Selasa, 20 Apr 2021
baliexpress
Home > Bisnis
icon featured
Bisnis

Biaya Operasional Tinggi, 20 Hotel di Buleleng Dijual

04 Maret 2021, 18: 19: 29 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Biaya Operasional Tinggi, 20 Hotel di Buleleng Dijual

Ketua PHRI Buleleng, Dewa Ketut Suardipa.  (Putu Mardika/Bali Express)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS- Sebanyak 20 hotel yang beroperasi di Buleleng terpaksa dijual oleh pemiliknya selama pandemi Covid-19 dalam kurun waktu satu tahun. Pasalnya, pengelola mengaku merugi lantaran tingkat kunjungan wisatawan ke Buleleng yang menyentuh titik nol persen.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) Buleleng, Dewa Ketut Suardipa menjelaskan, saat ini ada sekitar 195 hotel dan restoran yang terdata di PHRI Buleleng. Rinciannya, 170 hotel dan sisanya restoran. Dari jumlah itu, 20 hotel telah dijual. "Sekitar 20 hotel dijual yang masuk ke laporan saya. Dan, tidak menutup kemungkinan ini akan bertambah," kata Dewa Suardipa, Kamis (4/3) siang.

Suardipa tak menampik jika puluhan hotel yang dijual dipengaruhi faktor tingginya biaya operasional. Terlebih, pemasukan tidak ada. Tak ada pilihan, para pelaku pariwisata, terutama pemilik hotel dan restoran menutup usaha mereka hingga menjualnya.

Baca juga: Ini Yang Dirasakan Anggota Dewan Gianyar Usai Divaksin

"Meski hotel tutup, namun harus tetap bayar listrik, termasuk biaya kebersihan. Jadi, biaya operasional tinggi membuat para owner tidak kuat sampai mereka jual properti. Tapi ada yang sudah laku, ada yang belum dengan situasi sekarang ini," ungkap Dewa Suardipa.

Jika dalam kondisi normal sebelum pandemi, Suardipa menyebut pelaku usaha pariwisata bisa terbilang mampu. Hanya saja, kondisi ini berubah ketika terjadi pandemi. Terparah di tahun 2021 ini, para pelaku usaha pariwisata hingga kehabisan tabungan untuk menutupi biaya operasional.

"Di tahun 2020 kami masih bisa bernapas, tapi tahun 2021 tabungan mulai habis, apalagi yang tidak mempunyai tabungan. Jadi mereka sampai menjual propertinya karena ingin melepas beban, akibat biaya operasional yang ditanggung," jelas Dewa Suardipa.

Bahkan sebelumnya, sambung Dewa Suardipa, pihaknya sempat melakukan koordinasi dengan beberapa instansi, khususnya PLN agar biaya operasional, terutama listrik mendapatkan subsidi. Itu dilakukan sebelum bulan April 2020 lalu. Hanya saa, hingga saat ini masih belum ada jawaban.

 "Jika kondisi normal, kami justru tidak masalahkan hal ini termasuk jika ada kenaikan. Kami berharap, agar instansi terkait bisa memberi kemudahan bagi pelaku usaha pariwisata khususnya hotel, agar setidaknya kami bisa menekan biaya operasional yang tinggi," pungkas Dewa Suardipa. 

(bx/dik/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news