Minggu, 18 Apr 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Dianugerahi Bhagawan Salukat, Pohon Beringin Wajib Hadirkan Kedamaian

29 Maret 2021, 08: 37: 12 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Dianugerahi Bhagawan Salukat, Pohon Beringin Wajib Hadirkan Kedamaian

RINDANG: Pohon Beringin yang tumbuh rindang di areal salah satu pura di Tabanan. Umat Hindu di Bali memberikan penghormatan kepada pohon Beringin dengan menghaturkan canang. (SURPA ADISASTRA/BALI EXPRESS)

Share this      

TABANAN, BALI EXPRESS-Beringin merupakan salah satu pohon yang dianggap tenget di Bali. Dari bentuknya, pohonnya yang tinggi besar dengan daun yang rindang menimbulkan kesan seram. Terlebih Beringin biasanya tumbuh di pura dan kuburan, akan kental dengan kisah mistis, yang menambah kesan makin angker. 

Dibalik kesan angker tersebut, ternyata bagian pohon Beringin sangat penting bagi umat Hindu. Daunnya diperlukan dalam upacara tertentu. Misalnya saat rangkaian upacara Pitra Yadnya. Demikian pula akar gantungnya bisa dimanfaatkan untuk obat. 

Di sisi lain, pohon Beringin juga menjadi salah satu bakalan bonsai yang cukup diminati. Selain perawatannya yang cukup mudah, Beringin mudah dibentuk, tumbuh cepat, serta menghasilkan kesan tua dari akar gantungnya.

Baca juga: Honda Matic Power Competition Seri Ketiga Makin Diminati 

Dalam buku Mitos-mitos Tanaman Upakara karya I Nyoman Miarta Putra, pohon Beringin merupakan salah satu pohon yang mendapat panugerahan. 

Dikisahkan dalam Siwa Gama, Bhagawan Salukat tengah melaksanakan Tirta Yatra. Suatu ketika beliau tiba di pesisir Negara Daha dan bertemu dengan sebatang pohon Waringin (Beringin) Pandak. Konon pohon Beringin tersebut berbicara kepada Bhagawan.

Si pohon kemudian menuturkan keadaannya yang tumbuh di tempat yang sunyi. Pun batangnya memprihatinkan, yakni sangat kurus. Tidak hanya itu, terkadang pohon Beringin juga menjadi makanan hewan. 

Pada kesempatan yang baik itu, Beringin kemudian memohon kepada sang pendeta agar dianugerahi peleburan dosa.

Menanggapi hal itu, Bhagawan Salukat tak keberatan memberi anugerah kepada Beringin. Bersamaan dengan itu, si pohon juga diwajibkan menjadi pohon yang menghadirkan kedamaian bagi dunia. Ia juga menjadi pelebur dosa, sebagai pelindung para dewa, dan tumbuh di tempat suci.

Berdasarkan sumber lain, pohon beringin konon sebagai salah satu tempat beristirahatnya Dewa Siwa sekaligus bertemu dengan Dewi Durga. 

Biasanya mereka ditemani iring-iringan Bidadara dan Bidadari serta para Pitara. Sehingga pohon yang menghasilkan getah ini dianggap suci.

Terkait hal itu, Jro Mangku Raka, tak menampik pentingnya keberadaan pohon Beringin bagi umat Hindu. Sebagai bentuk penghormatan dan pelestarian, batangnya kerap dibalut dengan kain poleng atau bermotif kotak-kotak. Hal ini menandakan pohon tersebut tak boleh sembarang diperlakukan oleh siapapun. 

“Pohon Beringin memang sering kita jumpai di Bali. Biasanya di areal pura, persimpangan jalan, kuburan, atau tempat-tempat tertentu lainnya,” ungkapnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), kemarin.

Diterangkannya, pohon Beringin sangat bermanfaat bagi kehidupan maupun kepentingan ritual umat Hindu di Bali. Pohon Beringin menjadi pohon perindang dengan daun lebat yang tentunya menghasilkan banyak oksigen. 

“Batang dan akarnya yang besar dan kokoh bisa mencegah abrasi, terutama di kawasan dengan kondisi tanah miring,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakannya, dalam ritual umat Hindu di Bali, juga menggunakan sarana berupa daun beringin. Salah satunya Pitra Yadnya. Sehingga ada istilah Ngangget Don Bingin, yakni mengambil daun Beringin dengan digaet menggunakan pisau.

Menariknya, daun yang diambil tersebut tak dibolehkan jatuh ke tanah. Sehingga di bagian bawahnya telah disediakan kain kasa untuk menampung. “Jadi, daunnya sebagai salah satu sarana upakara,” jelas pria 48 tahun ini.

Selain itu, bagian-bagian pohon Beringin, seperti daun, akar, serta kulit juga kadang digunakan sebagai bahan obat tradisional. Biasanya dipadukan atau dicampur dengan bahan lain agar memiliki khasiat tertentu.

Nah yang menarik adalah sebagai bakalan bonsai yang notabene merupakan hiasan taman. Penggunaan pohon Beringin sudah cukup lama digandrungi. Hanya saja, masih ada yang menganggap kurang baik, lantaran dianggap mengundang kehadiran makhluk halus.

Soal itu, Jro Mangku asal Tabanan ini enggan mengomentari lebih jauh. Namun, secara pribadi ia lebih melihat dampak dari pohon Beringin yang berpotensi tumbuh besar. 

“Kalau ukurannya kecil dan tak membahayakan, menurut saya tidak masalah. Yang berisiko adalah jika dibiarkan tumbuh besar di halaman rumah. Tentunya kurang bagus karena bisa membahayakan jika dahannya patah misalnya atau akarnya yang merusak bangunan,” katanya.

Menurutnya tak hanya Beringin, pohon apapun yang dibiarkan tumbuh besar di halaman rumah, apalagi dahannya menjulur di atas genteng, maka kurang baik. 

Demikian pula akarnya lama kelamaan merusak bangunan yang juga membahayakan penghuni rumah. “Soal konon suka dihuni makhluk halus, mungkin karena selama ini Beringin biasa tumbuh di pura atau kuburan. Sehingga masyarakat menganggap demikian,” tandasnya. 

(bx/adi/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news