Minggu, 07 Mar 2021
baliexpress
Home > Bisnis
icon featured
Bisnis

Daripada PEN Pariwisata Diselewengkan, Harap Stimulus Pertanian

21 Februari 2021, 18: 53: 23 WIB | editor : I Putu Suyatra

Daripada PEN Pariwisata Diselewengkan, Harap Stimulus Pertanian

GURU BESAR: Guru Besar Fakultas Pertanian Unud, Prof Wayan Windia. (I PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Pemerintah mengeluarkan  kebijakan untuk memberikan stimulus untuk sektor pariwisata, yaitu PEN pariwisata. Kebijakan itu bahkan bermuara pada kasus korupsi di Kabupaten Buleleng. Sementara akhir bulan ini, ada kebijakan stimulus bagi sektor industri otomotif. Yakni dalam bentuk pembebasan PPnBM (Pajak Pertambahan-nilai Barang Mewah). 

Guru Besar Fakultas Pertanian, Universitas Udayana, Prof Wayan Windia menanggapi hal tersebut, ia sangat menyayangkan ketika dana PEN Pariwisata diselewengkan di Singaraja. "Lalu pertanyaannya, mana stimulus untuk sektor petani ?, perjuangan stimulus di sektor ekonomi, harus diurus oleh komunitas di sektor itu (pariwisata,Red). Lobinya, harus kuat katanya. Bahkan kini sektor pariwisata sedang memperjuangkan pinjaman yang sangat lunak," jelasnya, Minggu (21/2).

Ia juga menyampaikan hal yang senada juga terdengar tentang perjuangan stimulus untuk industri mobil. Itu semuanya adalah pendekatan lobi. "Kalau tidak, jangan harap kebijakan itu bisa keluar. Karena sebelumnya Menkeu sempat menolak kebijakan bebas PPn BM itu. Masalahnya, siapa yang harus memperjuangkan para petani kita, dan mampu me-lobi Menteri Keuangan? Ternyata tidak ada, kaum elit tidak ada yang tergerak. Dibiarkan saja sektor pertanian terbang-berkembang tanpa pilot," ungkap pria asal Gianyar ini. 

Ia mengatakan memang beginilah nasib kaum orang-orang yang terpinggirkan (petani,Red) pada masa-masa sulit. Nyaris tidak ada orang yang hirau. Padahal, sektor pertanian adalah salah satu dari tiga sektor ekonomi yang tidak terkontraksi. Bahkan tumbuh sekitar 2,5 persen. "Kalau ternyata sektor pertanian sudah terbukti menunjukkan taringnya, lalu kenapa sektor ini justru tidak digenjot untuk tumbuh lebih maksimal?," tanyanya. 

Diharapkan agar  mampu melakukan eksport lebih magis ke negara-negara yang tidak memiliki pertanian. "Saya tahu, bahwa Koperasi Primer Bali Agro Nusantara, saat ini terus mengeksport ketela rambat dan buncis ke Singapore. Stimulus bagi industri otomotif dan sektor pariwisata, hanya akan semakin memperlebar jurang antara kaya-miskin di Indonesia. Hanya akan mendorong manusia Indonesia untuk hidup semakin glamor. Hanya akan mendorong udara Indonesia semakin polutif," sambungnya. 

     

Kembali pada persoalan stimulus bagi petani ia berharap agar dicatat bahwa ketika subak diusulkan sebagai warisan dunia, diadakan surve kepada para petani yang subaknya akan diusulkan ke UNESCO sebagai warisan dunia. "Apa harapan petani? Mereka hanya mengharapkan kepada pemda, agar mereka dibebaskan dari pembayaran pajak PBB. Selanjutnya, agar ada jaminan bahwa air irigasinya terus mengalir ke subaknya. Saya kira sangat sederhana sekali permintaan petani. Mereka hanya meminta hal-hal yang relevan dengan persoalan kehidupannya sehari-hari sebagai petani," tegas Prof Windia. 

Ditambahkan mereka memerlukan air, dan terbebas dari pembayaran pajak. Sementara yang terjadi saat ini ternyata harapan itu belum dapat terpenuhi dengan sebaik-baiknya. "Masih banyak subak yang kekurangan air, atau bahkan tidak ada airnya. Karena air untuk irigasi subak, diambil untuk kepentingan PDAM, atau proyek air minum pedesaan. Petani yang secara tradisional (kuna dresta) menggunakan air tersebut, lalu terputus haknya. Demikian pula dalam hal pembayaran pajak PBB," imbuhnya.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news