Minggu, 18 Apr 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Digelar Setiap Lima Tahun, Masakapan Simbol Sucikan Prajuru Adat

01 April 2021, 06: 43: 44 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Digelar Setiap Lima Tahun, Masakapan Simbol Sucikan Prajuru Adat

TRADISI: Prajuru adat saat melaksanakan tradisi Masakapan di Pura Bale Agung dan di Pura Beji, Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Selasa (30/3).  (Putu Mardika/Bali Express)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS -Sebagai desa tua, Desa Bengkala di Kabupaten Buleleng menyimpan banyak tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satunya tradisi Masakapan. Tradisi ini khusus bagi prajuru adat yang digelar setiap lima tahun sekali, tepatnya setelah Purnama sasih kadasa.

Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group), Selasa (30/2), sejumlah prajuru adat yang terdiri dari Jro Bau, Jero Mangku di Pura Bantes, Jero Mangku di Pura Lebah Suwung, dan prajuru adat lainnya memulai prosesi Masakapan di Pura Bale Agung, Desa Bengkala sekira pukul 16.00 Wita. Setiap prajuru adat didampingi langsung istrinya masing-masing.

Jika dilihat dari segi usia, rata-rata prajuru adat ini berusia di atas 40 tahun. Mereka sudah ngayah di desa sebagai prajuru adat sejak bertahun-tahun. Meski usia tergolong sudah tua, namun semangatnya ngayah untuk melayani krama layak diapresiasi.

Baca juga: Terus Kena Gusur, Komisi II Tinjau Lokasi Pedagang di Nyanyi

Digelar Setiap Lima Tahun, Masakapan Simbol Sucikan Prajuru Adat

MASAKAPAN : Panyarikan Desa Adat Bengkala, Ketut Darpa. Masasapan ke Pura Beji, selanjutnya pakaian dibuang ke sungai, sebagai simbol penyucian dan mengubah status prajuru adat. (Putu Mardika/Bali Express)

Pamangku yang memimpin acara inipun terlihat Ngalukat prajuru adat  menggunakan sarana kukusan (anyaman bambu berwujud kerucut). Proses Malukat ini dilakukan secara merata kepada seluruh prajuru adat serta istrinya. Prosesi ini juga menggunakan sejumlah banten yang diletakkan persis di depan prajuru adat.

Setelah melaksanakan prosesi persembahyangan di Pura Bale Agung, prajuru adat yang dipimpin pamangku langsung bergerak menuju Pura Beji. Lokasinya persis di pinggir Tukad Aya, Desa Bengkala.

Sesampainya di pura, prajuru adat selanjutnya melakukan upacara Masasapan atau penyucian di Tukad Aya, di Dusun Kelodan. Mereka kemudian mandi di sungai sembari membuang pakaian yang digunakan sebagai simbol membuang kekotoran. 

Seusai melakukan penyucian, prajuru kembali menggunakan pakaian yang baru. Setelah itu barulah dilanjutkan dengan upacara Padapetan.

Panyarikan Desa Adat Bengkala, Ketut Darpa yang juga sebagai peserta tradisi Masakapan mengatakan, tradisi ini dilaksanakan setiap lima tahun sekali. Tepatnya mengacu pada tahun saka, atau sehari setelah Purnama Sasih Kadasa.

Dikatakan Darpa, pelaksanaan tradisi Masakapan memang mengacu pada dua sumber. Yakni Desa Mawacara yang sumbernya awig-awig Desa Adat Bengkala dan Bali Mawacara yang bersumber dari Perda Nomor 4 Tahun 2019.

Jika merujuk pada Bali Mawacara, jatuhnya pangelong apisan diperingati sehari setelah Purnama Kadasa. “Jadi pelaksanaan tradisi Masakapan ini adalah sebagai bentuk prosesi penyucian para prajuru adat di Bengkala yang dilaksanakan setiap lima tahun sekali, tepatnya sehari setelah Purnama Kadasa,” ujarnya.

Pelaksanaan tradisi ini, sebut Darpa, juga merujuk pada sebuah sejarah yang kini diyakini masyarakat setempat. Menurut Balai Arkeologi, di Desa Bengkala memiliki Selonding Tunggal yang keberadaannya diduga erat kaitanya dengan zaman Singamandawa.

Selonding inilah, sebut Darpa, digunakan untuk melantik dan menyumpah pejabat di Bali. “Selonding ini sampai kami kejar di Samarinda (Kalimantan Timur). Oleh Tim Epigrafi di Balar, patut diduga di Bengkala dijadikan tempat penyumpahan pejabat di Bali. Itu berlanjut sampai sekarang,” ujarnya.

Ditambahkan Darpa, prosesi Masakapan selalu dimulai dari Pura Bale Agung. Kemudian dilanjutkan dengan Masasapan ke Pura Beji. Pakaian yang dibuang ke sungai, sebut Darpa, sebagai simbol penyucian dan mengubah status prajuru adat.

“Baju, kamen, apapun itu wajib dibuang di sungai. Setelah itu kami mandi, ini bentuk penyucian prajuru adat,” imbuhnya.

Secara stuktur, prajuru adat di Desa Bengkala tergolong unik. Sebab, di desa ini terdapat Paduluan Desa yang diklaim sebagai salah satu ciri sebagai desa tua. Cirinya, ini terdiri dari Jero Kubayan Muncuk dan Jero Kubayan Alitan.  

Ada pula prajuru adat yang disebut Jero Bau. Jenisnya ada dua, yakni Jero Bau Tengen dan Jero Bau Kiwa. Jero Bau Tengen ini adalah bendahara dan Jero Bau Kiwa ini adalah sekretarisnya.

“Mereka (prajuru) ini sudah teruji kompetensinya. Sehingga disebut kelih. Baik dari sisi kompetensi dan pengalamannya. Makanya disebut kelih. Nah, kalau Paduluan Desa ini adalah kelompok yang pertama menggelar tata etika atau upacara. Tanpa mereka, maka tidak bisa jalan,” papar Darpa.

Setelah melaksanakan upacara Masasapan, prajuru adat tersebut kemudian kembali lagi ke Pura Bale Agung. Prajuru adat ini wajib melaksanakan persembahyangan di Pura Agung selama tiga hari kedepan. “Persembahyangan itu full pagi dan sore sampai 3 April mendatang,” pungkasnya. 

(bx/dik/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news