Minggu, 18 Apr 2021
baliexpress
Home > Bisnis
icon featured
Bisnis
Jejak Bisnis Putra Presiden di Bali (2)

Outlet Sang Pisang di Denpasar Masih Kokoh, Pegawai Dirumahkan

30 Maret 2021, 08: 15: 21 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Outlet Sang Pisang di Denpasar Masih Kokoh, Pegawai Dirumahkan

BERTAHAN : Outlet Sang Pisang milik Kaesang Pangarep masih kokoh bertahan di Denpasar (Agung Bayu/Bali Express)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS — Beda halnya dengan usaha Martabak manis Gibran Rakabumi Raka di Bali yang sudah tutup, outlet Sang Pisang milik Kaesang Pangarep masih kokoh bertahan. Dengan ciri khas pisang warna kuning, tempatnya berdiri di tengah-tengah usaha asuransi dan usaha kain. 

Terpampang wajah Kaesang beserta tulisan Sang Pisang by Kaesang di papan nama yang tertaut di bagian atas ruko. Seperti halnya outlet biasa, di depan terpajang sejumlah banner yang memuat promo yang berlaku dan menu-menu andalan mereka.

Tim Bali Express (Jawa Pos Group) mencoba masuk ke dalam dan memesan salah satu menu andalan. Di dalam, konsumen disuguhkan, sekali lagi, dengan banner promo dan menu. Tersedia tiga kursi plastik untuk menunggu pesanan. Tidak ada meja untuk makan di tempat. 

Baca juga: Usai Pitbull, Ajus Ciptakan Nagabanda, Karya Dipesan Menteri

Di meja kasir, terpajang sejumlah daftar menu beserta harga. Saat itu, hanya satu pegawai yang bertugas. Kendati sendirian, pesanan terselesaikan tidak lebih dari 15 menit.

Sebelumnya, Sang Pisang sendiri, merupakan outlet camilan kekinian dengan menu andalannya, naget. Sesuai dengan namanya, bahan utama dari naget tersebut yakni pisang. Teksturnya pun menyerupai naget, hanya saja naget satu ini terasa manis dengan berbagai pilihan rasa dan topping. Mulai dari tiramisu, green tea, vanilla, cokelat, oreo, keju, taro, dan avocado. 

Selain naget, Sang Pisang juga menyediakan banroll atau banana roll dengan varian rasa yang sama. Seporsi Sang Pisang dibanderol mulai dari Rp 20 ribu untuk camilan dan mulai dari Rp 8 ribu untuk minuman.

Sang Pisang yang beralamat di Ruko Graha Merdeka Unit C, Jalan Merdeka Renon, Denpasar ini, buka pada pukul 11.00 - 19.00 Wita sejak pandemi. Sebelum pandemi, buka dari pukul 11.00 - 22 Wita. 

Outlet ini pun menjadi outlet ke-16 Sang Pisang dan menjadi satu-satunya outlet yang dibuka di Bali hingga saat ini.

Berdasarkan pantauan di lokasi, dalam waktu satu jam, setidaknya ada dua hingga tiga konsumen yang datang. Karena berada di daerah yang ramai lalu-lalang, tidak sedikit masyarakat yang melintas menengok sebentar ke arah outlet.

Ditemui sedang asyik nongkrong di samping outlet, salah satu ojek online (ojol) mengaku pernah menerima pesanan Sang Pisang. Meski tidak setiap hari, dalam seminggunya dia mengatakan pernah saja menerima pesanan Sang Pisang. “Tidak setiap hari, seminggu ada, tapi tidak selalu. Untuk jenis camilan ini, selama ini hanya dapat pesanan dari Sang Pisang, tidak tahu yang lain,” katanya, Minggu (28/3). 

Ojol yang hanya menyebut namanya Ketut ini, cukup sering mangkal di samping Sang Pisang, konsumen yang datang juga  terbilang lumayan. “Kadang saya tidak terlalu memerhatikan, tapi ada saja seharinya yang beli,” ungkapnya.

Terakhir dirinya menerima pesanan untuk Sang Pisang tiga hari lalu. Kendati mangkal tepat di sampingnya, tak lantas membuat dia sering menerima orderan Sang Pisang. Menariknya, Ketut justru mengaku tidak benar-benar tahu siapa pemilik Sang Pisang. “Saya masih bingung siapa yang punya, Kaesang atau Gibran,” kata dia diselingi tawa.

