Minggu, 18 Apr 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Tinggalkan Nirayana, Panglantaka Prediksi Purnama - Tilem 100 Tahun

30 Maret 2021, 10: 32: 19 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Tinggalkan Nirayana, Panglantaka Prediksi Purnama - Tilem 100 Tahun

KALENDER: Bentuk kalender tahun 2021 (kiri) yang disusun I Gede Marayana. (Putu Mardika/Bali Express)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Panglantaka dalam sistem penanggalan Bali yang dipakai untuk menghitung jatuhnya rahina Purnama-Tilem mampu memprediksi jatuhnya Purnama Tilem hingga 100 tahun mendatang. Perhitungan Panglantaka juga kerap digunakan dalam ritual keagamaan, pernikahan, pertanian, pembangunan hingga terkait maritim.

Penyusun Kalender Bali I Gede Marayana, 72, mengatakan, Panglantaka dijadikan sebagai acuan atau dasar penetapan Purnama dan Tilem yang tercantum dalam Kalender Bali. Perhitungan ini sebagai parameter atau pedoman untuk menentukan hari baik dan buruk. 

Ketertarikan Marayana mendalami Ilmu Wariga pun bukanlah tanpa alasan. Ia menceritakan, semua berawal saat perayaan Eka Dasar Rudra di Besakih yang jatuh setiap 100 tahun sekali.

Baca juga: Usadha Babahi (7) : Ambil Coblong Air di Kuburan

“Namanya upacara Eka Dasa Rudra yang dilaksanakan setiap 100 tahun sekali. Saya tambah tertarik lagi untuk mengkaji wariga itu, bagaimana menentukan upacara 100 tahun itu jatuh pada hari dan tanggal berapa. Mulai dari situ saya ingin mengkaji lebih dalam,” ujarnya.

Sejauh ini sistematika penyusunan Kalender Bali dalam penentuan sasih mengacu pada 3 unsur. Yakni surya (matahari), candra (bulan) dan bintang (rasi bintang). Bahkan penentuan sasih kasa (pertama) ditentukan setelah terbitnya bintang kartika (uluku). 

Penghitungan Panglantaka tak hanya sistematis menggunakan sasih, wuku dan wewaran, tetapi juga ditemukannya rumus sangat matematis. 

Tahun Surya, sebut Marayana, merupakan pola kalender yang perhitungannya berdasarkan pada jangka waktu peredaran bumi mengelilingi matahari kurang lebih selama 365 hari yang kemudian disebut satu tahun Surya.

Tahun Candra merupakan pola kalender yang perhitungannya berdasarkan jangka waktu bulan mengelilingi matahari selama kurang lebih 29 hari, yang disebut satu bulan dan satu tahun Candra berumur 12 bulan.

Sedangkan tahun wuku hanya berperdoman dengan daur hari yang disebut wuku. Umur satu tahun wuku adalah 420 hari. Selain itu, pola hari dalam Kalender Bali juga menerapkan sistem Aritmatika, yakni berupa deret dan perulangan.

Dikatakan Marayana, kalender dengan penangggalan Bali pertama yang diterbitkan Parisada Hindu Bali pada tahun 1959, yang menyatukan sistem penghitungan Purnama-Tilem antara Bali Utara dan Bali Selatan. 

Hal itupun, diakui Marayana, disempurnakan pada tahun 1963, 1971 hingga 1979 saat pelaksanaan Eka Dasa Rudra.

Lalu pada tahun 1990, PHDI Bali membentuk tim pengkaji wariga, yang kemudian menemukan Ilmu Kalender Nirayana yang berlaku di India. 

Ilmu penanggalan Nirayana ini pun resmi diberlakukan pada tahun 1991 mengganti sistem Panglantaka Eka Sungsang yang sebelumnya dipakai. Pergolakan penanggalan Bali di intern terus terjadi hingga penggunaan sistem Nirayana menemukan kerancuan rumus pada tahun 1994.

Selanjutnya, di tahun 1996, sistem Nirayana yang dinilai rancu diseminarkan oleh Marayana dengan menggandeng akademisi. Kemudian tahun 1998 ada inisiatif mengubah sistem Panglantaka Nirayana oleh tokoh adat di Bali untuk disempurnakan kembali.

Paruman sulinggih saat itu digelar pada 25 Juli 1998 dengan agenda penyempurnaan Panglantaka. Saat itu pun para tokoh di Bali sempat ingin menggantikan sistem Panglantaka dari Eka Sungsang menjadi sistem Tri Lingga. 

Penyempuranaan yang dilakukan tahun ini melihat perayaan Hari Raya Nyepi pada tahun 1993-1998 dengan sistem Nirayana ditemukan kerancuan.

Dimana, jatuhnya Tilem Kasanga berubah dari biasanya bulan Maret (penanggalan Eka Sungsang) bergeser ke bulan April (Nirayana). 

Dampaknya, pada tahun 2001 silam, yakni terjadi masalah pesasihan dua kali Tilem Katiga dan dua kali Purnama Kapat.

“Tanggal 25 Juli 1998, Paruman Sulinggih PHDI Besakih memutuskan untuk menerapkan sistem Panglantaka Eka Sungsang ke Paing. Tahun 2001, Paruman Sulinggih PHDI Pusat/Bali kembali membahas sistematika Kalender Bali,” ujar pria asal Desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng ini.

Dalam kajian itu pun dia mendapatkan kesamaan dalam sejarah penyusunan kalender memiliki empat aspek, yakni unsur perhitungan, sistematis, geografis dan religius unsur padewasaan. 

Ternyata dalam kajiannya, sistem Nirayana dengan sistem penanggalan Bali memiliki unsur berbeda pada aspek geografisnya.

Lanjut Marayana, tolok ukur pencarian Tilem yang didasari bajeging surya (matahari tepat berada di atas garis khatulistiwa) secara nasional di Indonesia terjadi pada bulan Maret. Sedangkan di India di waktu yang bersamaan, posisi matahari atas garis khatulistiwa sudah condong 5 derajat, sehingga penentuan hari raya Tilemnya jatuh pada bulan April.

Paruman Sulinggih 2001 dengan hasil kajian Marayana akhirnya memberlakukan kembali sistem kalender Bali dengan sistem Panglantaka Eka Sungsang hingga saat ini. 

Menurutnya, sistem Kalender Bali punya pakem wuku pedewasaan.vAtas perhitungan Panglantaka yang telah dipatenkan Kemendikbud RI sebagai Warisan Budaya Tak Benda ini, pemerintah dan desa adat bisa menyatu dalam pelaksanaan upacara keagamaan. 

“Saya juga berharap jangan sampai kalender itu dikaji dengan tolok ukur luar Bali. Bila perlu penetapan Nyepi diperdakan sistematika kalender Bali,” tegas dia.

Terlebih, dengan menerapkan sistem Panglantaka dalam wariga, Marayana yakin jatuhnya Purnama dan Tilem bisa diprediksi hingga 100 tahun mendatang. “Panglantaka ini sifatnya matematis, sistematis, geografis, dan religius sebagai acuan utama bagi masyarakat Bali dalam menentukan hari baik,” pungkasnya. 

(bx/dik/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news