Kamis, 04 Mar 2021
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Akademisi Minta Pemerintah Gencarkan Bansos, Stop Program Tak Penting 

22 Februari 2021, 07: 23: 52 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Akademisi Minta Pemerintah Gencarkan Bansos, Stop Program Tak Penting 

KOMUNITAS : Bali memiliki komunitas kemiskinan struktural dari masa ke masa, yakni komunitas petani dan nelayan. (dok Bali Express)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS- Jumlah penduduk miskin di Bali September 2020 bertambah hingga 4,45 persen atau naik 0,67 persen poin, dibandingkan dengan posisi Maret 2020 yang tercatat sebesar 3,78 persen.

Menurit Akademisi Pertanian, Prof Dr Ir I Wayan Windia, SU, adanya peningkatan jumlah penduduk miskin di Bali selama periode akhir tahun 2020 karena banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan karena wabah pandemi Covid-19. 

"Bali memang memiliki komunitas kemiskinan struktural dari masa ke masa, yakni komunitas petani dan nelayan," ungkapnya akhir pekan kemarin.

Kedua komunitas tersebut, lanjut Prof Windia, merupakan penyumbang kemiskinan terbesar di Bali. Dikatakannya, untuk mengentaskan kemiskinan struktural tidak bisa dengan konsep pembangunan konvensional. Karena yang harus dilakukan adalah melakukan edukasi yang tepat dan pengentasan kemiskinan yang sifatnya bersentuhan langsung kepada masyarakat yang ada di kedua komunitas tersebut.

Prof Windia meminta pemerintah untuk menghentikan terlebih dulu pembangunan yang bersifat fisik. Namun, harus menggencarkan bantuan sosial yang langsung kepada masyarakat miskin, salah satunya adalah pemberian bibit hewan ternak dan program edukasi yang tepat.

Meningkatnya kemiskinan di Bali karena dampak Covid-19, lantaran  selama ini Provinsi Bali ditopang oleh pendapatan dari Produk Domestik Regional Bruto (Lapangan Usaha) didominasi sektor tersier (perdagangan, hotel, dan restoran). 

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik Provinsi Bali (BPS) merilis Selama periode Maret - September 2020, persentase penduduk miskin di daerah perkotaan tercatat mengalami peningkatan, dari 3,33 persen pada Maret 2020 menjadi 4,04 persen pada September 2020. 

Hal yang sama juga terjadi di daerah pedesaan, tercatat persentase penduduk miskin mengalami peningkatan dari 4,78 persen pada Maret 2020 menjadi 5,40 persen pada September 2020. 

Garis kemiskinan tercatat naik sekitar 1,94 persen, dari Rp 429.834,00 per kapita per bulan pada Maret 2020, menjadi Rp 438.167,00 per kapita per bulan pada September 2020. 

(bx/gek/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news