Selasa, 20 Apr 2021
baliexpress
Home > Bisnis
icon featured
Bisnis

UMKM Pertenunan Artha Dharma Tonjolkan Warna Alam

04 Maret 2021, 19: 33: 29 WIB | editor : I Putu Suyatra

UMKM Pertenunan Artha Dharma Tonjolkan Warna Alam

BERTAHAN: Salah satu UMKM binaan BI, Pertenunan Artha Dharma, membuka stand di Pameran Karya Kreatif Indonesia yang digelar BI di The Anvaya Beach Resort, Kuta, Badung. (NI KADEK RIKA RIYANTI/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Selama masa pandemi Covid-19, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) kian didongkrak pemerintah untuk turut membantu memulihkan perekonomian. Selain dinilai berpotensi, UMKM semakin digenjot untuk menonjolkan produk-produk lokal di tengah persaingan yang ketat dengan industri luar.

Pertenunan Artha Dharma, salah satunya. UMKM binaan Bank Indonesia (BI) tersebut mesti beradaptasi dengan kondisi pandemi Covid-19 ini. Mulai dari yang biasanya berdagang secara langsung, kini harus menyesuaikan diri terhadap konsep jual-beli virtual. Pihaknya pun semakin gencar menonjolkan ciri khas tersendiri untuk menarik minat pembeli. Demikian yang disampaikan Ketut Rajin dari Pertenunan Artha Dharma saat diwawancarai di Pameran Karya Kreatif Indonesia yang digelar BI di The Anvaya Beach Resort, Kuta, Badung, Kamis (4/3).

“Kami di sini mempunyai produk-produk alam murni yang diproses dari awal. Mulai dari pengolahan benang, budidaya benang sutra, ulat sutra, jadi kepompong, kepompongnya diproses lagi menjadi benang. Kemudian ada pemintalannya juga. Setelah sudah ditwisting dan sebagainya, jadi siap untuk dicelup dengan warna-warna alam,” jelas Ketut Rajin.

Baca juga: Ingin Seperti Artis Korea, Kontur Wajah Diburu Kaum Hawa

Dia mengungkapkan, untuk desainnya ada bermacam-macam. Mulai dari yang sederhana, kerumitan sedang, hingga tingkat kerumitannya sangat sulit dan limited. Selain itu, karena menonjolkan produk alam murni, warna-warna pada kain tenunannya pun bahannya diambil dari tumbuh-tumbuhan. “Jadi warna-warna alam itu bahannya dari tumbuh-tumbuhan. Bisa dari kayu secang, kayu mahoni, ada dari daun jati, daun ketapang, daun pisang kering, dan sebagainya. Dari hasil-hasil warna yang kami dapatkan itu baru kami proses penenunan. Untuk pembuatan songketnya, itu kami ada proses membuat desain songket atau istilahnya nyuntik. Setelah itu baru dilanjutkan dengan proses penenunan. Skemanya begitu,” paparnya.

Semua kain tersebut, diakuinya, diproduksi di galeri yang berlokasi di Desa Sinabun, Sawan, Buleleng. Menurutnya, bagi konsumen yang berminat, bisa datang langsung ke galerinya. Karena tidak hanya bisa melihat kumpulan kain tenun, konsumen juga bisa langsung mengikuti workshop. “Jadi umpamanya ada konsumen-konsumen yang berminat silakan datang ke showroom atau galeri kami yang mana sudah menjadi satu-kesatuan dengan workshopnya. Jadi bisa melihat proses pembuatannya dari hulu ke hilir,” kata dia.

Usaha tenun ini telah dimulainya pada 2002 lalu. Segmen pasarnya lebih banyak diminati domestik. Kendati demikian, tidak sedikit wisatawan mancanegara yang menyasar kain buatannya. “Khususnya untuk warna-warna alam peminatnya dari luar. Biasanya dari Jepang, Eropa, mereka suka warna-warna alam yang murni tanpa pemakaian bahan kimia,” ungkapnya.

Ketut Rajin mengungkapkan, sebelum pandemi, biasanya pihaknya menjual lewat penjualan langsung dan lewat pameran-pameran. Namun, semenjak Covid-19 mewabah, dia mulai merambah ke media sosial. “Entah itu internet atau market place, termasuk market place dalam negeri dan luar negeri. Kami coba membuka peluang pasar. Jadi untuk mensosialisasikan hasil-hasil produk yang kami ciptakan agar masyarakat tahu,” katanya.

Pihaknya mengakui, terkait penjualan memang agak menurun. Dia menilai hal ini lantaran tidak bisa bergerak bebas. Dalam artian tidak bisa mengikuti pameran di luar daerah. “Meskipun ada pameran tapi dibatasi. Jadi pengunjung juga sedikit yang datang. Biasanya kami secara langsung lebih bagus dampaknya terhadap pengrajin. Tapi kalau melalui virtual, masyarakat masih belum terbiasa untuk membeli lewat virtual,” tuturnya. “Karena konsumen hanya melihat gambar, jadi belum bisa membuktikan apakah kualitasnya bagus atau tidak. Setelah sampai baru dia bisa melihat kondisi barang. Ya, astungkara kami masih bisa bertahan. Kami terus produksi desain-desain baru yang kami anggap bisa masuk pasar. Mudah-mudahan kedepannya perekonomian cepat pulih. Setelah pulih masyarakat bisa tahu bahwa kami bisa membuat produk berkualitas tinggi dengan bahan-bahan warna alam,” tambahnya berharap. (ika)

(bx/aim/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news