Selasa, 20 Apr 2021
baliexpress
Home > Kolom
icon featured
Kolom
LOLOHIN MALU

Ngiring Pakai Kaos

Oleh: Made Adnyana Ole

27 Februari 2021, 09: 11: 02 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ngiring Pakai Kaos

Made Adnyana Ole (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

AKIBAT pandemi, seperti juga tahun lalu, rangkaian Hari Raya Nyepi tahun 2021 ini dipastikan tak diisi dengan pawai ogoh-ogoh. Saya agak sedih, bukan karena tak ada ogoh-ogoh, melainkan karena tak bisa menyaksikan kombinasi kostum seka teruna; kain kamben dan udeng dari kain edek, saput poleng, dan kaos oblong hitam. Tulisan pada kaos, selain nama seka teruna, juga tambahan kata-kata pilihan, kadang lucu, kadang seram, kadang klise, kadang tulisan Bahasa Bali, kadang Bahasa Inggris.

Jika tak ada pawai ogoh-ogoh, kombinasi kostum seperti itu jarang sekali kita lihat. Kalau pun para seka teruna memakai kostum semacam itu pada acara-acara tertentu, tentu saja jumlahnya tak bakal sebanyak saat pawai ogoh-ogoh, juga suasananya tak seheboh saat pawai ogoh-ogoh. Selain memamerkan ogoh-ogoh, ajang pawai juga digunakan untuk memamerkan kostum mereka, terutama kata-kata pada kaos oblong.

Jika dipikir-pikir, kombinasi kostum seragam seka teruna saat pawai ogoh-ogoh memang unik. Seragam itu tercipta dengan sendirinya, entah seka teruna mana di Bali yang memulainya. Kostum itu berkembang dari Hari Raya Nyepi ke Hari Raya Nyepi berikutnya. Sampai akhirnya, tanpa ada surat edaran dari siapa pun, para seka teruna se-Bali seakan sepakat untuk menggunakan kostum dengan kombinasi yang nyaris sama, yakni kain kamben dan udeng endek/batik, slempod endek atau saput poleng, dan tentu saja kaos oblong.

Baca juga: Usada Pamunah Cetik (5) : Kena Racun Telur dan Semangka

Kaos oblong tentu saja bukan jenis kain tenun warisan adiluhung kita. Dalam sejarahnya kaos oblong adalah pakain tentara Inggris dan Amerika pada awal abad ke-19. Tapi, di Bali, terutama pada saat pawai ogoh-ogoh, kaos oblong adalah simbol identitas seka teruna. Tulisan-tulisan pada kaos, selain menunjukkan seka teruna dari mana mereka, juga mencerminkan kebebasan mereka berekspresi dengan gambar dan kata-kata ciptaan sendiri.

Pada saat pawai ogoh-ogoh, atau di sekitar perayaan Hari Raya Nyepi, kita menemukan anak-anak muda dengan suka-cita menunjukkan dengan kata-kata pada kaosnya bahwa mereka bangga menjadi anggota seka teruna, sebuah perkumpulan muda-mudi khas dari Bali. Mereka bangga menggunakan kaos itu, bahkan ketika mereka berwisata ke obyek-obyek wisata. Mereka menyebut kaos itu adalah kaos ogoh-ogoh. Pada saat-saat seperti itu, kaos ogoh-ogoh, seakan menjadi tuan rumah di Bali, di tengah trend kaos dengan merk impor yang banyak dijual distro-distro besar.

Kaos ogoh-ogoh harus disadari telah menciptakan lapangan pekerjaan bagi anak-anak muda yang hobi bikin desain dan tukang sablon. Kebutuhan kaos oblong pada saat pawai Hari Raya Nyepi tak bisa dihitung, saking banyaknya. Jumlah desa adat di Bali tahun 2020 sebanyak 1.493. Kira-kirakan saja pada setiap desa adat terdapat lima seka teruna, masing-masing seka teruna beranggotakan 200 orang. Sehingga pada masing-masing desa adat terdapat sekitar 1.000 anggota seka teruna. Jadi, kaos yang dibutuhkan saat pawai totalnya berjumlah 1.493 dikalikan 1.000, yakni hampir 1,5 juta. Belum lagi, kaos juga dipakai oleh anak-anak dan orang tua yang bukan lagi anggota seka teruna tapi selalu ikut girang-gejor saat pawai seperti layaknya seka teruna.

Jadi tidak heran belakangan banyak anak-anak muda di Bali menekuni usaha sablon sekaligus membuka distro kecil-kecilan. Selain memenuhi kebutuhan kaos pada Hari raya Nyepi, mereka juga menciptakan desain kaos khas Bali. Kainnya memang banyak didatangkan dari luar Bali, tapi anak-anak muda Bali menyulap kain itu menjadi kaos dengan ciri khas Bali, atau desain yang mencerminkan kearifan lokal Bali, misalnya kaos dengan aksara Bali.

Dengan begitu, maka anak muda tak memerlukan surat edaran dari siapa pun untuk menciptakan kaos Bali dan menggunakannya sebagi simbol dari identitas ke-Bali-an mereka. Mereka bukan anak-anak muda yang manja, yang sedikit-sedikit minta koneksi dan relasi dari pemerintah, tapi mereka membikin koneksi dan relasi sendiri. Dan, seperti juga usaha-usaha yang lain, mereka juga terdampak pandemi. Apalagi, setahun lalu taka da pawai ogoh-ogoh, dan tahun ini juga ditiadakan.

Saya pikir, mereka, anak-anak muda itu, sebaiknya membuat kesepakatan sesama anggota  seka teruna untuk tetap menggunakan kaos pada saat Hari Pengerupukan serangkaian Nyepi tahun ini. Kaos itu tetap diisi tulisan nama seka teruna yang dipadukan dengan udeng dan kain endek, dengan slempod endek yang khas anak muda. Sekali lagi, tidak perlu surat edaran, tapi dimulai oleh seka teruna satu, lalu diikuti oleh seka teruna lainnya. Aksi-aksi berpakaian seperti itu bisa diunggah di media sosial, tentu dengan tujuan menunjukkan identitas seka teruna saat menyambut Hari Nyepi.

Saya tutup kolom ini dengan satu cerita. Suatu kali, seorang pemuda anggota seka teruna ikut mengusung ogoh-ogoh pada saat pawai di pusat kota. Pemuda itu menggunakan kostum lengkap, udeng dan kamben endek dan kaos oblong. Ia mengusung ogoh-ogoh dalam keadaan mabuk setelah minum arak. Entah karena oleng, pemuda itu terpisah dari teman-temannya sesama seka teruna. Pemuda itu terjatuh di atas trotoar, dan tak ada yang mempedulikannya. Dini hari, pemuda yang tergolek di atas trotoar itu ditemukan oleh sekelompok pemuda lain dari seka teruna yang lain.

“Ini pemuda dari seka teruna mana ya?” kata seorang pemuda.

“Periksa saja baju kaosnya. Pasti isi nama seka teruna!” kata pemuda yang lain.

Mereka kemudian membalik tubuh pemuda yang tergolek itu dengan maksud membaca tulisan pada baju kaosnya. Tapi kaos itu berisi merk luar negeri dengan gambar orang berselancar, bukan kaos seka teruna.

“Wah, kita tak bisa mengantarnya pulang. Kaosnya bukan kaos ogoh-ogoh!” Sekelompok pemuda itu langsung meninggalkan pemuda yang masih tergolek mabuk di atas trotoar. (*)

(bx/art/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news