Selasa, 20 Apr 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Lontar Ental Gadang Ungkap Jenis dan Perilaku Makhluk Astral

06 Maret 2021, 19: 22: 42 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Lontar Ental Gadang Ungkap Jenis dan Perilaku Makhluk Astral

LONTAR: Jro Panca membaca Lontar Ental Gadang yang merupakan tetamian leluhurnya. (Putu Mardika/Bali Express)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Masyarakat Bali sangat percaya dengan keberadaan roh halus yang berada pada dimensi lain, dan tak bisa dilihat secara kasat mata. Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu melihat keberadaan makhluk halus ini.

Namun siapa menyangka, rupanya beragam jenis makhluk halus ini dikupas secara detail di dalam Lontar Ental Gadang. Tak tanggung-tanggung, jenis-jenis makhluk astral ini jumlahnya mencapai puluhan.

Menurut Jro Putu Agus Panca Saputra, 30, makhluk astral atau roh ini dianggap mempunyai kekuatan tersendiri dalam kehidupannya. Mereka ada yang jahat dan ada pula yang baik. Roh jahat bisa mengganggu ketenteraman masyarakat, terutama masyarakat yang berlaku ceroboh terhadap alam lingkungan yang dihuni makhluk gaib tersebut.

Baca juga: Polisi Amankan Penyelenggara 'Kelas Orgasme' di Ubud

Lontar Ental Gadang Ungkap Jenis dan Perilaku Makhluk Astral

GOA: Jro Panca Saputra bersama tim Taksu Poleng saat berada di dalam Goa Raksasa. (Putu Mardika/Bali Express)

Gangguan itu dapat dirasakan ketika ada seseorang yang kerasukan dan mengeluarkan kata-kata yang diyakini dari makhluk astral. Bahkan, apabila dalam masyarakat ada seseorang yang sedang sakit dan diluar kebiasaan pengetahuan mereka (medis), maka sakit yang demikian dianggap sebagai penyakit yang berasal dari roh-roh jahat. Sehingga perlu penanganan secara niskala.

Dikatakan Jro Panca, di Lontar Ental Gadang yang merupakan warisan dari leluhurnya itu, dikupas secara detail tentang keberadaan makhluk astral. Tak hanya itu, orang yang menjalankan agem-ageman atau gelaran Lontar Ental Gadang diyakini bisa menjadi paranormal secara skala dan niskala.

Cerita itu ia dapatkan dari sang kakek yang menjalankan gelaran tersebut. “Jadi, kalau mendalami gelaran Lontar Ental Gadang, dia tidak hanya mengobati manusia saja. Tetapi bisa juga mengobati makhluk astral seperti gamang, memedi dan lainnya,” ujar Jro Panca kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Jumat (5/3) siang.

Tak hanya itu, jika sudah mendalami ajarannya, setiap hajatan upacara, maka secara niskala akan dibantu makhluk astral dalam menyiapkan sarana upakara.

“Kata kakek saya dahulu, kalau saat punya hajatan seperti tiga bulanan bapak saya, katanya tiba-tiba di belakang rumah sudah ada kayu bakar, babi, beras. Itu sudah dibawakan makhluk astral,” tuturnya, sembari menyebut kondisi lontar tetamian leluhurnya masih sangat bagus.

Dikatakannya, ada berapa jenis makhluk astral yang disebutkan dalam Lontar Ental Gadang. Dari lontar yang ia baca, secara umum disebutkan makhluk astral dengan sangat spesifik jumlahnya sampai puluhan jenis. Seperti Memedi, Tonya, Kreog, Kemangmang, Tangan-rangan, Gregek Tunggek, Bonang, Banas, Smangke, Gamang, dan lainnya. 

Mereka memiliki wilayah teritorial masing-masing. Sehingga tidak saling mengganggu satu sama lainnya. “Ada yang tinggal di sungai, jembatan, jurang, semak belukar, rumah tak berpenghuni, sampai di jalan-jalan. Dari tempat yang jarang dijangkau manusia sampai tempat yang sering dijangkau manusia,” tuturnya lagi.

Memedi misalnya. Makhluk halus ini tinggalnya di semak-semak, dibalik batu besar, pohon dan dekat dengan perkampungan manusia. Umumnya senang bermain dengan anak-anak kecil. 

