Kamis, 04 Mar 2021
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Ibas Bunuh Dagang Kripik Bermula dari Utang Rp 515 Ribu

22 Februari 2021, 21: 57: 57 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ibas Bunuh Dagang Kripik Bermula dari Utang Rp 515 Ribu

HANTAM: Reka ulang adega pengehantaman Ibas terhadap Sri Widayu di bagian kepala menggunakan helm. (I GEDE PARAMASUTHA/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS – Rekonstruksi kasus pembunuhan yang merenggut nyawa pedagang kripik pisang bernama Sri Widayu, 49, digelar oleh Satuan Reserse Kriminal Polresta Denpasar pada Senin (21/2), sekitar pukul 10.50.Tersangka Basori Arifin alias Ibas, 24, secara langsung memerankan reka adegan peristiwa tragis itu yang dilaksanakan di kos korban Jalan Bypass Ngurah Rai Nomor 438, Banjar Pasekuta, Sanur, Denpasar. Dalam reka ulang itu terungkap bahwa pemicu kejadian itu adalah utang piutang Rp 515 ribu dan tamparan korban kepada istri tersangka.

Koran Bali Express (Jawa Pos Group) menyempatkan untuk melihat langsung jalannya rekonstruksi yang dipimpin oleh Kanit JatanrasPolresta Denpasar, Iptu Ngurah Eka Wisada. “Rekontstruki digelar untuk mengetahui kronologi secara nyata, sampai selesai dilaksanakan, semuanya sudah sesuai Berita Acara Pemeriksaan,” terang Ngurah Eka.

Total ada 28 adegan dalam rekonstruksi. Mengambil latar waktu saat kejadian pada Rabu (2/2) lalu, sekitar pukul 20.30, kejadian dirunut ulang mulai dari kedatangan Ibas bersama istrinya bernama Titik (diperankan oleh pengganti) dengan menggendong bayinya yang berujung pemukulan terhadap Widayu (diperankan oleh pengganti) sampai tewas, hingga kepergian mereka dari lokasi.

Terdapat hal menarik yang terungkap dalam reka ulang itu. Salah satunya rantai utang pembelian pisang yang diberikan Ibas kepada korban malah menyebabkannya merasa dalam tekanan utang kepada orang lain. Tersangka dalam kasus ini sebagai penyuplai pisang kepada Widayu, ternyata membeli pasokan dari orang lain di Jawa. Ia sempat bolak-balik menagih ke korban, namun tetap saja tidak segera dibayar. Hal itu otomatis menyebakan Ibas tidak mampu membayar pasokan pisang dari Jawa.

“Hal inilah yang menjadi tujuan tersangka datang ke kos korban, untuk menagih utang sebesar Rp 515 ribu,” ungkapnya.

Dalam gambaran reka adegan, Ibas datang dengan membonceng sang istri dan anaknya menggunakan sepeda motor Vario150 berwarna merah dengan nomor polisi DK 5485 ABW. Sesampainya di sana dengan maksud baik mereka mengetuk pintu dan mengucap salam Assalamualaikum sebanyak tiga kali. Pintu pun dibuka Widayu dan langsung menyebutkan jawaban atas pertanyaan yang belum disampaikan. “Belum ada,” ucap korban saat itu.

“Terus Kapan?” tanya spontan tersangka.

“Kapan-kapan setelah punya uang,” balas korban yang diperankan oleh petugas.

“Jangan lama-lama saya juga ditagih oleh pengirim pisang saya yang dari Jawa. Ya ibunya berapa hari lagi mau bayar, biar saya tidak rugi bolak balik ke sini,” tanya Ibas lagi.

“Nanti kalau sudah ada saya anterin ke warung sampean,” tutur korban sengit bernada tinggi seperti ditirukan oleh pemeran korban.

Karena merasa tak enak dengan keributan tersebut, tersangka meminta istrinya, Titik untuk berbicara kepada Widayu. Pada saat Titik melanjutkan pertanyaan suaminya, Widayu malah menjawab dengan marah dan melayangkan tamparan kepadanya.

“Saksi (Titik) dan anaknya menagis setelah ditampar,” tambah Ngurah Eka.

Menyaksikan hal tersebut, tersangka merasa tak terima lalu mengambil helm miliknya dan menghantamkan benda tersebut ke kepala Widayu di depan pintu kos. Korban lalu masuk ke dalam dengan mengomel tidak jelas, tapi Ibas tidak mau melepaskan korban. Sang istri pun mengingatkan Ibas untuk berhenti tapi langsung keluar untuk menenangkan anaknya.

Karena kadung murka, Ibas kembali menghantamkan helmnya sebanyak dua kali hingga pecah.

Widayu sempat melakukan perlawanan dengan menggigit tangan Ibas dan mengeluarkan kata ancaman “Awas kamu,” ketika kepalanya difiting lalu dipukul lagi dengan tangan kosong dan didorong hingga terjatuh.

“Tersangka kesakitan tangannya digigit, makannya dia dorong korban,” papar Ngurah Eka.

“Awas kamu, awas kamu, tolong tolong,” teriak Widayu lagi.

Tersangka langsung mengambil tabung gas elpiji berukuran 3 kg yang ada di sana lalu menghantamkannya sekuat tenaga ke kepala Widayu sehingga korban tidak berteriak lagi.

Usai aksinya itu, Ibas keluar kamar dan sempat duduk di depan kos korban. Bahkan Ibas sempat didekati tiga pria (saksi Nurbadri dan Jauhari bersama satu orang yang kebetulan melintas) saat itu untuk menanyakan apa yang terjadi. “Ada apa mas?,” tanya ketiganya dan dijawab tidak terjadi apa-apa oleh tersangka.

Ibas pun langsung mengajak istri dan anaknya untuk segera meninggalkan lokasi dan menuju tempat tinggalnya di Jalan Tukad Balian Nomor 90, Kelurahan Renon, Kecamatan Denpasar Selatan. Merasa telah melakukan kejahatan Ibas membawa Titik dan anaknya kabur ke Jawa.

Tapi pelarian tersangka dapat dilacak Tim gabunagan Polresta Denpasar dan Polsek Densel yang dibackup Polda Bali. Ibas diamankan di rumah mertuanya daerah Kawah Ijen, Desa Sumber Waringin, Kecamatan Sukarejo, Bondowoso, Jawa Timur, pada Sabtu (6/2).

Perbuatan kejamnya ini mengakibaktan Ibas terancam dikenakan Pasal 338 KUHP atau Pasal 351 ayat 3 KUHP tentang pembunyhan atau penganiayaan yang mengakibatkan kematian dengan hukuman penjara paling lama 15 tahun. (ges)

(bx/aim/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news