Selasa, 20 Apr 2021
baliexpress
Home > Bisnis
icon featured
Bisnis

Indeks Nilai Tukar Petani (NTP) Bali Pada Februari Turun 0,67 Persen

04 Maret 2021, 19: 30: 23 WIB | editor : I Putu Suyatra

Indeks Nilai Tukar Petani (NTP) Bali Pada Februari Turun 0,67 Persen

PENJABARAN INDEKS: Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, Hanif Yahya, saat menyampaikan rilis berita resmi statistik. (ISTIMEWA)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, Hanif Yahya menyebutkan, indeks nilai tukar petani (NTP) Provinsi Bali bulan Februari 2021 mengalami penurunan. Tercatat, indeks NTP Provinsi Bali menurun dari 93,09 pada Januari menjadi 92,46, atau turun sedalam 0,67 persen. Indeks yang diterima petani (It) tercatat turun 0,80 persen, sementara itu indeks yang dibayar petani (Ib) turun lebih dangkal, yaitu 0,13 persen.

“Ada tiga subsektor yang mengalami penurunan indeks NTP pada bulan Februari 2021. Yaitu subsektor hortikultura turun 2,95 persen, subsektor tanaman pangan turun sebesar 1,51 persen, dan subsektor peternakan turun 0,69 persen. Sementara itu, NTP subsektor tanaman perkebunan rakyat dan subsektor perikanan tercatat naik masing-masing sebesar 2,46 persen dan 0,10 persen,” jelas Hanif Yahya, Rabu (3/3).

Lebih lanjut dia menyampaikan, untuk indeks nilai tukar usaha pertanian (NTUP) Provinsi Bali bulan Februari 2021 tercatat 92,71. Yang mana angka ini turun sedalam 0,84 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang tercatat 93,49. Jika dilihat dari subsektornya, Indeks NTUP pada bulan Februari 2021 tercatat turun pada tiga subsektor. Yaitu subsektor hortikultura turun sebanyak 3,05 persen, subsektor tanaman pangan turun 1,74 persen, dan subsektor peternakan turun 0,65 persen. “Sementara itu, kenaikan NTUP tercatat pada subsektor tanaman perkebunan rakyat dan subsektor perikanan masingmasing sebesar 2,03 persen dan 0,03 persen,” katanya.

Baca juga: Nelayan yang Hilang di Perairan Pemuteran Itu Disebut Panah Ikan Duwe

Pihaknya mengungkapkan, pada bulan Februari 2021, Provinsi Bali tercatat mengalami deflasi perdesaan sebesar 0,18 persen. Menurutnya, kondisi ini berbeda arah dengan catatan inflasi perdesaan secara nasional yang tercatat mengalami inflasi sebesar 0,17 persen. “Dari seluruh provinsi amatan, inflasi perdesaan tertinggi tercatat di Provinsi D.I. Yogyakarta sebesar 0,69 persen dan terendah di Provinsi Papua sedalam 0,01 persen. Di sisi lain, deflasi paling dalam tercatat di Provinsi Kepulauan Riau yakni 0,62 persen, sedangkan deflasi terdangkal tercatat di Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan nilai 0,04 persen,” sebutnya. (ika)

(bx/aim/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news