Kamis, 04 Mar 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Desa Bulian Tempat Pelarian yang Dibentengi 4 Pintu Berdaya Magis

23 Februari 2021, 08: 28: 47 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Desa Bulian Tempat Pelarian yang Dibentengi 4 Pintu Berdaya Magis

PINTU MASUK: Salah satu pintu masuk menuju ke Desa Bulian, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. I Gede Suardana Putra, tokoh masyarakat Desa Bulian. (Dian Suryantini/Bali Express)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Desa Bulian, Kubutambahan,  Buleleng memiliki sejarah yang cukup panjang. Desa di kawasan Bali Utara ini, menjadi salah satu tempat pelarian di masa kerajaan dan penjajahan. Makanya, menjadi  target penting digempur musuh.

Memasuki kawasan Desa  Bulian, mata bakal dimanjakan dengan hamparan perkebunan buah naga di sisi kiri jalan, bila masuk dari pintu utara. 

Nah, untuk mengetahui cerita sejarah terbentuknya Desa Bulian, Bali Express (Jawa Pos Group) mendatangi rumah salah satu tokoh masyarakat setempat bernama I Gede Suardana Putra. 

Melalui pria 66 tahun inilah, terungkap jika keberadaan Desa Bulian konon adalah tempat pelarian bagi para raja di Buleleng. Diceritakan Suardana, sejarah Desa Bulian sebenarnya tak bisa lepas dari sejarah Pulau Bali secara keseluruhan. 

Berdirinya Desa Bulian disebutkannya seiring dengan berdirinya kerajaan-kerajaan kuno di Bali. Desa Bulian pun merupakan salah satu pintu keluar masuk kerajaan pada masa itu.

Diungkapkannya, dahulu terdapat seorang putri yang merupakan cucu dari Raja Ugracena. Karena setelah Raja Ugracena gugur, singgasana menjadi kosong. Makan cucunya, Putri Sri Subhadrika Darmadewi, diangkat menjadi ratu. Kemudian ia memerintah kerajaan bersama suaminya yang merupakan panglima perang dan putra dari Sri Kesari. Ia bernama Tabanendra Warmadewa. 

Saat pemerintahan Ratu Subhadrika, kerajaan masih kacau. Serangan musuh dari Jawa dan Cina terus berdatangan. Karena itu, Tabanendra jarang sekali tinggal di istana, dan istana kemudian terpaksa dipindahkan ke Kintamani. 

Selama kurang lebih 4 tahun, Tabanendra sibuk memerangi musuh. Sementara Ratu Subhadrika sibuk mengatur dan membuka tanah pertanian baru untuk memperbaiki kesejahteraan rakyatnya. Apalagi Ratu Subhadrika adalah sosok pemimpin yang ahli tata negara.

Lambat laun perbendaharaan meningkat dengan pesat, sehingga kerajaan menjadi kaya raya. Kemudian datang seorang ahli tata negara yang tidak jelas asal-usulnya membantu ratu untuk mengelola perbendaharaan (kekayaan) negara itu. 

Namun, setelah mendapat kekuasaan, diam-diam ia merencanakan muslihat untuk menyingkirkan Tabanendra, agar ia dapat merebut hati ratu yang memang selalu jauh dari suaminya. Ketika itu ratu telah memiliki putra mahkota. 

Usaha yang dilakukannya pun sia-sia. Di sisi lain, musuh-musuh yang dihadapi Tabanendra telah tertumpas, namun bahaya masih tetap mengancam. Bahkan, diperkirakan akan bertambah besar. 

Atas desakan Menteri Bendaharawan Negara dan pertimbangan sendiri, Tabanendra berangkat ke Merajan Selonding untuk memperdalam ilmu yoga dan ilmu perang. Setelah sekitar tiga tahun digembleng di Merajan Selonding dan menjelang hari-hari penamatan latihannya, Tabanendra mendengar laporan dari dua orang utusan bahwa di istana terjadi keributan. 

Ratu yang melarikan diri dengan menunggang kuda dikabarkan jatuh dan tewas ke dalam jurang. Tabanendra bergegas menuju tempat kejadian, ternyata ia menemukan ratu masih hidup, hanya pingsan dan cidera. 

Ratu dirawat seseorang dalam persembunyian. Sedangkan Tabanendra mengamankan istana. Ia mengumumkan, ratu masih hidup dan sedang dalam perawatan yang semestinya. 

Karena ratu sedang sakit, maka putra mahkota Jayasinggha Warmadewa dinobatkan sebagai penggantinya. Namun sayang, tidak lama setelah itu ratu pun meninggal.

Tabanendra terpuruk. Setelah menyerahkan tahta kepada putranya, ia memutuskan melakukan pengembaraan. Divsamping untuk mengamalkan ilmu dan mengamankan seluruh wilayah Bali Utara, juga untuk melenyapkan perasaan sedih yang mendalam. 

Ia membuka hutan serta mendirikan desa di tempat tersembunyi dan strategis. Ia membuka tanah untuk Depeha dan Bulian. Ia tahu di daerah sekitarnya telah diduduki pasukan Cina. Maka ia lebih memilih tempat yang lebih terpencil yang baik untuk melarikan diri atau menghimpun kekuatan untuk menyerang. 

