Selasa, 20 Apr 2021
baliexpress
Home > Bisnis
icon featured
Bisnis

Sempat Berangan-Angan, Pembuat Mikol Lapang Dada Perpres Dicabut

03 Maret 2021, 17: 48: 01 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Sempat Berangan-Angan, Pembuat Mikol Lapang Dada Perpres Dicabut

ALKOHOL : Salah satu pembuat minuman beralkohol (mikol), Ida Bagus Giri Supryatna saat menunjukkan arak buatannya ke Gubernur Koster, beberapa waktu lalu.  (Putu Agus Adegrantika/Bali Express)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Pekan lalu salah satu pembuat minuman beralkohol tradisional Bali, Ida Bagus Giri Supryatna, menunjukkan minuman beralkohol buatannya ke Gubernur Bali Wayan Koster.

Baru sampai berangan-angan saja, ia akan dapat membantu para petani salak yang ada di desanya, namum saat ini pupus. Pasalnya, lampiran khusus Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal minumam beralkohol dicabut.

Pria asal Sidemen, Karangasem ini, mengaku apapun yang diputuskan itu merupakan kewenangan dari pemerintah yang harus dihormati bersama. "Pertama kita hidup ini bernegara, tentu harus saling mengormati. Kedua kita memiliki suatu warisan, selain seni ukir, tabuh, tari dan sebagainya, kita juga punya seni membuat minuman alkohol tradisional," jelasnya, Rabu (3/3).

Baca juga: Kick-off SATU Indonesia Dimulai, 4 Remaja Berprestasi Berbagi Cerita

Ida Bagus Giri yang membuat arak salak Bali ini, berharap arak jangan dilihat dari alkoholnya saja. Tapi harus dilihat juga seni kreativitasnya, termasuk di bidang agama difungsikan dalam upakara untuk tabuh. 

Meski Perpres terkait mikol itu dicabut, ia pun berharap dengan adanya Pergub Bali Nomor 1 Tahun 2020 tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi dan/atau Destilasi Khas Bali, seniman pembuat minuman tetap dapat mengembangkan kreativitasnya. 

"Di Bali disebut arak, penerapannya dengan hubungan tiga alam. Yaitu Tri Hita Karana, sehingga ada bagian digunakan sebagai upacara, disebut dengan matabuh. Tabuh itu kan langkah, ada makna jangan melangkah sebelum memuliakan bumi ini," sambungnya. 

Sementara di sisi lain, yang dikenal pada dunia pariwisata saat ini adalah seni tari ukir dan sebagainya. Sementara seni minuman hanya datangnya dari luar negeri saja. Padahal, Bali sendiri memiliki minuman alkohol yang disebutkan tidak kalah saing dengan minuman berlabel luar negeri tersebut.

"Bahwa ada konteks lokal yang bisa menjadi penghasilan, dan warisan bagian pariwisata. Harapan kami Bali adalah pariwisata dengan minuman lokalnya agar dikuatkan juga," tegasnya 

Pasca Perpres itu muncul ia hanya baru memiliki angan-angan untuk memunculkan talenta pembuat seni minuman di Bali lebih tergali.  "Bagi kami (seniman) ingin mewarnai dunia ini. Itu yang kita mau, ini saatnya seniman pembuat minuman alkohol tradisional akan mewarnai dunia. Jangan dilihat dari sisi penikmat saja, sebab tidak semua bisa membuatnya. Itu terbuat dari alam, dari pohon maupun buah," tandasnya. 

Ida Bagus Giri menambahkan, saat ini petani salak tengah panen, namun harganya semakin anjlok, sehingga petani sangat menderita. "Petani menangis, ketika berbuah banyak, justru menjadi derita. Setahun menunggu  panen justru merugi. Sekarang bagaimana bisa menggapai petani, tidak mungkin kita makan salak begitu banyak, jika tidak diolah seperti ini," ungkapnya. 

Meski sedikit kecewa, ia sangat menjunjung tinggi Dharma Negara dan memghormati hal tersebut. "Keputusan negara harus dihormati, pemimpin daerah serta teknis perusahaan orang Bali bekerjasama dengan petani untuk menyelamatkannya. Selaku penggiat seni pembuat arak, kami ingin mewarnai dunia dari seni minuman beralkohol ini. Agar tidak minuman luar negeri saja menjajah pariwisata," imbuhnya.

(bx/ade/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news