Sabtu, 06 Mar 2021
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Kasus Narkoba di Bali Banyak Dikendalikan dari Lapas

23 Februari 2021, 20: 13: 44 WIB | editor : I Putu Suyatra

Kasus Narkoba di Bali Banyak Dikendalikan dari Lapas

DIUNGKAP: Sebanyak 64 kasus narkoba diungkap Ditresnarkoba Polda Bali setelaah melaksanakan Operasi Antik Agung 2021 selama dua minggu. (I GEDE PARAMASUTHA/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS – Operasi Antik Agung 2021 digelar oleh Polda Bali guna memberantas kasus narkoba di wilayah Bali. Terbukti dalam kurun waktu hanya dua minggu sejak dimulai, sebanyak 64 kasus berhasil diungkap. Operasi ini dilaksanakan pada (4/2) sampai (19/2) lalu dan merupakan agenda tahunan. Mirisnya angka kasus tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Pengungkapan tersebut dipimpin langsung oleh Dirresnarkoba Polda Bali, Kombespol Mochamad Khozin, pada Selasa (23/2), melalui konferensi pers yang berlangsung di Mapolda Bali. Disampaikan olehnya, dari 64 kasus, 31 diantaranya memang merupakan target operasi polisi, sedangkan 33 sisanya bukanlah target operasi namun tetap berhasil diungkap.

Sebanyak 72 tersangka ditangkap terdiri dari 68 warga negara Indonesia dan 4 warga negara asing. Dari keseluruhan tersangka, hanya enam yang dihadirkan saat itu. “Peran mereka berbagai macam, seperti pemakai, pengedar dan pengendali,” terang Kombespol Khozin.

Hal yang cukup menarik dijelaskannya, ialah banyak dari kasus yang terungkap ternyata dikendalikan dari dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Dari hasil pemeriksaan pihaknya mengaku, jumlahnya mencapai 40 hingga 50 persen dari kasus yang terungkap. Ada dua Lapas yang disebut berisikan para pengendali narkoba, yaitu Lapas Kelas IIA Kerobokan, Badung dan Lapas Banyuwangi, Jawa Timur.

Khozin sempat menyampaikan pertanyaan media terkait meningkatnya kasus narkoba yang praktis terjadi di masa pandemi kepada salah satu tersangka. Jawaban yang diberikan ialah karena harga obat-obatan terlarang itu sedang mengalami penurunan. “Penurunan harga ini yang menjadi pemicu, padahal kan seharusnya di saat pandemi, masyarakat menjadi takut untuk membeli barang-barang seperti itu, karena uangnya untuk bertahan hidup,” tuturnya.

Karena penurunan harga ini walaupun perekonomian masyarakat sedang lesu, tidak berpengaruh terhadap daya beli masyarakat terhadap narkoba. Bahkan hal itu malah meningkatkan keinginan mereka karena barang tersebut kini menjadi murah.

Barang terlarang itu banyak didatangkan dari luar negeri seperti Vietnam dan Malaysia. Ada dua jalur masuk narkoba dari luar negeri ke Indonesia, yaitu wilayah Sumatra dan Kalimantan.“Pengiriman marak dilakukan melalui jalur darat dan laut, dikarenakan jalur udara sudah dijaga ketat oleh Imigrasi dan Bea Cukai,” tuturnya.

Ketika disinggung mengenai motif tersangka yang berperan sebagai pengedar narkoba, Khozin menanggapi bahwa para pengedar narkoba itu dulunya merupakan pemakai. Setelah terbiasa para pemakai ini mulai menawarkan barang penyebab sakau itu kepada orang lain. Ketertarikan orang lain membawa kuntungan yang berawal dari jumlah kecil hingga menjadi semakin besar. Seiring berjalannya waktu pemakai ini berubah menjadi pengedar yang sebenarnya dan selanjutnya siklus tersebut terulang kepada pemakai lainnya.

Dari keseluruhan tersangka berhasil diamankan barang bukti berupa Sabu-sabu seberat 417,029 gram netto, Ganja 889,28 gram netto, Extacy berupa pil sebanyak 12 butir dan berupa serbuk seberat 125,78 gram netto, Cocaine seberat 12,82 gram netto, heroine seberat 1,31 gram netto, Tembakau Gorilla seberat 57,47 gram netto, Hasis seberat 0,73 gram netto, Khatamine seberat 0,30 gram netto, pil Erimin sebanyak 100 butir dan uang tunai sebesar Rp 290 ribu. (ges)

(bx/aim/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news