Mangkal di lokasi yang sama, salah seirang penjual bakpao mengungkapkan bahwa Sang Pisang dahulunya pernah ramai pembeli. Namun, kondisi tersebut jauh sebelum pandemi Covid-19. 

“Dahulu sebelum pandemi Covid-19 ramai, pas baru-baru buka sampai tidak bisa meladeni. Antriannya sampai keluar. Sekarang mungkin karena pandemi jadi menurun. Ada saja, tapi tidak banyak, pegawainya kebanyakan nganggur saya lihat. Saya sendiri belum pernah beli. Penasaran sih, tapi lumayan harganya,” katanya.

Pria asal Karangasem itu menyebutkan, sebelum pandemi Covid-19 setidaknya ada 10 pegawai yang dipekerjakan. Namun, saat ini dia hanya melihat 3 pegawai saja. “Sepertinya sisanya dirumahkan. Salah satunya yang dirumahkan jadi ojol juga, kadang-kadang kalau mangkal di sini pasti mampir ke dalam,” beber Wayan. 

"Saya sempat berhenti jualan di sini. Dulu waktu saya memulai jualan di sini, Sang Pisang belum ada. Lalu saya berhenti sekitar tiga tahunan, kemudian jualan lagi, sudah ada Sang Pisang,” tambahnya.

Selama setahun dia kembali berjualan, tak pernah sekalipun Wayan melihat Kaesang datang ke outlet. Menurut yang dia dengar, Kaesang hanya datang sekali saat grand opening. “Saya tidak pernah lihat Kaesang ke sini. Yang saya dengar, Kaesang datang sekali saja waktu pembukaan pertama outletnya. Selama jualan saya nggak pernah,” terang dia.

Disinggung apakah dia mengetahui bisnis putra sulung Presiden, Wayan justru bertanya balik. “Sebelumnya saya tidak tahu kalau Sang Pisang punya anak Presiden. Saya tidak tahu kalau Gibran punya usaha juga. Saya tahunya Sang Pisang saja,” akunya.

Sementara itu, salah satu pembeli, Santhi Paramitha, mengaku membeli Sang Pisang karena rasa penasarannya. Awalnya, dia datang ke outlet untuk memenuhi titipan iparnya yang sedang hamil. Sesampainya di outlet, dia pun ikut memesan untuk dirinya sendiri. 

“Saya baru coba beli ini, baru pertama kali. Lagi pengen ngemil dan kebetulan ipar senang sama Sang Pisang, sampai ngidamnya juga ngidam Sang Pisang. Saya sendiri jarang ngemil, ipar saya yang memang sudah langganan di sini. Seminggu dua kali pasti dapat beli, apalagi sekarang ipar saya sedang hamil jadi lebih sering beli,” jelasnya.

Di Sang Pisang, Santhi memesan tiga jenis naget dengan rasa cokelat keju, greentea, dan tiramisu. “Andalannya memang greentea, ipar saya suka yang green tea,” kata perempuan yang mengaku bekerja sebagai perawat di salah satu rumah sakit swasta tersebut.

Menurutnya, nama Kaesang cukup memberi pengaruh terhadap penjualan. Lantaran, dia sendiri datang karena penasaran. “Makanya saya ke sini mau coba juga karena penasaran. Awalnya saya suka sama profilenya Kaesang dan Gibran juga, jadi saya coba ke sini. Dari segi namanya juga menarik,” tuturnya.

Alasan ketertarikannya, karena Kaesang dinilai sebagai orang yang sederhana. Kaesang, menurutnya, tak berpangku tangan kepada orang tuanya dan memilih membuka usaha sendiri.

 “Kaesang orang berada, tapi dia low profile. Dari cara bicaranya sopan, saya suka. Padahal bapaknya seorang presiden, tapi dia mau buka usaha sendiri dan itu memotivasi. Dia tidak berpangku tangan kepada orangtuanya. Dia kaya, tidak kekurangan apa, tapi masih mau buka usaha sendiri. Usahanya juga tidak terlalu mewah kalau menurut saya, jualan jajanan pisang seperti ini,” papar perempuan asal Negara itu.

Meski sempat viral lantaran masalah hubungan asmaranya yang diangkat ke publik, Santhi mengungkapkan penilaiannya terhadap sosok Kaesang tidak berubah. “Saya sendiri tidak menghiraukan itu. Menurut saya itu urusan pribadi seseorang. Jadi tidak mengubah pandangan saya kepada sosok Kaesang. Setiap orang kan memiliki pendapatnya sendiri,” kata dia.(ika-tamat)

(bx/aim/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news