Kamis, 04 Mar 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Catur Sanak, Empat Saudara Niskala yang Menemani Manusia hingga Mati

22 Februari 2021, 17: 16: 33 WIB | editor : I Putu Suyatra

Catur Sanak, Empat Saudara Niskala yang Menemani  Manusia hingga Mati

DITANAM: Proses penanaman Ari-Ari yang memiliki tujuan menyatukan pertiwi dan akasa guna memberikan keseimbangan perjalanan pada bayi. Ari-ari merupakan salah satu dari empat saudara atau Catur Sanak atau Bhanaspatiraja. (ISTIMEWA)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Dalam preses kehidupannya, manusia yang lahir ke dunia tidaklah sendiri. Seseorang dalam menjalani kehidupan keduniawian selalu ditemani empat saudara yang disebut Kandapat atau Catur Sanak.

Di Bali kepercayaan ini sangat kuat. Saudara-saudara yang tak kasat mata ini pun turut lahir mengikuti manusia, dan menemaninya hingga ajal menjemput.

Catur Sanak berasal dari kata Catur yang berarti empat, dan Sanak artinya keluarga atau saudara. Jadi Catur Sanak berarti empat saudara. Catur Sanak ini pun yang sering disebut Kandapat.

Awal mula adanya Catur Sanak ini yakni pada waktu lahir, pada saat yang sama juga lahir Sanghyang Panca Maha Butha dan Sanghyang Tiga Sakti. Sanghyang Tiga Sakti ketika meninggal menyatu dengan Bhuana Agung, dan kemudian dipuja semua makhluk. Sedangkan Sanghyang Panca Maha Bhuta menjadi pepatih di segala penjuru, sebagai pemelihara dunia, semua sakti tanpa ditandingi, bila di puja, diresapi, dan diyakini, ia masuk ke dalam badan manusia.

Menurut Pandita Mpu Putra Yoga Parama Daksa dari Griya Agung Batur Sari, Banjar Gambang, Mengwi, Badung, untuk memanggil saudara empat ini menggunakan mantra khusus. Pun bantennya pula. Fenomena saat ini, banyak orang yang mencari Tuhan tanpa mengetahui dimana dan kemana ujungnya.

Tak peduli jarak dan waktu yang ditempuh untuk mencari Tuhan yang keberadaannya jauh. Bahkan tidak bisa diukur dengan nalar. Namun banyak yang tidak menyadari, keberadaan Tuhan itu sendiri. Banyak pula yang menyatakan Tuhan ada dalam diri.

“Disinilah letaknya, Catur Sanak sendirilah yang dimkasud. Tuhan yang selalu mengikuti, dan yang selalu melindungi kemanapun seseorang pergi. Tuhan yang selalu menuntun saat seseorang melakukan aktivitasnya,” ungkap Mpu Yoga.

Empat saudara yang dikatakan mengikuti manusia sejak lahir hingga mati itu diantaranya, pertama Yeh Nyom. Yeh Nyom sama dengan air ketuban. Kelahirannya sebagai suadara pertama diyakini berstana di Pura Ulun Swi yang bergelar I Ratu Ngurah Tangkeb Langit.

Ia menjadi Dewa Sawah, Dewa Bumi dan Dewanya Binatang. Dalam tubuh manusia ia berstana di kulit berwujud Aamerta Sanjiwani. Dalam penyebutannya, saudara pertama ini disebut Sang Bhuta Anggapati. Aksara sucinya Sang dengan arah mata angin di Timur. Banten yang diperuntukkan untuk saudara pertama ini adalah ketipat dampulan dengan ikannya telur asin, canang pasucian, segehan kepelan putih, ikannya bawang jahe.

Saudara yang kedua adalah Getih atau darah. Saudara ini disebut Prajapati dengan aksara sucinya Bang. Memiliki warna merah dan arahnya ke Selatan. Kelahirannya dipercaya sebagai Dewa Hutan, Dewa Gunung, Dewa Jalan dan berstana sebagai patih di Pura Sada bergelar I Ratu Wayan Tebeng. Sesajinya atau bantennya adalah ketipat galeng dengan ikan telur itik, segehan kepelan barak, ikannya bawang jahe dan canang pesucian.

Saudara yang ketiga adalah placenta atau Lamas. Kelahirannya disebut Banaspati memiliki aksara Tang dan mengarah ke Barat. Kelahirannya dipercaya sebagai Dewa Kebun. Upacaranya diberikan banten ketipat gangsa dengan ikan sate gede, canang pasucian, segehan kepelan kuning dengan ikannya bawang jahe. Saudara ketiga ini bergelar I Ratu Nyoman Jelawung.

Dan saudara yang terakhir adalah Bhanaspatiraja atau ari-ari. Kelahirannya diberi gelar I Ratu Ketut Petung. Memiliki aksara Ang dan berstana di Pura Dalem. Upacaranya dengan membuat bebantenan yang terdiri dari ketipat gong dengan ikannya telur diguling, canang pesucian, segehan kepelan selem dengan ikannya bawang jahe, ditambah rokok dan sesari sebelas buah uang kepeng (pis bolong).

Catur Sanak dengan Dewata Nawa Sanga hanya berbeda sebutan saja, tetapi intinya sama. Sama-sama ada aksara sucinya yaitu Sang, Bang, Tang, Ang, Ing, sehingga semua mengacu kepada yang kosong, yaitu Tuhan itu sendiri yang dalam Lontar Dalem tentang Catur Sana ini disebutkan, Galihing Kangkung, Tampaking Kuntul Angelayang, Lontar Tanpa Tulis, Segara Tanpa Tepi yang kesemua itu artinya kosong. Kosong itu sunyi, sunya atau Tuhan tanpa wujud.

Catur Sanak atau saudara empat ini akan selalu megikuti kemanapun manusia melangkah. Bisa melindungi seseorang tersebut, sebaliknya bisa juga mendatangkan petaka. Untuk mendapatkan perlindungannya, keempat saudara ini perlu disebut dengan nama mereka masing-masing, Anggapati, Prajapati, Banaspati dan Bhanaspatiraja. Entah pergi tidur atau hendak mandi, orang perlu menyebut mereka untuk melindunginya dari kekuatan jahat yang mencoba mendekat.

Sebaliknya bila orang melupakannya, orang akan mudah terkena bencana, badan akan mudah jatuh sakit dan bisa lupa ingatan. Keempat saudara ini bisa menjadi musuh yang jahat, yang bisa mendatangkan segala macam bencana dan penyakit.

Dengan memberi perhatian yang cukup dan kurban sajian yang cukup, mengundang mereka turut ambil bagian dalam makan dan minum, meminta mereka menjadi sahabat dalam apa yang dikerjakan atau kemana berpergian, mereka akan memberi imbalan dalam wujud kekuatan magis yang dibutuhkan.  “Secara haris besarnya bisa dikatakan, mereka akan memberikan apapun sesuai dengan perlakuan kita terhadapnya,” tegasnya.

(bx/dhi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news