Setelah membukan Kerajaan Indra Pura (Depeha) dan Banyu Buah (Bulian), Tabanendra melanjutkan perjalanan ke barat menyusuri pantai. Dibebaskannya desa-desa kecil yang dilalui dari pengaruh kekuasaan Cina dan Jawa. Dihimpun pula kekuatan untuk menjaga wilayah-wilayah yang dilewati itu.

Perjalanan terus dilanjutkan hingga ia sampai di Blambangan. Lalu ia bertemu dengan seorang putri yang kemudian ia namai Dewi Subhandar. Nama tersebut diberikan untuk mengenang mendiang istri pertama. Kembalilah ia ke Bali tepatnya ke Buleleng. Ia tinggal di pantai dan menyamar sebagai rakyat biasa. 

Dalam penyamarannya itu, ia menghimpun kekuatan untuk menggempur pasukan Cina. Tak berselang lama, pasukan Cina dapat dikalahkan. Lalu ia mendirikan pusat kota yang dinamakan Sumanasa. Desa itu ramai dan damai. Ia hidup disana sampai lanjut usia.

Akan tetapi, tak disangka, pasukan Cina mengangkat senjata lagi. Sumanasa diserang. Raja dan keluarganya melarikan diri ke Banyu Buah (Bulian). Disanalah akhirnya ia menetap hingga wafat. Putra-putri dan istri keduanya menetap di Banyu Buah dan Indra Pura. Namun ada pula yang kembali ke pusat kerajaan. 

Desa Banyu Buah ini kemudian berkembang menjadi sebuah desa dengan perbentengan yang sangat kuat. Kembali diceritakan, bahwa panembahan Tabanendra setelah wafat, mayatnya disemayamkan dan diperabukan di Pura Bukit Sinunggal.

Dari perkembangan Banyu Buah atau yang sekarang disebut Bulian, terdapat batas-batas atau pintu masuk yang dapat diakses menuju Desa Bulian. Berdasarkan penuturan Suardana Putra, ada empat pintu masuk yang bisa dilalui. Masing-masing pintu tersebut memiliki vibrasi yang berbeda.

Vibrasi paling kuat dirasakan pada pintu masuk bagian barat. Pada pintu masuk tersebut terdapat sebuah pura yang disebut Pangkung Pastu. Jika seseorang dengan niat jahat serta melengkapi diri dengan jimat atau benda-benda mistik lainnya, tidak akan dapat memasuki kawasan Desa Bulian. Ia pun akan bingung dan tidak dapat menemukan jalan yang benar.

Kemudian di pintu sebelah selatan terdapat Pura Majagana. Di sana bertana Dewa Gana yang bertugas sebagai penjaga pintu dari arah selatan. Dari arah ini Dewa Gana bertugas menghalau segala jenis tujuan jahat. Harus benar-benar fokus dengan satu tujuan.

Sementara, dari pintu bagian timur terdapat campuhan dari Tukad Yeh Buahan dan Tukad Gunting. Campuhan ini dikelilingi Bukit Catu di sisi baratnya, hulunya Bukit Sari, dan hilirnya Bukit Cengkilik. Kemudian dari arah utara yang memang merupakan akses utama masuk ke Desa Bulian. 

“Dari selatan ada Pura Dalem Majagana. Dijaga oleh Dewa Gana. Salah satu dewa penjaga pintu juga. Sebelah utara terdapat candi bentar yang merupakan akses utama Desa Bulian. Dari sisi kiri dan kanan terdapat jurang, sehingga jalan yang terbentuk dikatakan ceking. Lalu di pintu timur terdapat campuhan dari Tukad Yeh Buahan dan Tukad Gunting. Dari ke semua pintu masuk itu, semua punya kekuatan magis masing-masing," terangnya. 

Kalau dari timur,  lanjutnya, semua orang bisa masuk. Mau niat jahat, bawa sesabukan atau apapun, bisa saja masuk. "Tapi kalau sudah melewati campuhan ini, semua itu tidak berguna. Jimat yang dibawa tidak berguna, niat jahatnya tiba-tiba hilang. Pokoknya tidak ada apa-apanya. Tapi yang paling kuat adalah di pintu bagian barat,” terang Suardana.

Diakuinya, kata 'Bulian' pun banyak memunculkan spekulasi. Ada yang berpendapat Bulian adalah Balian. Ada pula yang mendefinisikan Bulian adalah bulih atau biji. Namun menurut cerita, Bulian atau Bulihan adalah benteng pertahanan atau tempat pertapaan pada zaman dahulu. 

“Begitulah Bulian. Tidak dapat didefinisikan dengan pasti. Sejarah-sejarah yang beredar itu pun dari penuturan para tetua. Tidak ada sumber tertulis yang menerangkan bagaimana Bulian itu ada. Yang pasti tempat ini adalah tempat yang dituju para raja saat digempur pasukan Cina,” kata Suardana.

(bx/dhi/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news