Selasa, 20 Apr 2021
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

PKHI Bali Keberatan Penyebutan Korban Penipuan Terkena Hipnotis

11 Maret 2021, 20: 31: 11 WIB | editor : I Putu Suyatra

PKHI Bali Keberatan Penyebutan Korban Penipuan Terkena Hipnotis

Anak Agung Lanang Ananda (ISTIMEWA)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Masih ingat kejadian penipuan di Tabanan yang diduga terkena hipnotis belum lama ini? Nampaknya hal itu disanggah oleh Perkumpulan Komunitas Hipnotis Indonesia (PKHI) Wilayah Bali yang menyatakan keberatan penyebutan korban penipuan tersebut terkena gendam atau hipnotis. 

Ketua PKHI Bali, Anak Agung Lanang Ananda yang dikonfirmasi masalah ini mengatakan, sangat tidak elok menyebut orang yang menjadi korban penipuan dengan profesi mulia dari anggota PKHI Bali.

Menurutnya, hipnotis adalah sebutan untuk para praktisi yang berbasiskan hypnosis seperti pengobatan, entertainer, motivator dan lain-lainnya. "Organisasi kami menaungi mereka yang berasal dari berbagai profesi seperti dokter, lawyer, akuntan, pengusaha dan banyak profesi lainnya. Bagi para praktisi kesehatan, mereka mengantongi ijin STPT dari pemerintah setempat. Sedangkan para pengajarnya diwajibkan mengantongi sertifikat dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi dari Negara," tegas Lanang Ananda, Kamis (10/3).

Baca juga: Antisipasi Penumpang Tercecer Saat Nyepi, Siagakan Satu Kapal

Bahkan sekarang ini di rumah sakit pemerintah sudah ada Poliklinik Hypnotherapy.  "Sangat ironis sekali menyebut korban kejahatan akibat dari keilmuan professional anggota kami," ujar Lan Ananda.

Dalam menyikapi berita di media tentang kejahatan yang menimpa seorang perempuan di Abian Tuwung Tabanan tersebut, Lan Ananda meyakininya sebagai sebuah kejahatan penipuan semata bukan hipnotis. Dia menambahkan tanpa bermaksud mengintervensi investigasi yang dilakukan pihak kepolisian tentang modus operandi, hypnosis tidak membutuhkan banyak orang untuk beraksi seperti yang dilakukan oleh pelaku yang diduga terdiri dari 5 orang.

Lelaki yang dikenal vokal sebagai salah satu tokoh olahraga beladiri ini menilai bahwa pemahaman masyarakat tentang Hypnosis atau Hypnotis jauh dari yang sesungguhnya. Karena referensi yang digunakan adalah tayangan hiburan yang menggunakan hypnosis yang mana adalah berdasarkan skenario alias bohongan untuk tujuan menghibur saja.

Master Hypnosis yang juga sebagai pengajar dari Indonesian Hypnosis Centre ini mengatakan bahwa aktifitas sehari-hari manusia adalah aktifitas hypnosis. Ia mencontohkan seseorang yang sedang menonton sinetron di TV sampai menangis atau marah-marah di depan TV adalah aktifitas hypnosis. Namun bila ada hal yang merugikan dirinya seperti orang asing yang masuk rumah, maka filter mental atau analisisnya akan segera bereaksi untuk menyikapinya seperti berteriak atau meminta tolong.

"Jadi menurut saya kejadian penipuan atau kejahatan di Tabanan lalu itu adalah murni penipuan entah dengan ancaman atau tidak," tandasnya.

(bx/dip/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news