Selasa, 20 Apr 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Pohon Jeruju Dalam Taru Pramana Mengaku Jadi Obat Tuju

04 Maret 2021, 08: 15: 30 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Pohon Jeruju Dalam Taru Pramana Mengaku Jadi Obat Tuju

OBAT : Pohon Jeruju (Acanthus ebracteatus), salah satu tanaman untuk mengobati sakit Tuju (Rematik). Dosen STAHN Mpu Kuturan Singaraja, I Gede Sutana, S.Kes, M.Si. (Putu Mardika/Bali Express)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Bali memiliki sistem pengobatan tradisional yang dikenal dengan nama Usada. Literatur mengenai Usada yang berupa lontar Usada jumlahnya cukup banyak. 

Lontar-lontar ini tersimpan di beberapa museum lontar, seperti di Museum Lontar Gedung Kertiya Singaraja, Perpustakaan Lontar Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Perpustakaan Unud di Denpasar hingga di griya (rumah pemuka agama di Bali), bahkan disimpan masyarakat umum.

Dari sederetan lontar usada yang ada, diantaranya Lontar Usada Taru Pramana, Usada Bodha Kecapi, Usada Yeh, Usada Rare, Usada Pengeraksa Jiwa, Usada Pamupug, Usada Netra, Usada Tetenger Wong Agering, Usada Tua, Usada Mercu Kunda, Usada Wisnu Japa, dan Usada Pengawasan (Tatelik Jati).

Baca juga: Tak Kunjung Diperbaiki, Jembatan Bungkulan Jadi Sorotan Dewan

Ada juga Lontar Usada Tumbal, Usada Tiwas Punggung, Usada Aji Kreket, Usada Tetenger Tiwang, Usada Wraspati Kalpa, Usada Wisada, Usada Sari, Usada Lara Kamatus, Usada Kena Upas, dan Lontar Usada.

Dosen STAHN Mpu Kuturan Singaraja, I Gede Sutana, S.Kes, M.Si mengatakan, dari sekian jumlah lontar Usada yang ada, yang paling populer di kalangan masyarakat Bali adalah Lontar Usada Taru Pramana. Kata Taru memiliki arti pohon, dan Pramana berarti kekuasaan, kedaulatan.

Secara harfiah Taru Pramana dapat diartikan sebagai suatu pohon atau tumbuhan yang memiliki kekuatan sebagai obat. Dalam salinan naskah Lontar Usada Taru Pramana, disebutkan Mpu Kuturan melakukan tapa semadhi di kuburan selama satu bulan tujuh hari.

“Beliau berhasil berkomunikasi dengan tumbuh-tumbuhan tentang khasiat atau kegunaan masing-masing tumbuh-tumbuhan tersebut. Dalam pertapaan itu beliau mendapatkan anugerah, tahu nama-nama kayu atau tumbuhan, sehingga Mpu Kuturan dijuluki Taru Lata Tranagulma,” jelasnya.

Lebih lanjut alumnus Fakultas Kesehatan Ayurweda UNHI Denpasar ini, mengatakan, yang pertama datang kepada Mpu Kuturan adalah Kayu Beringin. Ia pun bertanya kepada Mpu Kuturan kenapa tuanku bersedih hati dan memanggil saya? “Kemudian Mpu Kuturan menjawab, aku menjadi dukun tidak mampu menyembuhkan, sehingga aku ke sini bertapa untuk menanyakan ke semua pohon kayu, apa kegunaannya atau khasiatnya dan dipakai obat apa,” ungkapnya, seperti dikutip dalam Lontar Taru Pramana.

Dalam naskah disebutkan, pohon-pohon pun datang silih berganti menceritakan kegunaannya. Nah ada pula disebutkan datang pohon jeruk (Semaga) dan pohon Jeruju, yang mengatakan dirinya untuk mengobati penyakit Tuju (Rematik).

Ditambahkan Sutana, dalam penyakit Tuju jika ditinjau dari ilmu kedokteran medis disebut dengan rematik. Dalam dunia kedokteran medis, yang berperan menyebabkan penyakit Rematik (Tuju), antara lain peradangan persendian (Artritis rheumatoid), pengeroposan pada sendi tulang (Osteoartritis), pelapukan pada tulang sendi (Osteoporosis), dan karena asam urat (Gout Artritis).

