Selasa, 20 Apr 2021
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Janjikan Lulus, Oknum Dokter Tipu Calon Dokter Spesialis Rp 1,5 Miliar

05 Maret 2021, 18: 29: 32 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Janjikan Lulus, Oknum Dokter Tipu Calon Dokter Spesialis Rp 1,5 Miliar

Ilustrasi. (istimewa)

Share this      

DENPASAR,BALI EXPRESS - Oknum dokter di Bali, Irfana, 42, yang diadili kasus penipuan kepada sesama dokter hingga mengakibatkan kerugian Rp 1,5 Miliar, dituntut penjara selana 3,5 tahun.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Putu Agus Adnyana Putra dalam sidang online di PN Denpasar, Kamis (4/3) , menilai perbuatan terdakwa terbukti bersalah melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan pidana penipuan sebagaimana diatur dan diancam dalam Pasal 338 KUHP. 

"Memohon kepada majelis hakim menjatuhkan hukuman kepada terdakwa Irfana, pidana penjara selama 3 tahun 6 bulan, dikurangi selama terdakwa dalam tahanan dan menyatakan terdakwa tetap ditahan," ungkap jaksa Agus Adnyana Putra pada majelis hakim yang diketuai Sukradana.

Baca juga: Tunggu Izin Edar, BPOM Kunjungi Pabrik AMDK Tirta Sanjiwani

Kasus yang menyeret dokter kelahiran Klungkung, 9 Oktober 1978 ini, berdasarkan laporan korban dr.Elizabeth Lisa Ernalis, 29. Mulanya pada 24 Juni 2018, korban Elizabeth datang ke rumah terdakwa dr. Irfana di Klungkung, setelah istri terdakwa dr. AP melahirkan. 

Saat bincang-bincang, dr.AP menawarkan Elizabeth sekolah dokter spesialis kulit di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. "Iis, gak mau melanjutin sekolah, dicoba saja. Kalau mau Si Koko (terdakwa) bisa bantuin tuh," kata jaksa mengutip ucapan istri terdakwa pada korban. Jangankan di Unud, untuk di Universita Airlangga, UI, diyakini bisa lulus 99%. 

Kemudian Pada 21 Juli 2018, terdakwa Irfana menelepon korban dan juga kirim pesan WhatsApp mengatakan sudah positif dan itu hoki-nya korban karena Babe sudah bisa memastikan bisa membantu di Fakultas Kedokteran Unud. 

Selanjutnya, pada 24 Juli, atas permintaan terdakwa, korban bersama ibunya Sinta Kusuma Dewi datang ke rumah terdakwa di Klungkung. Terdakwa Irfana menjanjikan kepada korban bisa masuk dokter spesialis dari awal sampai persiapan akhir dengan biaya Rp 2 Miliar.  Namun, saat itu saksi korban hanya sanggup Rp 1,5 Miliar. 

Pada 26 Juli 2018 korban kembali bertemu dan mentransfer Rp 50 Juta sebagai tanda jadi ke rekening atas nama dr. Irfana di sebuah ATM BCA di dekat Kampus Unud Denpasar. 

Besoknya, 27 Juli kembali mentransfer Rp 450 Juta ke rekening BCA atas nama dokter Irfana melalui teller bank BCA di Sudirman  Denpasar. Pada 14 September 2018, terdakwa datang ke rumah korban di Jakarta menagih kekurangan Rp 100 Juta. 

Selanjutnya pada 15 September ditransfer 7 kali dengan nilai seratus juta rupiah dan puluhan juta  rupiah, dan 17 September kembali ditransfer ke rekenening atas nama terdakwa sebanyak lima kali.

Guna meyakinkan korban dan ibunya, terdakwa awalnya menyerahkan satu cek pada korban senilai Rp 500 Juta sambil mengatakan "Saya tidak mungkin tipu tante dan nama saya sebagai taruhan di mata Babe. Dan apabila tidak lulus, H+1 cek tersebut bisa dicairkan," kata terdakwa.

Saat itu, lanjut jaksa Agus, terdakwa kembali menyodorkan dua cek pada korban masing-masing senilai Rp 500 Juta. Pada 28 hingga 30 Oktober korban mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru Dokter Spesialis Kulit di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Namun, apa yang terjadi, saat pengumuman 9 November 2018, nama korban tidak muncul alias tidak lulus seleksi dokter spesialis. 

Korban pun merasa tertipu, dan 10 November menelepon terdakwa Irfana, untuk mencairkan ketiga cek yang diberikan sebelumnya. 

Sialnya cek itu tidak bisa dicairkan karena sudah kedaluarsa. Pada 16 November, terdakwa mendatangi rumah korban menyerahkan empat lembar cek. Tiga cek berisi Rp 500 Juta, dan satu cek berisi Rp 15 Juta.  Namun saat jatuh tempo cek itu tidak bisa dicairkan karena  tidak ada dananya.  

(bx/har/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news