Pada kebanyakan kasus menghilangnya anak kecil dan tidak pulang sampai larut malam, sering dipercaya disebabkan karena disembunyikan memedi. Cara menanggulanginya jika ada anak-anak yang hilang akibat diculik memedi, maka bisa dicari dengan membunyikan alat-alat dapur, agar bising.

“Bisa menggunakan pecanangan, dan memohon tirta di Kemulan agar dimudahkan proses pencariannya. Makanya kalau sudah kali tepet, sandi kala, anak-anak dilarang bermain di luar rumah. Sangat rentan diculik memedi. Biasanya anak yang diculik itu karena melik, atau punya tanda lahir tertentu, sehingga disenangi memedi,” akunya.

Lain Memedi, lain pula Tonya. Makhluk halus yang tinggal di sungai dan memiliki perawakan, bentuk tubuh, tingkah laku dan kehidupan yang nyaris sama dengan manusia. Mereka hidup berkelompok, masyarakat, dan juga memiliki desa yang nyaris sama dengan desa umumnya.

“Perbedaannya terletak pada desa dan penghuninya yang tidak kelihatan oleh mata telanjang. Satu satunya perbedaan paling nyata dari ciri ciri fisik antara Tonya dan manusia terletak pada lekukan kecil pada bibir atas (di bawah hidung), yang tidak ada pada bangsa Tonya,” imbuhnya.

Sedangkan Gamang disebutkan di Lontar Ental Gadang adalah makhluk halus yang tinggal di kali atau sungai yang lebih kecil. Berbeda dengan Tonya yang memiliki masyarakat, Gamang lebih sering hidup terpisah dan menyendiri. Bentuk fisiknya sedikit buruk, rambut tergerai, kotor dan awut-awutan.

Kemudian Gregek Tunggek ini digambarkan sama dengan sosok kuntilanak atau Sundel Bolong, yaitu sesosok perempuan dengan wajah menakutkan, rambut terurai panjang dengan busana putih kebanggaannya terurai. Makhluk ini biasanya menempati pohon, kuburan, rumah kosong, hutan. Bisa dibilang kalau Gregek Tunggek itu bahasa populer dikenal Kuntilanak dan Sundel Bolong.

Kemangmang merupakan makhluk halus berbentuk aneh, tidak memiliki badan, tangan dan kaki. Praktis cuma tersisa kepalanya saja.

Lain lagi dengan Smangke. Bisa dikatakan botong. Di Lontar Ental Gadang diuraikan seperti kurcaci. Tua dan pendek. Biasanya kalau ada orang tenggelam di sungai dan meninggal, hidungnya seperti terpotong, padahal tidak. Secara niskala itu dipotong, tapi terlihat seperti ada cekungan. “Memang di alam sana manusia yang tenggelam itu dijadikan sesajen,” imbuhnya.

Selain tentang mengupas jenis-jenis mahkluk astral, Lontar Ental Gadang juga disebutkan tentang mengatasi pamali. Atau memindahkan makhluk astral dengan menggunakan banten, mantram tertentu. 

Ia mencontohkan, jika ada orang yang sakit akibat kesambet di pohon bambu. Maka bisa ditebus dengan menggunakan tipat gong, telur ayam kampung yang dipanggang dan menggunakan tuak plus mantram sesontengan.

“Termasuk orang yang sembarangan menaruh barang-barang yang menimbulkan sakit atau pamali. Apalagi Hindu memiliki konsep bhuana agung-bhuana alit. Kadang kalau pamali bisa menggunakan tumpeng yang ditutup dengan daun, menggunakan bawang jahe, garam dan dihaturkan di bawah cacapan rumah (atap rumah),” bebernya.

Selain itu, jika ada rumah yang lama tidak dihuni manusia, biasanya berpotensi dihuni oleh banas, hingga smangke. Jro Panca menyebut cara menetralisasinya bisa dilakukan dengan menggunakan abu prapen (pande), garam, dan pamor bubuk, ditaburkan di areal rumah.

Dengan mengenal beragam jenis makhluk astral tersebut, diharapkan agar manusia lebih bijak. Tidak sembarangan merusak alam, menebang pohon, menaruh barang. Sebab, ada banyak makhluk lain yang juga berhak tinggal di sekitar manusia. “Memang kita diajarkan lebih bijak. Karena makhluk astral juga adalah ciptaan Tuhan,” pungkasnya. 

(bx/dik/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news