Kamis, 04 Mar 2021
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Koster Sahkan Arak, Tuak, Berem Bisa Diproduksi dan Dikembangkan

22 Februari 2021, 16: 19: 11 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Koster Sahkan Arak, Tuak, Berem Bisa Diproduksi dan Dikembangkan

ARAK : Gubernur Wayan Koster mengumumkan minuman alkohol tradisional Bali menjadi usaha yang sah untuk diproduksi dan dikembangkan di Jayasabha Rumah Jabatan Gubernur, Senin (22/2). (Putu Agus Adegrantika/Bali Express)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS – Gubernur Bali, Wayan Koster mengumumkan minuman alkohol (mikol) tradisional Bali, arak dan tuak, sah untuk diproduksi dan dikembangkan.

Produksi dan pengembangan minuman tersebut diperkuat dengan berlakunya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal meliputi arak Bali, berem Bali, dan tuak Bali.

Dalam kesempatan itu, Koster memaparkan dengan berlakunya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal merupakan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. “Ini agar dikembangkan oleh orang Bali, supaya dapat memberikan kesejahteraan ekonomi,” jelasnya di Jayasabha, Rumah Jabatan Gubernur, Senin (22/2). 

Disampaikan juga, di beberapa kabupaten di Bali yang penghasil minuman alkohol akan dijadikan destinasi khusus. Mulai dari bahan yang dipergunakan, proses pembuatannya hingga pemasaran.

“Seperti di Kabupaten Karangasem, Buleleng dan lainnya akan kita tingkatkan sumber daya alamnya dengan ental, enau, dan kelapa akan dijadikan destinasi khas Bali,” sambung Koster.

Dengan adanya Perpres tersebut, destinasi yang ada itu akan dilindungi dan akan diberdayakan secara ekonomi. Sebab, belakunya Perpres tersebut hanya didapatkan oleh empat provinsi di Indonesia. “Dengan Perpres ini proses destinasi khas Bali dilindungi dan diberdayakan secara ekonomi. Ini sangat luar biasa, sebab hanya empat provinsi yang membuat terobosan ini,” ungkapnya.

Koster menambahkan, industri minuman beralkohol ini juga akan dimudahkan dengan bantuan penanaman modal. Ia mengaku dalam hal ini tidak akan mengundang pengusaha, melainkan para pembuat minuman langsung yang merupakan unsur masyarakat. “Akan diundang pembuatnya langsung, didampingi dalam proses desain, branding sampai pemasarannya,” ungkapnya. 

Dikatakan pria asal Buleleng ini, tujuannya agar mendapatkan manfaat secara riil, penguasaha lokal menjadi sejahtera, saling menghidupi. "Jadi, tidak ada ragu lagi menjalankan usaha ini secara sah di Bali,” imbuh Koster.

Keputusan ini direspon petani salak Karangasem. Pembuat Arak Salak Sidemen, Karangasem Bali, Ida Bagus Giri  mengatakan, membuat Arak Salak tujuannya juga untuk membangkitkan semangat petani salak. Khususnya di masa panen, sebab biasanya ketika panen tak jarang salak sampai busuk. Untuk itu, ia mencari solusi agar salak tersebut diolah dan dijadikan minuman beralkohol.

 “Tidak sedikit kalau panen raya salak sampai membusuk. Jadi, salak dapat diolah menjadi arak salak. Arak Salak  ini saat diminum tidak sampai ngidem (tutup mata), karena kadar alkoholnya 17 persen,” tandasnya.

(bx/ade/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news