirartha itu seperti apa yang ada dalam lontar. Untuk memberikan rasa indah dan dinamis, saya juga memanfaatkan gamelan Semarapagulingan sebagai iringannya,” kata Koreografer, Ida Ayu Novita Yogan Dewi,S.Pd.,M.Pd.

Ayu Novita yang juga sebagai Pembina Seni Tari di  Universitas Dwijendra itu, menambahkan, inti dari sasolahan ini, yakni penganugerahan yang diberikan oleh Dang Hyang Nirartha kepada putrinya sebagai Bhatari Melanting. Maka itu, sebagai iringan yang dapat memberikan nuansa relegi, yaitu Gamelan Semarapagulingan. 

Dalam penyajiannya, tidak ada tambahan musik lainnya, namun dibantu seorang dalang untuk mempertegas maksud dan pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat penikmat. Untuk iringan tabuh, dipercayakan kepada komposer I Gede Yusma Hanggara Putra, S.Sn.

“Kami dari Sanggar Seni Maha Gita Dwijendra ini ingin menghibur masyarakat lewat sasolahan sastra ini, namun tetap menyelipkan pesan. Apalagi, saat ini dimasa pandemi, situasi ekonomi serba sulit. Masyarakat perlu diingatkan untuk tetap menjaga hutan tetap lestari, sehingga sumber-sumber air juga terjaga,” tutup Ayu Novita. 

(bx/ade/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news