Selasa, 20 Apr 2021
baliexpress
Home > Features
icon featured
Features

Pelanggar Prokes Disiapkan Kalung, Rencana Pengadaan Rompi Orange

28 Maret 2021, 18: 39: 16 WIB | editor : Nyoman Suarna

Pelanggar Prokes Disiapkan Kalung, Rencana Pengadaan Rompi Orange

BERKALUNG: Salah seorang pelanggar menggunakan kalung pelanggar protokol kesehatan. Ini dilakukan supaya ada efek jera bagi pelanggar. (istimewa)

Share this      

BANGLI, BALI EXPRESS- Taat protokol kesehatan (prokes) seperti rajin mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak dengan orang lain diyakini mampu mencegah penyebaran Covid-19. Namun, sekitar setahun terjadi pandemi Covid-19, masih saja ditemukan masyarakat, khususnya di Kabupaten Bangli tidak taat prokes. Apa yang dilakukan pemerintah setempat?

Pelanggaran prokes diketahui saat Tim Yustisi Kabupaten Bangli menggelar razia prokes. Hampir setiap hari Tim Yustisi yang terdiri dari Satpol PP, TNI, Polri dan pihak lainnya melakukan razia prokes di jalur-jalur utama, termasuk tempat lainnya. Salah satu sasarannya adalah penggunaan masker. Bagi yang ditemukan tidak menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah dikenakan sanksi penundaan pemberian pelayanan administratif sesuai kewenangan pemerintah daerah dan/atau denda administrative Rp 100 ribu. Sanksi itu tertuang dalam Peraturan Bupati Bangli Nomor 39 Tahun 2020.

Namun dalam penerapannya di lapangan, tidak semua pelanggar diberikan sanksi seperti itu. Tergantung situasi di lapangan. Sebab tidak sedikit pelanggar tidak membawa uang yang cukup untuk bayar denda. Sehingga diberikan sanksi lain, seperti hukuman fisik berupa push-up, sit-up, bahkan bersih-bersih di tempat-tempat yang telah ditentukan. Ternyata, sebagaimana disampaikan Kasat Pol PP dan Pemadam Kebakaran Kabupaten Bangli Dewa Agung Suryadarma, berbagai jenis sanksi itu tidak membuat semua pelanggar kapok. Ada yang dihukum malah ketawa-tawa. Terutama remaja yang bergerombol. “Kalau dikenakan denda, tidak sanggup bayar, tidak bawa uang. Nanti disuruh push-up, ketawa-tawa,” ungkap Suryadarma, Jumat (26/3). 

Baca juga: APV Ringsek Tabrak Pohon Perindang, Satu Keluarga Selamat

Menghadapi kondisi itu, petugas mencari cara agar sanksi mampu memberikan efek jera, sehingga tidak mengulangi perbuatannya. Salah satunya dengan membuat kalung pelanggaran prokes berbentuk name tag berisi tulisan Pelanggar Protokol Kesehatan Covid-19. Sejak beberapa hari lalu, sejumlah pelanggar prokes menggunakan kalung itu. Dipakai selama menjalani hukuman secara fisik. Suryadarma juga menegaskan, tidak semua pelanggar wajib menggunakan kalung itu. Tergantung karakter pelanggarnya.  Misalnya bersedia membayar denda, tidak wajib pakai kalung tersebut. “Teman-teman petugas di lapangan melihat karakter pelanggar,” tegas pejabat asal Susut ini.

Selain menyiapkan kalung prokes, Satpol PP juga berencana membeli rompi orange. Sama halnya dengan kalung, rompi ini disiapkan khusus untuk pelanggar yang tidak jera dengan hukuman yang diterapkan selama ini. Nantinya, pelanggar agar memakai rompi bak tahanan tindak pidana kejahatan. Di bagian belakang rompi akan berisi tulisan, menjelaskan bahwa yang menggunakan rompi itu melanggar prokes. Rompi dipakai selama menjalani hukuman di lokasi. “Kalau kami hanya suruh push-up, habis itu sudah, tidak ada malu. Tidak efek jera. Nanti push-up, bersih-bersih pakai rompi,” terangnya.

Disinggung soal jumlah pelanggaran, Suryadarma menegaskan bahwa jumlahnya memang sudah turun. Tetapi setiap dilakukan razia, ada saja terjaring karena tidak pakai masker. Alasannya klasik, seperti lupa dan keluar tak jauh dari rumah. Hal seperti itu tidak bisa dibiarkan. Tetap harus ditertibkan. Sebab seperti diakui Humas Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 I Wayan Dirgayusa, tidak taat prokes merupakan salah satu penyebab kasus belum bisa ditekan di Bumi Sejuk-sebutan Kabupaten Bangli.

(bx/wan/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news