Kamis, 04 Mar 2021
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Nyoman GG Ditahan Kejari Singaraja dalam Kasus Korupsi Dana PEN

22 Februari 2021, 19: 32: 23 WIB | editor : I Putu Suyatra

Nyoman GG Ditahan Kejari Singaraja dalam Kasus Korupsi Dana PEN

DITAHAN: Nyoman GG saat digiring ke mobil tahanan pada Senin (22/2) untuk menjalani penahanan atas kasus PEN Pariwisata yang menjeratnya. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Nyoman GG akhirnya secara resmi ditahan Kejari Buleleng pada Senin (22/2) menyusul tujuh tersangka lainnya. Penahanan dilakukan setelah tersangka GG dinyatakan sembuh oleh pihak dokter. Dengan demikian, delapan tersangka kasus penyalahgunaan dana PEN Pariwisata telah ditahan pihak Kejari Buleleng.

Kepala Kejari Buleleng, Putu Gede Astawa menjelaskan, sebelum ditahan, tersangka Nyoman GG terlebih dahulu menjalani pemeriksaan sebagai tersangka. Setelah beberapa jam diperiksa, tersangka GG yang sebelumnya menjabat selaku Kabid Pemasaran Pariwisata Dispar Buleleng langsung dilakukan penahanan

"Yang bersangkutan sudah sehat dan hari ini (kemarin) langsung dilakukan pemeriksaan. Dia (Nyoman GG, Red) berstatus sebagai tersangka dan juga sebagai saksi dalam kasus ini. Setelah diperiksa, langsung dilakukan penahanan," kata Astawa, Selasa (22/2) siang ditemui di Loby kantor Kejari Buleleng.

Sementara itu, Kasi Pidsus Kejari Buleleng, Wayan Genip menegaskan sudah ada delapan orang tersangka dugaan kasus korupsi hibah PEN Pariwisata yang dilakukan penahanan. ia menyebut jika peran tersangka Nyoman GG sama dengan tersangka IGA MA dalam kegiatan Buleleng Explore.

Terungkap jika niat korupsi dengan modus mark-up dana kegiatan explore Buleleng dan Bimtek ini berawal dari rapat bersama di internal pejabat Dispar Buleleng. Dalam rapat itu, ada kesepakatan untuk mengumpulkan uang sebagai dana kesejahteraan para pegawai yang diambil dari dana mark-up kegiatan tersebut.

"Terhitung hari ini penyidik sudah menyita uang tunai sebesar Rp524.610.900. Ke dinas (Dispar) uangnya dibagi ke hampir seluruh pegawai," jelas Genip.

Saat ini dalam penanganan kasus ini, penyidik kini masih melengkapi pemberkasan (perkara). Genip pun berharap, agar pemberkasan ini segera dituntaskan dan diserahkan ke pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk dilakukan pemeriksaan atau penelitian berkas.

"Masih pengembangan. Kalau nanti ada pihak lain terbukti ikut terlibat, pasti diminta pertanggungjawaban. Kalau tidak ada, maka kami tidak bisa meminta pertanggungjawaban nantinya," jelas Genip.

Dikatakan Genip, selain oknum staf di Dinas Penanaman Modal dan Perijinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Buleleng yang kecipratan menerima dana PEN, ada dua instansi lain di lingkup Pemkab Buleleng yang menerima uang.

Dua instansi itu yakni Inspektorat Buleleng dan Badan Pengelola Keuangan dan Pendapatan Daerah (BPKPD) Buleleng. Rata-rata staf di instansi-instansi tersebut hanya menerima uang kisaran hingga Rp 3 juta. Dana itu dibagi beberapa orang staf sebagai uang lelah atau pengganti uang operasional yang dikeluarkan oleh staf instansi itu.

Genip menyebut  sudah ada oknum staf di BPKPD yang mengembalikan dana ke penyidik. Mereka pun mengaku tidak mengetahui asal muasal dana itu. Meski demikian masih ada sekitar puluhan juta rupiah yang belum dikembalikan oleh orang yang diduga menerima aliran dana hibah ini.

"Kami ingatkan kembali lagi, kalau ada pihak yang merasa menerima dana hibah yang bukan hak-nya, agar segera mengembalikan kepada pihak penyidik," pungkas Genip.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news