Minggu, 18 Apr 2021
baliexpress
Home > Features
icon featured
Features

Maestro Legong Berpulang; Putri dari Dokter Indonesia Pertama di WHO

24 Februari 2021, 22: 04: 39 WIB | editor : I Putu Suyatra

Maestro Tari Legong Berpulang; Dokter Indonesia Pertama di WHO

AA Ayu Bulantrisna Djelantik (ISTIMEWA)

Share this      

AMLAPURA, BALI EXPRESS – Maestro Tari Legong, Anak Agung Ayu Bulantrisna Djelantik, berpulang, Rabu (24/2) dini hari. Almarhumah meninggal di RS Siloam, Semanggi, Jakarta pada usia 74 tahun karena sakit. Jenazah Ayu Bulantrisna Djelantik dimakamkan di Pemakaman Sandiego Hills Paradise, Karawang Barat, siang hari.

Kabar meninggal perempuan kelahiran Deventer, Belanda, 8 September 1947 itu dibenarkan adik sepupu mendiang, Anak Agung Made Kosalia. Kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Agung Kosalia menuturkan, kakak sepupunya itu merupakan cucu kesayangan Raja Karangasem terakhir, Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem. 

Kosalia mengatakan, kecintaan mendiang Ayu terhadap seni tari sudah terlihat sejak mendiang kecil, sekitar usia 7 tahun. Keluarga kerajaan saat itu sampai memanggil guru tari khusus untuk mengajarkan Bulantrisna menari di Puri Karangasem. "Beliau memang piawai menari sejak kecil. Sering ditunjuk kalau ada tamu kehormatan berkunjung ke puri," tutur Agung Kosalia, Rabu (24/2) siang.

Baca juga: Arak Gula Dijual Murah, Arak Nira Tak Terserap

Sepengetahuan Agung Kosalia, almarhumah kerap pentas di hadapan tamu kehormatan negara. Terutama pentas di Istana Kepresidenan Tampaksiring, Gianyar, dan Istana Merdeka, Jakarta. Tampil di hadapan Presiden RI pertama, Soekarno adalah salah satu cerita awal karier sang maestro. Seperti sudah melekat dengan lingkungan istana, Ayu Bulan yang akrab disapa Biang, ini bahkan jadi pelatih seni tari Bali di istana kepresidenan.

Agung Kosalia mengenang sosok mendiang Bulantrisna sebagai kakak yang ramah. Diakui, mendiang yang tinggal jauh di Bandung, Jawa Barat tak membuat hubungan keluarga puri berjarak. Komunikasi tetap terjalin. Bahkan Agung mengenang pertemuan terakhir dengan mendiang, saat acara pertemuan Raja se-Nusantara di Puri Karangasem.

Kesempatan itu juga dipakai almarhumah untuk pentaskan tarian legong nusantara bersama beberapa penari lainnya. Kata Agung, seluruh tamu terhormat saat itu merasa terhibur. "Memang yang hadir raja dari seluruh Indonesia. Sangat terpukau melihat mendiang menari," tutur Kosalia.

Agung Kosalia menjelaskan, mendiang selain aktif sebagai seniman tari, juga seorang dokter dan doktor. "Beliau ini adalah anak AA Made Jelantik, dokter Indonesia pertama yang bertugas di WHO. Beliau (AA Made Jelantik) juga salah satu yang ikut sebagai pendiri Fakultas Kedokteran Unud. Bisa dikatakan beliau ini tergolong aktif dalam membangkitkan seni budaya Bali di Indonesia," terangnya.

Rutinitas di dunia seni tari tetap digeluti Biang sekalipun melanjutkan studi di Jerman, Belanda dan Belgia. Begitu pula setelah pensiun sebagai pegawai negeri dan staf pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung.

Terbukti, Biang mendirikan bengkel tari yang diberi nama "Ayu Bulan" pada tahun 1994. Melatih murid-murid menari di sanggar itu menjadi rutinitasnya. Rutinitasnya itu berlanjut sampai akhirnya Biang mengetahui ada masalah di tubuhnya, beberapa tahun terakhir.

Di usia tak lagi muda, mendiang Ayu Bulan tetap semangat mengabdikan diri di jalur seni tari, khususnya Legong. Mengajar di sanggarnya menjadi kegiatan rutin. Setelah masalah kesehatannya diketahui, Biang selanjutnya fokus terhadap proses pengobatan dan pemulihan. "Kami dapat kabar meninggal beliau pukul 00.30 karena kanker. Beliau dimakamkan di Karawang Barat," pungkas Agung. 

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news