Dalam salinan naskah Lontar Usada Taru Pramana disebutkan, beberapa tumbuhan yang bisa digunakan sebagai obat penyakit Rematik (Tuju), disebutkan datang pohon jeruk Semaga. Adapun percakapan itu sebagai berikut : 

Titiang Taru Semaga, daging don, akah, panes, engket dumelada, dados anggen tamba tuju make sami, ra, yeh cuka, temu tis 3 iris.

Artinya: Saya pohon jeruk Semaga (Keprok) daun dan akar panas, getah sedang, obat sakit rematik. Gunakan semua bagian untuk param (boreh), dicampur dengan air cuka dan temutis tiga iris.

Sutana menyebut, tumbuhan ini bermanfaat untuk mengatasi penyakit Tuju seperti minyak Atsiri Jeruk Keprok dapat meningkatkan sekresi tubuh, karena bersifat panas dan imunomodelator mampu membantu mengurangi rasa nyeri, dan menurunkan tekanan darah serta flavonoid, yang berhasil diisolasi sebagai penghambat aktivitas bakteri dalam tubuh (anti peradangan).

Zat Flavonoid dan vitamin C pada buah jeruk berfungsi sebagai antioksidan dan sangat baik untuk memperkuat daya tahan tubuh. 

Kemudian ada pula datang pohon Jeruju (7a) yang disebutkan : Titiang wit Jeruju, titiang madewek tis, anggen titiang wedak, tuju, akah miwah dawun, ra, bawang adas. Artinya : Saya bernama pohon Jeruju, saya bersifat sejuk. Saya dapat dipakai parem (boreh) sakit tuju, ambil akar dan daun saya, kemudian diisi dengan bawang merah dan adas.

Kandungan kimianya, alkaloid, pancorine, protopine, allocryptopine, coptisine, columbamine, oxyberberine, akar mengandung flavone dan asam amino, memiliki rasa pahit, dingin. 

Akarnya bermanfaat untuk mengatasi bengkak-bengkak anti radang (Antiphlogistik), expectorant, pembersih darah kotor (bijinya), cacing kremi, cacing gelang-gelang, busung lapar, gigitan binatang berbisa.

“Akar juga berguna sebagai antipiretik, mengurangi gejala penyakit abstinensi, sehingga sering kali digunakan dalam terapi penyalah gunaan obat atau pemberhentian morfin,” jelasnya.

Untuk mengobati penyakit Tuju atau Rematik dengan ramuan akar dan daun Jeruju, dapat ditambahkan bawang merah (berambang) dan daun adas. Pengolahannya digerus halus, ditambahkan air untuk dipakai boreh atau parem.

Dalam Lontar Usada Taru Pramana tidak ada disebutkan tata cara meramu dan tata cara penggunaannya secara detail, namun hanya diungkapkan tentang bentuk obatnya berupa boreh (parem).

Cara pembuatan dan penggunaan boreh (parem) dalam Usada Bali dimana boreh dapat disamakan dengan parem, berbentuk serbuk halus, dalam penggunaannya dicampur dengan cairan (air, cuka, arak atau alkohol).

Cara membuatnya, pertama-tama bahan-bahan yang ada dihaluskan dengan cara diulig atau dilumatkan. Tidak perlu diperas dan biarkan tetap seperti serbuk halus. Kemudian dicampur dengan cairan air, cuka, arak atau alkohol (disesuaikan).

Disinggung terkait cara pemakaiannya, Sutana menyebut, ramuan boreh yang sudah selesai diolah, langsung diparemkan atau dibalurkan merata pada anggota badan, terutama bagian-bagian yang sakit. 

Namun, ia menyebut tidak dianjurkan digunakan untuk di bagian perut, terutama ibu hamil. “Kadang-kadang ada pengolahan lanjutan, yaitu sebelum obat diparemkan atau digunakan, terlebih dulu didadah atau dipanaskan seperlunya,” pungkasnya. 

(bx/dik/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news